Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 21.29 WIB

Menyusuri Jejak Ratusan Tahun Pecinan di Kota Delta, 1,5 Abad Baru Tiga Kali Renovasi Besar

ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah. - Image

ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah.

JawaPos.com – Berbicara mengenai kawasan pecinan Sidoarjo tentu tidak bisa terlepas dari Jalan Hang Tuah. Di wilayah tersebut, berdiri kelenteng yang cukup megah dengan luas 2.000 meter persegi. Yaitu, Kelenteng Tjong Hok Kiong. Kelenteng itu berdiri seiring banyaknya warga etnis Tionghoa yang bermukim di wilayah ’’tengah’’ Sidoarjo. Baik di Jalan Gajah Mada maupun Hang Tuah.


Ketua Pengurus Kelenteng Tjong Hok Kiong Arief Pujianto mengatakan, kelenteng itu dibangun pada 1863 oleh warga etnis Tionghoa yang bermukim di kawasan tersebut. Awalnya kelenteng itu hanya berbentuk rumah kecil. Biasa digunakan sebagai tempat ibadah warga Tionghoa yang menganut agama Tridharma. Yakni, Buddha, Tao, dan Khonghucu.


’’Sampai sekarang masih belum jelas siapa yang mendirikan. Yang jelas, yang membuat kelenteng ini warga,’’ katanya.


Selama 154 tahun berdiri, Kelenteng Tjong Hok Kiong ternyata tidak sering mengalami renovasi besar. Dalam catatan Arief, hanya ada tiga kali renovasi. Kini kelenteng yang berbentuk rumah biasa itu sudah berubah menjadi tempat ibadah yang cukup megah. Bahkan, tahun ini sedang dilakukan renovasi kali keempat.


’’Sekarang masih masa renovasi. Sebab, setiap musim hujan, kelenteng ini banjir. Rencananya mau ditinggikan dan diperbaiki bangunannya,’’ ujar Arief.


Tjong Hok Kiong memiliki arti kelenteng atau tempat peribadatan yang membawa rezeki. Nama kelenteng tersebut sama dengan nama salah satu tempat di sisi selatan Tiongkok yang berdekatan dengan pantai atau laut. ’’Kelenteng ini dulu di depannya adalah sungai besar,’’ katanya.


Kelenteng Tjong Hok Kiong memang menjadi saksi arus kedatangan warga etnis Tionghoa ke Sidoarjo. Warga Tionghoa yang merantau ke Sidoarjo itu pun mulai melebur dengan pribumi. Itu terlihat pada saat perayaan hari ulang tahun Mak Co (Dewi Laut) yang dipercaya menjadi penyelamat orang-orang Tionghoa yang merantau di luar kota maupun negara.


Ribuan warga, baik pribumi maupun Tionghoa, membaur untuk menikmati perayaan tersebut di kelenteng. ’’Bisa sampai 2.000-an (orang yang datang, Red). Kami selalu membuka pintu,’’ ujarnya.


Kini bukan hanya warga Tionghoa dari Sidoarjo yang beribadat di kelenteng tersebut. Banyak juga yang berasal dari luar kota. Bahkan, bangunan kelenteng yang memiliki nilai sejarah tinggi itu menjadi salah satu alternatif destinasi wisata. ’’Kelenteng ini dibuka untuk umum. Banyak juga orang yang datang ke sini untuk melihat-lihat desain arsitektur kelenteng,’’ jelas Arief.


Kelenteng Tjong Hok Kiong memang terus berkembang. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pertemuan warga. Beberapa fasilitas umum pun disediakan. Di antaranya, lapangan basket dan tempat karaoke. ’’Kami juga melatih basket. Pesertanya bukan hanya orang Tionghoa,’’ ujarnya.



Pada Tahun Baru Imlek kali ini, lanjut dia, kelenteng tidak mengadakan kegiatan yang meriah dan mewah seperti tahun lalu. Kegiatan yang dilakukan hanya sembahyang seperti biasanya pada saat Imlek. ’’Tahun lalu, kami mengadakan pesta kembang api dan berkumpul di kelenteng,’’ tandasnya. (ayu/c7/pri/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore