Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Januari 2017 | 23.10 WIB

Lebih Dekat dengan Ladies Pacer Surabaya

KOMPAK: Para ladies pacer Surabaya. - Image

KOMPAK: Para ladies pacer Surabaya.


Menjadi pacer atau pedoman waktu bagi para pelari saat race bukanlah hal yang mudah. Dituntut berlari dengan kecepatan konstan. Tidak boleh terlalu cepat atau sebaliknya. Berikut pengalaman ladies pacer yang menjadi langganan setiap race di Surabaya?



--



KEHADIRAN pacer dalam sebuah race sangat membantu para pelari. Terutama pelari pemula. Misalnya saat race half-marathon (HM), kita bisa memilih waktu finis sesuai kemampuan. Mau finis dengan waktu 2 jam, berarti harus mengikuti pacer 120 menit. Atau mau menyelesaikan race dalam waktu 1 jam 30 menit, berarti harus ngintil pacer 90 menit. Untuk pelari HM dengan kemampuan finis di atas 2 jam 30 menit, biasanya sudah tidak disediakan pacer.



Pacer juga berfungsi memberikan ”suntikan energi” bagi para runner. Biasanya, pelari pria akan lebih bersemangat kalau pacer-nya cantik dan seksi. Begitu juga runner perempuan, akan lebih terpacu saat mengikuti pacer yang rupawan dan atletis. Karena itulah, meski rata-rata sudah mengenakan sport watch, pelari tetap menginginkan kehadiran pacer. Tanpa pacer, sebuah race bagai sayur tanpa garam.



Martha Benita, anggota League Running Buddies (LRB), merasa bangga karena bisa mendapat kepercayaan menjadi pacer. Dia bertugas sebagai leader yang membimbing para pelari hingga dapat finis dengan target waktu masing-masing.



Terhitung sudah empat kali Martha dan rekan-rekannya di LRB berperan sebagai pacer dalam race. Empat race itu adalah Pre-event League Grip The Road 10K, League Grip The Road 10K, Pre-event Jawa Pos Fit East Java Half-Marathon 2016 single kategori 10K, dan Jawa Pos Fit East Java Half-Marathon 2016 kategori 21K. ’’Kalau pelari yang ikut kami mencapai target waktunya, itu jadi kepuasan tersendiri,” ucap Martha.



Menurut dia, menjadi pacer berarti mengemban tanggung jawab besar. Pacer harus berkomitmen menjalani latihan lebih giat dan lebih keras daripada peserta atau runner lain.



Setelah race, dara yang berprofesi sebagai desainer grafis tersebut beberapa kali mendapat ucapan terima kasih karena pelari yang mengikutinya mendapat personal best. ’’Selain itu, banyak yang mention di medsos. Juga chatting di WhatsApp,’’ tambahnya.



Dibutuhkan tempo lari yang konstan agar pace tak terlalu cepat atau terlalu lambat di awal. Karena itu, dia selalu menggunakan sport watch untuk mengontrol pace. Sesekali Martha yang biasa berlari di pace 6 (6 menit per kilometer) melirik jam tangan bila sudah merasa keluar pace. Termasuk saat harus minum di water station, dia mesti pintar mengatur agar waktunya pas.



Namun, tak berarti tugasnya selalu berjalan mulus. Pernah dia menerima komplain dari peserta karena pace-nya dinilai terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Juga, hal tersebut kadang membuat dia serbasalah.



Vonny Tenri, rekan Martha di LRB, juga bangga bila pelari yang mengikutinya merasa terbantu. Dalam pengalamannya sebagai pacer di ajang Jawa Pos Fit East Java Half-Marathon pada 6 November lalu, papar Vonny, awalnya banyak runner yang mengikutinya menyusuri trek sepanjang 21,0975 kilometer tersebut. ”Tapi, terakhir-terakhirnya mrotholi. Yang konstan full mengikuti saya sampai garis finis tinggal dua orang,” tutur Vonny.



Pernah juga Vonny menjadi pacer secara tidak sengaja. Tepatnya di ajang Bali Marathon 2016. Dia kala itu bukanlah pacer. Hanya peserta biasa. Saat itu ada peserta yang mengikutinya hingga garis finis. ”Pas finis, ada bapak-bapak yang bilang, ’Mbak, makasih ya. Kalau nggak lihat Mbak tadi, aku pasti berhenti di jalan,’” katanya.



Hal yang sama terjadi saat dia berlari di acara Surabaya Pahlawan 10K 2014. Saat itu ada peserta remaja yang mengikutinya hingga finis. Peserta tersebut, lanjut Vonny, sudah hampir pingsan di tengah-tengah race. Padahal, tim medis dan ambulans masih jauh.



”Pas finis, dia bilang, ’Seandainya tadi nggak lihat Tante, aku pasti nggak finis.’ Saya sampai update status di medsos tentang kejadian itu,’’ katanya, lantas tertawa.



Kapten tim LRB Fitri Ismiyanti mengatakan, partisipasi LRB sebagai pacer di ajang Jawa Pos Fit East Java Half-Marathon 2016 merupakan kali pertama untuk jarak tempuh 21K. Menurut dia, penunjukan LRB sebagai pacer saat itu cukup mendadak. Hanya tiga minggu sebelum hari H.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore