
Ilustrasi
JawaPos.com - Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki tiga kesempatan, yakni berwirausaha, bekerja dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT). Direktur SMK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan(Kemdikbud) Mustaghfirin Amin mengatakan, baru 10 persen lulusan SMK terserap PT, sementara 90 persen terserap dunia industri.
”Siswa SMK dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri. Yang terserap PT terbesar di bidang pertanian, peternakan dan kelautan,” ujar Mustaghfirin Amin kepada INDOPOS (Jawa Pos Group), Minggu (22/1).
Untuk mendorong siswa SMK terserap PT, menurut Mustaghfirin, pihaknya mempertajam mata pelajaran yang diujikan pada seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Dengan menambah jam belajar Matematika dan Bahasa Inggris. ”Kelas XI SMK jumlah belajarnya sudah sama dengan SMA, buku pedomannya pun sama,” jelasnya.
Mustaghfirin menambahkan, SMK juga mendorong prestasi dan uji kompetensi siswa. Hal tersebut disesuaikan dengan minat siswa yang akan melanjutkan ke PTN. ”Itu menjadi persyaratan masuk PTN,” ucapnya.
Menurut Mustaghfirin, jumlah SMK saat ini sebanyak 13.400 SMK dengan total siswa 4,6 juta orang. Dengan perbandingan SMK Negeri (SMKN) sebanyak 3.400 dan swasta 10 ribu SMK. Setiap tahun, pemerintah memberikan dana BOS Rp 1,4 juta per siswa.
”Kami terus meningkatkan kualitas lulusan SMK dengan sertifikasi yang diakui Internasional. Ini agar lulusan SMK dapat menempati level menengah di industri,” ungkapnya.
Mustaghfirin menyebutkan, 85 persen lulusan SMK terserap di industri pariwisata. Kendati itu, pihaknya kini tengah mendorong kompetensi SMK untuk industri kreatif, maritim, dan industri pertanian.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengatakan, minimnya kualitas pendidikan di SMK disebabkan oleh faktor infrastruktur dan masih terbatasnya jumlah tenaga pendidik di bidang vokasi. ”Jumlah tenaga pendidik normatif dan adaptif lebih banyak dari jumlah tenaga pendidik di bidang vokasi (kejuruan, Red),” ujarnya.
Menurut Hanif, untuk meningkatkan kompetensi siswa SMK, maka harus diberikan akses ke Balai Latihan Kerja (BLK). Hal ini untuk menunjang pelatihan dan praktek kejuruan siswa. Sebab, banyak SMK yang tidak bisa menjamin lulusannya memiliki kompetensi sesuai bidang kejuruannya.
”Jadi, jika ada waktu pelatihan di BLK yang bolong-bolong, bisa kita gunakan untuk pelatihan anak SMK,” ungkap M Hanif Dhakiri. (nas/yuz/JPG)

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
