
Perahu Pinisi berlabu di perairan Makassar, beberapa waktu lalu.
HAJI ARWIN hanya bisa merenungi “kekalahannya”. Salah seorang pengusaha kapal di Tana Beru ini, mengakui kejayaannya sudah berakhir dalam tujuh tahun terakhir. Kedatangan orang-orang asing, membuat bisnisnya sulit berkembang. Dia kalah modal. Untuk penggunaan tenaga kerja lokal misalnya. Dia hanya sanggup membayar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Sementara para “juragan asing” mampu membayar hingga Rp150 ribu per hari. Para pekerja pun meninggalkan Haji Arwin.
“Bukan hanya itu. Penjualan kami juga semakin sepi. Mereka unggul jaringan karena pembeli mayoritas orang asing. Kami kalah bahasa. Jika ada pesanan kapal, orang asing itu yang lebih dahulu mendapatkannya.Akibatnya, kami hanya bisa mengerjakan kapal kecil,” keluhnya.
Kondisi ini diperparah kurangnya pengawasan pemerintah. Semua orang tahu aktivitas para turis asing di Bulukumba. Tetapi tak ada yang bisa mencegahnya. Mereka diperlakukan sama dengan warga lokal. Bisa leluasa keluar masuk hutan untuk mencari kayu.
“Ini hanya soal waktu. Mereka datang mempelajari cara membuat pinisi. Ilmu yang diperoleh secara turun temurun akan hilang. Semua akan dibawa pergi,” ungkapnya.
Terbukti, sejak lima tahun terakhir ini, sudah puluhan warga setempat dibawa ke Kalimantan untuk membuat kapal di sana. Bahkan, dalam waktu dekat ini, sedikitnya ada lima warga yang akan dibawa ke Thailand untuk membuat kapal.
Pengusaha kapal lainnya, H Ariawan, bahkan sudah kehilangan kesabaran. Jika para bule itu tak ditegasi, dia punya cara sendiri. Mengusir paksa orang asing ini yang begitu leluasa tanpa pengawasan.
“Inikan tidak masuk akal. Orang asing dibiarkan bebas di negara kita. Mereka begitu mudahnya masuk hutan mengambil kayu. Apa bedanya dengan kami pribumi?”
Pemerintah memang harus segera bersikap. Haji Arwin dan Haji Ariawan adalah bagian dari 70 persen masyarakat Tana Beru yang menggantungkan hidup pada pembuatan kapal tradisional. Mereka pula benteng terakhir dari sebuah tradisi yang sudah turun-temurun.
Jafar, warga Tana Lemo yang juga pemerhati masalah budaya, khawatir ilmu untuk membuat pinisi akan segera lenyap. Menurutnya, tidak ada pendidikan formal yang diajarkan kepada setiap keturunan untuk mempertahankan tradisi tersebut.
“Murni autodidak. Tidak ada upaya yang kami lakukan untuk mempertahankan tradisi tersebut,” kata Jafar.
Menurut pensiunan PNS ini, membuat pinisi tak sekadar menyusun potongan kayu menjadi sebuah kapal yang bisa mengarungi samudera. Namun, banyak pesan dan pembelajaran mulai dari proses awal hingga akhirnya kapal bisa dibawa ke laut. Ini yang harus diajarkan pada generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari Tana Beru. (taq-edo/ilo)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
