
MASIH BERTAHAN: Ihsanudin membentuk kayu waru menjadi bakiak di rumahnya.
Menekuni kerajinan tradisional di zaman serbamodern menjadi tantangan tersendiri. Tak terkecuali bagi Ihsanudin, perajin bakiak asal Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung ini. Sejak muda, dia menjadi perajin alas kaki dari kayu itu. Karyanya pun merambah hingga luar kota.
DHARAKA R. PERDANA, Tulungagung
SUASANA sebuah rumah di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, terlihat lengang kemarin. Rumah berdinding bambu tersebut cukup kontras dengan lingkungan sekitar yang dipenuhi rumah yang bergaya modern. Bahkan, depan rumah itu justru dipenuhi gelondongan kayu waru berukuran sedang.
Usut punya usut, si empunya rumah tersebut adalah perajin bakiak yang dulu sempat tenar serta ditekuni hampir seluruh warga Desa Serut. Ya, dia adalah Ihsanudin. Si pemilik rumah merupakan salah seorang dari segelintir perajin bakiak yang tersisa di desa itu.
Bahkan, kerajinan berbahan baku kayu waru tersebut sudah melanglang hingga ke luar daerah. ”Saya hanya membuat setengah jadi. Kemudian, dilempar ke luar daerah, khususnya Blitar,” katanya saat ditemui koran ini.
Menurut Ihsanudin, keterampilannya tersebut diturunkan dari ayahnya yang juga menekuni kerajinan bakiak setelah masa pendudukan Jepang. Ayahnya menyetorkan karyanya kepada seorang keturunan Tionghoa di Kelurahan Kutoanyar.
Ihsan –sapaan akrab Ihsanudin– yang saat itu masih kecil pun otomatis tertarik untuk meneruskan. Apalagi, dia tidak sempat meneruskan pendidikan. ”Karena hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, saya memilih menekuni usaha ini hingga sekarang,” imbuhnya.
Untung, usaha kerajinan tersebut tidak membutuhkan keterampilan khusus. Berbekal tatah dan sabit, kakek 60 tahun itu mulai berkarya di atas sepotong kayu waru. Pembuatannya terhitung cepat. Sebab, dalam sehari, dia bisa membuat hingga 40 pasang. Umumnya, semua karyanya sudah dipesan penjual bakiak hias di area makam Bung Karno, Kota Blitar.
Terkait dengan keuntungan yang didapat, pria berkulit sawo matang tersebut mengaku tidak terlalu ingat. Namun, dari Rp 4 ribu per pasang bakiak setengah jadi itu, dia sudah cukup untung. Apalagi, hasilnya digunakan untuk mengulak bahan baku kayu waru yang juga berasal dari Blitar.
Pria yang hampir semua rambutnya beruban itu mengaku belum memikirkan kelanjutan usahanya tersebut. Mengingat, tidak ada satu pun anak-anaknya yang berminat meneruskan usaha itu. Artinya, cepat atau lambat usaha kerajinan bakiak yang sempat menjadi primadona di Desa Serut tersebut bakal punah. ”Saat ini saja tinggal tiga orang. Termasuk saya yang masih bertahan,” ungkapnya. (and/c24/end)

Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs Uzbekistan: Ruben Dias Siap Hadapi Tim Bertahan
Prediksi Skor Yordania vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Duel Hidup dan Mati Siapa Lolos dari Grup J
Penampakan Wajah Wanita yang Menipu Tantri Kotak dkk dengan Kerugian Mencapai Rp 10 Miliar
Viral! Pengakuan BEM FH UBK Usai Temui Gibran, Ngaku Terima Uang hingga Minta Maaf ke Mahasiswa
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Kolombia vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Daniel Munoz Motor Serangan Los Cafeteros
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
Prediksi Skor Panama vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Luka Modric Berburu Poin Pertama
