
Ilustrasi
Senin pagi (16/1) setelah hujan, cobalah melintas di Jalan Kalianak, Surabaya. Pastilah, anak dan istri di rumah akan melepas keberangkatan Anda dengan rasa berat hati. Bayangkan, kecelakaan adalah bagian tidak terpisahkan dari jalan tersebut.
Rukiadi, seorang anggota TNI-AL, menimpa kemalangan itu kemarin (20/1). Saat pulang kerja, dia harus melintasi jalan yang bolong di sana-sini. Ketika akan mendahului truk, sepeda motor yang dia kendarai oleng lantaran kontur jalan yang tidak rata.
Rukiadi jatuh. Tubuhnya terlindas roda belakang truk. Tentu kini istri Rukiadi harus berjuang sendirian menghidupi para buah hati mereka. Sang anak kini juga harus menaklukkan hidup tanpa pendampingan ayah. Jauh sebelum itu, di Jalan Kalianak banyak terjadi kegetiran. Selama 2016 belasan orang tewas ketika melintas jalan nasional tersebut. Perbaikan apa yang sudah dilakukan? Belum banyak.
Itu baru Kalianak. Di ruas-ruas yang lain, masih banyak jalur tengkorak yang tidak kalah menyeramkan. Saban hari seakan meminta tumbal nyawa. Bukan karena pengendaranya yang sembrono. Namun, karena kondisi jalan yang buruk yang harus mereka terima apa adanya.
Bayangkan, ketika hujan, melintas di jalur-jalur itu seperti menjawab teka-teki hidup. Bila sukses, Anda akan sampai rumah dengan selamat. Salah melintas, bersiaplah terperosok dan terjatuh. Di belakangnya roda-roda berukuran besar siap menggilas.
Di ruas-ruas itu, jalan tergenang air lantaran kanan kiri jalan tidak dibangun saluran yang memadai. Dengan demikian, tidak diketahui mana lubang dan mana yang tidak. Jalan-jalan tersebut sebenarnya sudah sejak jauh hari menjadi sorotan. Pemerintah juga sudah berupaya turun tangan. Meskipun bukan solusi jangka panjang. Misalnya, menambal lubang-lubang di beberapa ruas jalan. Sehari diperbaiki, besok rusak lagi. Dikritik lagi, ditambal lagi, menganga lagi.
Pemerintah sepertinya juga memiliki rumus untuk menjawab desakan-desakan perbaikan jalan secara tuntas. Mulai sistem penganggaran yang tidak bisa dipaksakan, kewenangan pemerintah pusat, hingga waktu yang tidak tercukupi. Apakah perlu korban jiwa lebih banyak lagi agar jalan diperbaiki?
Percayalah, memperbaiki jalan akan menuntaskan banyak hal. Setidaknya, anak-istri yang ditinggal para suaminya bisa tenteram. Mereka tidak akan waswas melepas keberangkatan suaminya bekerja.
Di sisi lain, respons cepat perbaikan jalan akan mendongkrak citra pemerintah. Setidaknya, bila publik bisa melaluinya dengan lancar, puja-puji bisa berdatangan. Sebaliknya, bila pemerintah lamban, gerutu dan sumpah serapah akan disemburkan terus-terusan di jalanan. (*)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
