
Anggota Polres Karanganyar memberikan pengarahan kepada Mapala UII setelah kejadian dua mahasiswa meninggal, Jumat (20/1).
JawaPos.com – Pendidikan Pelatihan Dasar (Diksar) mahasiswa pecinta alam (mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta di kamp Pranten, Tlogodringo, Desa Gondosuli, Tawangmangu, berujung duka. Dua mahasiswa peserta diksar meninggal dunia. Mereka adalah Syaits Asyam, 19, dan Muhammad Fadli, 20, keduanya tercatat sebagai mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan 2015 UII Jogjakarta.
Awalnya, penyebab kematian disebut-sebut karena keduanya mengalami hipotermia atau kedinginan. Namun pihak keluarga curiga, Syaits meninggal karena dianiaya. Sebab ditemukan sejumlah luka memar di beberapa bagian tubuhnya.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Karanganyar, diksar diikuti sekitar 38 mahasiswa. Mereka berangkat dari Jogja sejak Rabu (11/1) dan kegiatan dijadwalkan berakhir Minggu (22/1).
Pada Jumat (20/1), turun hujan. Pakaian yang dikenakan Fadli basah kuyup dan segera berganti dengan pakaian kering. Tapi dingin tak kunjung hilang. Warga Tamansari hijau, Gang 04, Nomor 1RT 01 Rw 03, Tiban Baru, Sekupang, Batam, Kepulauan Riau itu tetap menggigil kedinginan. Dia kemudian dilarikan ke Puskesmas Tawangmangu. Namun sayang nyawanya tak tertolong.
Sehari kemudian Sabtu (21/1), giliran Syaits Asyam, warga Dusun Jetis, Kelurahan Caturharjo, Kecamatan/Kabupaten Sleman, meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda, Jogjakarta. ”Korban mengeluh kedinginan. Rekan-rekannya mencoba memberikan pertolongan, namun ketika dibawa ke puskesmas, nyawa korban tidak tertolong,” ujar Kapolsek Tawangmangu AKP Riyanto kemarin (22/1).
Dijelaskan, lokasi diksar termasuk daerah berhawa dingin. Tempat itu juga kerap digunakan berlatih anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus). ”Kami patroli ke Cemoro Kandang dan lokasi diksar. Cuaca di lokasi sering hujan dan ekstrem. Kalau hujan mendadak dingin sekali sampai menggigil,” jelas Riyanto.
Hingga kemarin, masih ada sekelompok mahasiswa Amikom, Jogjakarta melakukan kegiatan di kamp Pranten hingga Kamis (26/1). Kapolsek mengimbau agar mereka tidak terlalu lama menggelar aktivitas di lokasi itu selama cuaca ekstrem. Meskipun sudah mengantongi surat izin resmi.
Ketua Komunitas Anak Gunung Lawu (AGL) Rusdianto Teplok menambahkan, cuaca di wilayah Gunung Lawu masih hujan dan angin. ”Sebenarnya suhu saat musim hujan tidak sedingin pas musim panas. Cuma kalau kondisi hujan, pendaki mudah terforsir tenaganya. Dalam keadaan pakaian basah terkena air hujan, ditambah aktivitas fisik, mudah drop,” urainya.
Dia menegaskan, faktor kedinginan tidak hanya dipengaruhi oleh suhu, tapi juga kondisi fisik pendaki. ”Kalau di wilayah Tlogodringo suhunya masih aman untuk pendaki. Kasus semacam (hipotermia, Red), tidak hanya karena suhu, bisa kondisi fisik, tekanan, dan hujan,” katanya.
Terpisah, paman Syaits Asyam, Seno Aji, 49, menuturkan, keponakannya dibawa ke RS Bethesda Sabtu pagi (21/1). ”Waktu saya datang masih terpasang alat bantu pernapasan,” ujar Seno di rumah duka kemarin(22/1).
Seno menuturkan, ada kejanggalan dari kematian keponakannya. Di antaranya ditemukan banyak luka memar di tubuh Asyam. Mulai dari bawah selangkang kanan, punggung, hingga lecet di kedua tangan. Atas dasar ini pula, ayah Asyam, Abdullah meminta dilakukan otopsi di RSUP dr. Sardjito.
”Kalau kata teman saya, lukanya seperti sabetan rotan, karena cirinya sama. Itu pun seperti luka empat harian. Kuku jempol kedua kakinya juga copot,” ujar Seno.
Hingga siang kemarin, imbuh Seno, belum ada konfirmasi dari pihak Mapala UII. Ketua Mapala UII maupun penyelenggara diksar belum menemui keluarga.
”Padahal rektor UII datang ke sini (rumah duka, Red) Sabtu malam. Cuma dari mapala memang belum menemui saya. Itu pun pak rektor sempat berujar tidak mengetahui ada agenda itu (diksar mapala),” tegas Seno.
Ibu Asyam, Handayani sangat kehilangan anak semata wayangnya itu. ”Kemarin lihat di TV ada kekerasan yang dilakukan senior di sebuah sekolah. Lha kok malah menimpa anak saya,” terangnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
