
KONSERVATIF: Go Siu Tin ( Sri Hartini ), 65 , kiri berada di dalam toko kelontong Wancu miliknya di Jalan Gajahmada 172 Sidoarjo (19/1). Dia merupakan generasi ke-3 penerus toko kelontong yang dulu berjaya di pecinan kota Sidoarjo itu. Boy Slamet/Jawa Pos
Jalan Gajah Mada, sebelum 1965, merupakan permukiman dan pusat perdagangan etnis Tionghoa. Sebelum berubah nama menjadi Jalan Gajah Mada, kawasan itu dikenal sebagai pecinan. Pemkab pun pernah memiliki wacana untuk menghidupkan kawasan tersebut sebagai kota lama.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI
KALI pertama memasuki Jalan Gajah Mada, tampak beragam aktivitas perdagangan yang begitu padat. Aneka jenis kebutuhan dijual para pedagang. Mulai perhiasan emas, tekstil, kacamata, apotek, handphone, mebel, barang elektronik, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sebagian besar pertokoan itu masih dikelola etnis Tionghoa. Namun, ada pula warga pribumi. Mereka membaur hangat dalam keberagaman.
Kawasan Jalan Gajah Mada memiliki sejarah panjang. Sebelumnya, akses itu menjadi tempat tinggal etnis Tionghoa. Karena itu, masyarakat menyebutnya pecinan. Di kawasan tersebut pernah berdiri sekolah Tionghoa (Zhonghua Xiao Xue). Namun, area sekolah itu kini beralih fungsi. Pemkab membangun sentra pedagang kaki lima (PKL). Sekolah tersebut menjadi sekolah dasar (SD) warga Tionghoa dan akhirnya ditutup pada 1960-an.
Perdagangan di Jalan Gajah Mada terus tumbuh. Sisa-sisa sejarah pecinan pun berangsur menghilang. Bangunan-bangunan lawas yang menjadi ciri khas pecinan mulai terkikis. Ada yang bertahan, tapi hanya hitungan jari. Sebagian besar bangunan itu pun tidak berpenghuni. Mereka yang masih bertahan hanyalah orang-orang yang ingin menjaga warisan keluarga. Turun-temurun.
Menelusuri Jalan Gajah Mada mulai ujung jalan sisi barat hingga timur, ada satu toko yang masih menyimpan keaslian desain bangunan lawas. Namanya Toko Wancu atau Toko Rejo. Tepatnya di Jalan Gajah Mada 172. Toko yang berdiri sejak 1933 itu disebut masih menyajikan pemandangan asli pada masa kejayaan pecinan.
Lihat saja pintu-pintu kayu hijau yang berlipat khas bangunan tempo dulu. Etalase dari kayu jati bertingkat miring. Gaya berdagangnya pun tidak berubah. Terasa nuansa tradisional.
Toko Wancu tidak besar, tapi menyajikan berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Pemilik menyebutnya toko serba-ada (toserba). Tidak heran, ketika masuk ke dalam toko tersebut, pengunjung langsung disuguhi pemandangan berbagai barang yang bergelantungan di langit-langit.
Saat ini Toko Wancu sudah dikelola generasi ketiga. Generasi pertama adalah Tjen Duan Tju (Wancu) yang merupakan anak ketujuh di antara 13 bersaudara. Kemudian, toko diteruskan The Hwie Kwan. Kini toko tersebut dikembangkan Efendi Tedjo Kusumo.
Menurut Sri Hartini, suami The Hwie Kwan, toko yang kini dikelola bersama putra-putranya memang masih sama dengan kali pertama berdiri. Tidak ada bagian toko tersebut yang diubah. Kecuali lantai toko. ’’Dulu kan masih semen. Sekarang sudah kami ganti keramik warna merah biar terlihat lebih rapi,’’ katanya.
Keaslian bangunan Toko Wancu telah menjadi ciri khas. Banyak pelanggan yang turun-temurun berbelanja di toko itu. Pengunjung tidak sekadar berbelanja. Mereka juga bernostalgia. Karena itu, meski saat ini Toko Wancu sudah dikelola generasi ketiga, gaya berdagang dan bangunan tetap dibiarkan asli.
’’Orang-orang lawas biasanya menyuruh anaknya belanja ke Toko Wancu. Yang paling dihafal ya toko di Jalan Gajah Mada yang berpintu hijau,’’ ungkapnya, lantas terkekeh.
Hartini menyatakan senang bisa mempertahankan arsitektur bangunan kuno pada tokonya. Sebab, di sepanjang Jalan Gajah Mada saat ini banyak berdiri toko modern. Toko-toko yang masih berdiri dengan desain bangunan lawas pun hampir hilang.
’’Dulu ayah suami saya mempunyai banyak saudara. Mereka mendirikan banyak toko di kawasan pecinan ini. Tetapi, lama-lama sudah hilang. Kalaupun ada, bangunannya sudah diubah menjadi lebih modern,’’ ungkapnya.
Menurut dia, toko miliknya pada zaman dulu sudah seperti swalayan. Semua barang kebutuhan rumah tangga tersedia. Mulai radio, sarung, alat-alat sekolah, hingga kue atau camilan. Kini yang dijual tetap sama. Hanya, jenisnya lebih banyak.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027, Tuan Rumah Dilarang Kalah!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Liga Champions: Skuad Modri Datang dengan Modal Bagus!
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
Prediksi Levski Sofia vs AEK Athens: Misi Besar Tuan Rumah Kembali ke UCL Usai Absen 2 Dekade
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Thailand vs Singapura di Semifinal Piala AFF 2026, Gajah Perang Unggul Agregat 3-1
