Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Januari 2017 | 18.01 WIB

Waspadai Uncertainty Ekonomi

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


’’Setiap keputusan yang diambil di bidang perdagangan, pajak, imigrasi, kebijakan luar negeri akan dibuat berdasar manfaat yang dirasakan oleh pekerja dan keluarga Amerika.’’



’’Kita akan mengikuti dengan dua aturan sederhana: beli produk Amerika dan gunakan tenaga kerja Amerika.’’



Itu adalah penggalan dua kalimat dari pidato Donald Trump saat dilantik sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) Jumat lalu (20/1) di Capitol Hill, Washington DC.



Selama 18 menit, Trump berpidato di hadapan rakyat Amerika. Tapi, sejatinya pidato itu juga merupakan pesan tegas yang dikirimnya ke seluruh penjuru dunia. Pesan bahwa Amerika akan mengubah haluan ekonomi dan politik internasionalnya.



Amerika ibarat sebuah kapal induk yang demikian besar. Sehingga, ketika haluan berubah akan memicu hempasan gelombang di perairan sekelilingnya. Seluruh negara, termasuk Indonesia, ada di perairan itu. Karena itu, sedikit banyak akan ikut merasakan hempasannya.



Amerika yang termasyhur sebagai dedengkot perdagangan bebas kini mengirim sinyal proteksionisme untuk melindungi produk dan tenaga kerja dalam negeri mereka. Memang, belum jelas wujud kebijakannya seperti apa. Tapi, sudah jelas bahwa pintu Amerika untuk produk-produk ekspor akan diperketat.



Karena itu, Indonesia mesti waspada. Ketidakpastian (uncertainty) berupa fluktuasi harga minyak yang selama ini menyelimuti pasar global kini akan bertambah dengan uncertainty kebijakan Trump.



Kenapa kita patut waspada? Karena AS adalah pasar terbesar ekspor Indonesia. Sepanjang 2016 lalu, ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 15,68 miliar (sekitar Rp 205 triliun) atau hampir 12 persen dari total ekspor kita. Selain itu, perdagangan dengan AS mencatatkan surplus terbesar hingga USD 8,84 miliar (sekitar Rp 115 triliun).



Produk ekspor utama kita ke Amerika pun berasal dari sektor industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki. Artinya, kalau pintu ekspornya diperketat, kinerja ekspor dua sektor itu bakal terganggu. Jika itu terjadi, puluhan atau bahkan ratusan ribu pekerja di dua sektor itu bakal terdampak.



Kekhawatiran itu pun sudah menjalar ke Tiongkok. Sebagai negara yang merajai pasar global dengan produk-produknya, Tiongkok patut waswas dengan proteksionisme AS. Karena itu, saat menjadi pembicara di ajang World Economic Forum (WEF) di Davos Rabu lalu (18/1), Xi Jinping melontarkan pernyataan tegas bahwa ’’Mengejar proteksionisme ibarat mengunci diri dalam ruangan gelap’’. Xi memang tak menyebut nama. Namun, semua mafhum bahwa itu adalah sindiran pedas untuk Trump.



Nah, jika sampai dua raksasa ekonomi dunia itu berseteru mengobarkan perang dagang, ekonomi dunia bakal diliputi lebih banyak uncertainty. Karena itu, pemerintah maupun pelaku usaha harus waspada. Langkah-langkah taktis seperti masuk ke pasar ekspor baru harus siap dijalankan. Ini penting agar ekonomi kita tetap kukuh di tengah gelombang ketidakpastian. (*)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore