
TANTANGAN: Donald Trump menyapa warga AS sebelum upacara pengambilan sumpah.
JawaPos.com – Secara informal, era kepresidenan Donald Trump bermula sejak Kamis waktu setempat (19/1) atau sehari sebelum pelantikan. Setelah berziarah di Arlington National Cemetery, dia menjamu orang-orang pilihannya dengan bersantap siang di Trump International Hotel. Di sana, dia berjanji langsung bekerja begitu resmi menjabat commander-in-chief.
Secara pribadi, Trump memang sudah siap menjadi presiden. Namun, tidak demikian jajaran pemerintahannya. Hingga Jumat pagi waktu setempat (tadi malam WIB), Senat AS baru meloloskan dua kandidat menteri dalam kabinet tokoh 70 tahun tersebut. Yakni, John F. Kelly dan James N. Mattis. Dua pensiunan jenderal itu bakal menjabat menteri keamanan dalam negeri dan menteri pertahanan.
”Ada hambatan dari kelompok tertentu di Senat AS,” kata Sean Spicer, jubir kepresidenan. Hambatan yang dimaksud adalah politikus Partai Demokrat di Senat. Menurut politikus 45 tahun tersebut, Demokrat sengaja mengulur-ulur waktu agar kabinet Trump tidak segera terwujud. Padahal, sebenarnya Senat siap merestui tujuh di antara total 21 kandidat yang diajukan Trump.
Selain Kelly dan Mattis, Trump semula optimistis Rex Tillerson lolos dalam wawancara Senat. Suami Melania Knauss itu menggadang-gadang pebisnis yang juga teman baiknya tersebut menjadi menteri luar negeri. Namun, pengalaman nihil Tillerson di bidang politik membuat Senat meragukan mantan bos ExxonMobil itu. Apalagi, pria 64 tahun tersebut punya sejarah mesra dengan Rusia.
Hingga kemarin (20/1), Senat menunda konfirmasi Tillerson. Untuk sementara, Trump mendapuk Thomas A. Shannon Jr. –pejabat pemerintahan Barack Obama– sebagai menteri luar negeri sementara. Dalam pemerintahan sebelumnya, pria 58 tahun itu menjabat wakil menteri luar negeri yang bertanggung jawab terhadap urusan politik.
Namun, Shannon tidak sendirian menjadi ”pembantu” Trump. Total ada 50 pejabat Obama yang dipertahankan Trump dalam jabatan mereka masing-masing. Karena itu, sampai sekarang, belum ada kandidat yang terpilih sebagai pengganti mereka. Padahal, jabatan-jabatan tersebut sangat esensial. Hal itu tidak termasuk David J. Shulkin yang dinominasikan menjadi menteri urusan veteran. Dia adalah wakil menteri urusan veteran pada era Obama.
Kabinet Trump yang baru pasti terisi dua orang tersebut. Hal itu membuat Obama dan jajaran pemerintahannya cemas. ”Saya rasa, mereka tidak akan siap sampai waktunya tiba,” ucap salah seorang pejabat pemerintahan Obama. Hal yang sama diungkapkan pejabat Partai Republik yang juga terlibat dalam tim transisi Trump. Keengganan sang taipan untuk terlibat langsung dalam penyusunan kabinet, lanjut dia, menjadi kendala utama.
Kendati demikian, tidak sedikit pun tergambar kecemasan pada raut wajah Trump. Pemilik Trump Tower yang kemenangannya dalam pemilihan presiden (pilpres) 8 November lalu mengejutkan dunia itu optimistis pemerintahannya berjalan lebih baik. Sebab, dia memiliki orang-orang pandai dan orang-orang terbaik AS dalam kabinetnya. Setidaknya, terbaik dalam anggapan Trump.
”Ada banyak orang cerdas (dalam pemerintahan baru, Red). Saya beri tahu ya. Ini adalah kabinet yang terdiri atas orang-orang ber-IQ tertinggi jika dibandingkan dengan kabinet-kabinet sebelumnya,” tandasnya saat berpidato dalam jamuan makan siang. Namun, Trump masih butuh lebih dari 500 orang untuk mengisi jabatan eksekutif dalam pemerintahannya. Sejauh ini dia baru mengisi 29 di antara total 600 posisi yang dibutuhkan.
Tidak hanya kabinet dan pos eksekutif yang belum sempurna. Masih banyak jabatan lain di tingkat lembaga pemerintahan yang kosong. Di antara ribuan posisi yang akan ditinggalkan pemerintahan Obama, Trump baru bisa mendapatkan 536 pejabat untuk mengisi posisi penting tersebut. Untuk sementara, Badan Intelijen Nasional bakal dipimpin Michael Dempsey, pejabat kelas tiga di lembaga itu.
Di tengah kecemasan pemerintahan Obama dan kesibukan tim transisi Republik, publik mulai banyak berkomentar. Sebagaimana Obama, kabinet yang disusun Trump juga kontroversial. Untuk kali pertama dalam 30 tahun terakhir, tidak akan ada perwakilan Hispanik dalam kabinet AS. Jika Senat merestui, kabinet Trump hanya akan memiliki dua menteri non-kulit putih. Yakni, Ben Carson dan Elaine L. Chao.
Jika dibandingkan dengan kabinet-kabinet sebelumnya, kabinet Trump cenderung homogen. Selain didominasi tokoh kulit putih, rata-rata para pemimpin departemen tersebut punya latar belakang bisnis. Selain itu, tidak ada perwakilan oposisi alias politikus atau tokoh Demokrat dalam kabinet kali ini. Hal tersebut sama dengan yang terjadi pada era kepemimpinan pertama Presiden Bill Clinton pada 1997. (AFP/Reuters/CNN/newyorktimes/hep/c16/any)

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
