
Ilustrasi
’’Setiap keputusan yang diambil di bidang perdagangan, pajak, imigrasi, kebijakan luar negeri akan dibuat berdasar manfaat yang dirasakan oleh pekerja dan keluarga Amerika.’’
’’Kita akan mengikuti dengan dua aturan sederhana: beli produk Amerika dan gunakan tenaga kerja Amerika.’’
Itu adalah penggalan dua kalimat dari pidato Donald Trump saat dilantik sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) Jumat lalu (20/1) di Capitol Hill, Washington DC.
Selama 18 menit, Trump berpidato di hadapan rakyat Amerika. Tapi, sejatinya pidato itu juga merupakan pesan tegas yang dikirimnya ke seluruh penjuru dunia. Pesan bahwa Amerika akan mengubah haluan ekonomi dan politik internasionalnya.
Amerika ibarat sebuah kapal induk yang demikian besar. Sehingga, ketika haluan berubah akan memicu hempasan gelombang di perairan sekelilingnya. Seluruh negara, termasuk Indonesia, ada di perairan itu. Karena itu, sedikit banyak akan ikut merasakan hempasannya.
Amerika yang termasyhur sebagai dedengkot perdagangan bebas kini mengirim sinyal proteksionisme untuk melindungi produk dan tenaga kerja dalam negeri mereka. Memang, belum jelas wujud kebijakannya seperti apa. Tapi, sudah jelas bahwa pintu Amerika untuk produk-produk ekspor akan diperketat.
Karena itu, Indonesia mesti waspada. Ketidakpastian (uncertainty) berupa fluktuasi harga minyak yang selama ini menyelimuti pasar global kini akan bertambah dengan uncertainty kebijakan Trump.
Kenapa kita patut waspada? Karena AS adalah pasar terbesar ekspor Indonesia. Sepanjang 2016 lalu, ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 15,68 miliar (sekitar Rp 205 triliun) atau hampir 12 persen dari total ekspor kita. Selain itu, perdagangan dengan AS mencatatkan surplus terbesar hingga USD 8,84 miliar (sekitar Rp 115 triliun).
Produk ekspor utama kita ke Amerika pun berasal dari sektor industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki. Artinya, kalau pintu ekspornya diperketat, kinerja ekspor dua sektor itu bakal terganggu. Jika itu terjadi, puluhan atau bahkan ratusan ribu pekerja di dua sektor itu bakal terdampak.
Kekhawatiran itu pun sudah menjalar ke Tiongkok. Sebagai negara yang merajai pasar global dengan produk-produknya, Tiongkok patut waswas dengan proteksionisme AS. Karena itu, saat menjadi pembicara di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos Rabu lalu (18/1), Xi Jinping melontarkan pernyataan tegas bahwa ’’Mengejar proteksionisme ibarat mengunci diri dalam ruangan gelap’’. Xi memang tak menyebut nama. Namun, semua mafhum bahwa itu adalah sindiran pedas untuk Trump.
Nah, jika sampai dua raksasa ekonomi dunia itu berseteru mengobarkan perang dagang, ekonomi dunia bakal diliputi lebih banyak uncertainty. Karena itu, pemerintah maupun pelaku usaha harus waspada. Langkah-langkah taktis seperti masuk ke pasar ekspor baru harus siap dijalankan. Ini penting agar ekonomi kita tetap kukuh di tengah gelombang ketidakpastian. (*)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
