
ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah.
JawaPos.com – Berbicara mengenai kawasan pecinan Sidoarjo tentu tidak bisa terlepas dari Jalan Hang Tuah. Di wilayah tersebut, berdiri kelenteng yang cukup megah dengan luas 2.000 meter persegi. Yaitu, Kelenteng Tjong Hok Kiong. Kelenteng itu berdiri seiring banyaknya warga etnis Tionghoa yang bermukim di wilayah ’’tengah’’ Sidoarjo. Baik di Jalan Gajah Mada maupun Hang Tuah.
Ketua Pengurus Kelenteng Tjong Hok Kiong Arief Pujianto mengatakan, kelenteng itu dibangun pada 1863 oleh warga etnis Tionghoa yang bermukim di kawasan tersebut. Awalnya kelenteng itu hanya berbentuk rumah kecil. Biasa digunakan sebagai tempat ibadah warga Tionghoa yang menganut agama Tridharma. Yakni, Buddha, Tao, dan Khonghucu.
’’Sampai sekarang masih belum jelas siapa yang mendirikan. Yang jelas, yang membuat kelenteng ini warga,’’ katanya.
Selama 154 tahun berdiri, Kelenteng Tjong Hok Kiong ternyata tidak sering mengalami renovasi besar. Dalam catatan Arief, hanya ada tiga kali renovasi. Kini kelenteng yang berbentuk rumah biasa itu sudah berubah menjadi tempat ibadah yang cukup megah. Bahkan, tahun ini sedang dilakukan renovasi kali keempat.
’’Sekarang masih masa renovasi. Sebab, setiap musim hujan, kelenteng ini banjir. Rencananya mau ditinggikan dan diperbaiki bangunannya,’’ ujar Arief.
Tjong Hok Kiong memiliki arti kelenteng atau tempat peribadatan yang membawa rezeki. Nama kelenteng tersebut sama dengan nama salah satu tempat di sisi selatan Tiongkok yang berdekatan dengan pantai atau laut. ’’Kelenteng ini dulu di depannya adalah sungai besar,’’ katanya.
Kelenteng Tjong Hok Kiong memang menjadi saksi arus kedatangan warga etnis Tionghoa ke Sidoarjo. Warga Tionghoa yang merantau ke Sidoarjo itu pun mulai melebur dengan pribumi. Itu terlihat pada saat perayaan hari ulang tahun Mak Co (Dewi Laut) yang dipercaya menjadi penyelamat orang-orang Tionghoa yang merantau di luar kota maupun negara.
Ribuan warga, baik pribumi maupun Tionghoa, membaur untuk menikmati perayaan tersebut di kelenteng. ’’Bisa sampai 2.000-an (orang yang datang, Red). Kami selalu membuka pintu,’’ ujarnya.
Kini bukan hanya warga Tionghoa dari Sidoarjo yang beribadat di kelenteng tersebut. Banyak juga yang berasal dari luar kota. Bahkan, bangunan kelenteng yang memiliki nilai sejarah tinggi itu menjadi salah satu alternatif destinasi wisata. ’’Kelenteng ini dibuka untuk umum. Banyak juga orang yang datang ke sini untuk melihat-lihat desain arsitektur kelenteng,’’ jelas Arief.
Kelenteng Tjong Hok Kiong memang terus berkembang. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pertemuan warga. Beberapa fasilitas umum pun disediakan. Di antaranya, lapangan basket dan tempat karaoke. ’’Kami juga melatih basket. Pesertanya bukan hanya orang Tionghoa,’’ ujarnya.
Pada Tahun Baru Imlek kali ini, lanjut dia, kelenteng tidak mengadakan kegiatan yang meriah dan mewah seperti tahun lalu. Kegiatan yang dilakukan hanya sembahyang seperti biasanya pada saat Imlek. ’’Tahun lalu, kami mengadakan pesta kembang api dan berkumpul di kelenteng,’’ tandasnya. (ayu/c7/pri/sep/JPG)

Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Haiti: Danilo Ingin Selecao Kuasai Permainan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Jadwal Moto3 Ceko 2026! Veda Ega Pratama P14 dan Langsung Lolos Q2
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
