
INSPIRING: Mercy (kiri) beserta dua anaknya yang juga ikut sekolahnya.
Dengan mempelajari coding secara otodidak, Mercy Sihombing beserta tim Mercy Smart tak menyangka bisa menang di berbagai ajang Hackerton. Kini, bersama Menteri Kominfo, mereka mendirikan sekolah coding. Tujuannya hanya satu, yaitu mencetak programmer handal Indonesia yang mampu bersaing dengan programmer dari negara lain.
VIKA WIDIASTUTI, Jakarta
RESAH melihat perkembangan teknologi di Indonesia. Programmer handal di Indonesia sangat sedikit. Bahkan, perusahaan-perusahaan memilih mempekerjakan programmer luar negeri. Anak Indonesia semakin tertinggal. Hal itu mendorong Mercy Sihombing dan kedua anaknya bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) untuk menyediakan sekolah coding bagi siswa-siswi Indonesia yang berbakat.
Mercy, founder Coding Smart School, mulai berkecimpung dalam dunia coding ketika Andre Christoga, anak keduanya yang berumur 12 tahun, suka bermain gadget. ’’Sebagai ibu, saya geregetan. Saya bilang, jangan main gadget mulu dong, kamu jangan cuma jadi user. Tapi, saya nggak punya solusi. Background saya jurnalistik, jadi nggakngerti teknologi,’’ tuturnya.
Mercy mengaku menerima petunjuk dari Tuhan ketika mengikuti Social Media Week 2014. Saat itu, semua start-up melakukan presentasi. Tujuannya, masyarakat awam lebih mengenal teknologi. Sejak saat itu, Mercy mengenal dan mempelajari teknologi. Kesempatan emas akhirnya datang. Tim Mercy Smart berkesempatan mengikuti ajang Hacker Maraton (Hackerton) di istana negara pada 22–23 Agustus 2015.
Mereka bertanding melawan sekitar 90 tim yang disaring dari ribuan aplikasi. ’’Waktu itu, Presiden Jokowi ingin bikin program sembako. Nah, kami bikin harga gula,’’ terangnya.
Menurut Mercy, ajang tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Dia mengira peserta Hackerton adalah anak-anak yang sebaya dengan Andre. Ternyata, kegiatan itu diikuti orang-orang serius yang sudah lulus S2 dan S3. ’’Kok serius, senior amat,’’ ucapnya.
Yang mengherankan, saat itu tim Mercy Smart berhasil masuk lima besar. Sejak saat itu, timbul rasa percaya diri, meskipun mereka masih junior dan baru mempelajari coding selama tiga bulan. Kini, Mercy bersama timnya sering mengikuti ajang Hackerton.
Ajang Hackerton kedua yang diikuti tim Mercy Smart diselenggarakan majalah Tempo yang bekerja sama dengan Microsoft Internasional. Ada 40 tim yang proposalnya lolos. ’’Nah, waktu itu, ada kejadian lucu. Kami ditelepon panitia. Katanya, Satya Nadella mau ngobrol sama kami. Mungkin karena di tim kami ada anak kecil,’’ ungkapnya.
Mercy menjelaskan, Satya Nadella merupakan direktur Microsoft Internasional. Mereka pun sempat selfie dan berbincang sebentar. ’’Waktu kami enak-enak bikin program, orang Microsoft datang dan bilang kalau Satya mau foto selfie kami dipajang di Microsoft Internasional. Akhirnya, foto itu jadi viral,’’ paparnya.
Pada Hackerton yang diadakan majalah Tempo tersebut, tim Mercy Smart berhasil menang. Mereka menciptakan program virtual reality tentang gubernur. Ternyata, program tersebut akan diterapkan untuk tiga calon gubernur DKI. ’’Awalnya, kami nggak ngeh,’’ katanya.
Setelah memenangi ajang itu, Andre dan Christie Kirana, anak pertama Mercy, diajak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok magang di Jakarta Smart City. Selanjutnya, mereka mengikuti Hackathon tentang kependudukan yang diselenggarakan Hackathon Merdeka dan Telkomsel.
Dalam kegiatan tersebut, mereka membuat aplikasi kesehatan. Yakni, aplikasi cepat sembuh yang bisa difungsikan masyarakat dari rumah. Jadi, warga tak perlu datang dan mengantre di rumah sakit. Sudah ada jadwal kapan pasian bisa datang ke rumah sakit. Aplikasi itu juga menyediakan informasi tentang kamar rumah sakit, apakah ada yang kosong atau tidak. Lalu, kapan kamar tersebut kosong dan bisa digunakan pasien lain.
Melihat berbagai prestasi yang diraih tim Mercy Smart, Menteri Kominfo Rudiantara akhirnya mengundang mereka. ’’Setelah bertemu di Tempo, Pak Rudiantara mengundang kami. Beliau bertanya, kok bisa Andre dan Christie begitu?’’ ujar Mercy.
Hal itu sejalan dengan program Kemenkominfo serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Yakni, coding dimasukkan dalam pelajaran SMK. Namun, coding tersebut berkembang setiap bulan. Selain itu, guru yang lulus sepuluh tahun lalu, misalnya, hanya mau meng-update beberapa hal.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
