Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Januari 2017 | 01.03 WIB

Bertaruh Nyawa di Jalan Nasional

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


Senin pagi (16/1) setelah hujan, cobalah melintas di Jalan Kalianak, Surabaya. Pastilah, anak dan istri di rumah akan melepas keberangkatan Anda dengan rasa berat hati. Bayangkan, kecelakaan adalah bagian tidak terpisahkan dari jalan tersebut.



Rukiadi, seorang anggota TNI-AL, menimpa kemalangan itu kemarin (20/1). Saat pulang kerja, dia harus melintasi jalan yang bolong di sana-sini. Ketika akan mendahului truk, sepeda motor yang dia kendarai oleng lantaran kontur jalan yang tidak rata.



Rukiadi jatuh. Tubuhnya terlindas roda belakang truk. Tentu kini istri Rukiadi harus berjuang sendirian menghidupi para buah hati mereka. Sang anak kini juga harus menaklukkan hidup tanpa pendampingan ayah. Jauh sebelum itu, di Jalan Kalianak banyak terjadi kegetiran. Selama 2016 belasan orang tewas ketika melintas jalan nasional tersebut. Perbaikan apa yang sudah dilakukan? Belum banyak.



Itu baru Kalianak. Di ruas-ruas yang lain, masih banyak jalur tengkorak yang tidak kalah menyeramkan. Saban hari seakan meminta tumbal nyawa. Bukan karena pengendaranya yang sembrono. Namun, karena kondisi jalan yang buruk yang harus mereka terima apa adanya.



Bayangkan, ketika hujan, melintas di jalur-jalur itu seperti menjawab teka-teki hidup. Bila sukses, Anda akan sampai rumah dengan selamat. Salah melintas, bersiaplah terperosok dan terjatuh. Di belakangnya roda-roda berukuran besar siap menggilas.



Di ruas-ruas itu, jalan tergenang air lantaran kanan kiri jalan tidak dibangun saluran yang memadai. Dengan demikian, tidak diketahui mana lubang dan mana yang tidak. Jalan-jalan tersebut sebenarnya sudah sejak jauh hari menjadi sorotan. Pemerintah juga sudah berupaya turun tangan. Meskipun bukan solusi jangka panjang. Misalnya, menambal lubang-lubang di beberapa ruas jalan. Sehari diperbaiki, besok rusak lagi. Dikritik lagi, ditambal lagi, menganga lagi.



Pemerintah sepertinya juga memiliki rumus untuk menjawab desakan-desakan perbaikan jalan secara tuntas. Mulai sistem penganggaran yang tidak bisa dipaksakan, kewenangan pemerintah pusat, hingga waktu yang tidak tercukupi. Apakah perlu korban jiwa lebih banyak lagi agar jalan diperbaiki?



Percayalah, memperbaiki jalan akan menuntaskan banyak hal. Setidaknya, anak-istri yang ditinggal para suaminya bisa tenteram. Mereka tidak akan waswas melepas keberangkatan suaminya bekerja.



Di sisi lain, respons cepat perbaikan jalan akan mendongkrak citra pemerintah. Setidaknya, bila publik bisa melaluinya dengan lancar, puja-puji bisa berdatangan. Sebaliknya, bila pemerintah lamban, gerutu dan sumpah serapah akan disemburkan terus-terusan di jalanan. (*)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore