
OPTIMISTIS: Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Ketua Umum Dekranasda Jatim Nina Soekarwo bersama pengurus Dekranasda Provinsi Jawa Timur periode 2014-2019.
JawaPos.com – ’’Permasalahan serius yang dihadapi perajin lokal kita adalah rendahnnya kualitas pengemasan. Apalagi, pemilik usaha sering memaksakan desain kemasannya meskipun tidak sesuai standar,”ujar Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur tahun 2017 dan Pelantikan Pengurus Dekranasda Provinsi Jawa Timur Masa Bhakti 2014-2019 pada Kamis (19/1).
Menurut Soekarwo, sebuah produk disebut berdaya saing jika kualitas produknya baik, harganya kompetitif, dan cepat sampai ke konsumen. Dalam tingkat nasional, daya saing produk Jatim menduduki peringkat kedua setelah DKI Jakarta. ’’Jika daya saing daerah bisa ditingkatkan, maka pasar bebas ASEAN akan mampu dimanfaatkan optimal. Meskipun konsekuensinya daya beli masyarakat juga meningkat,’’ tambahnya.
Dalam pidatonya, Pakde Karwo, panggilan Soekarwo, memaparkan kinerja perdagangan barang dan jasa Jatim pada 2016 mengalami surplus Rp 108 triliun. Sedangkan neraca perdagangan Jatim dengan ASEAN selama periode Januari–Juli 2016 surplus US$ 1.160.526.890. ’’Jatim mengalami surplus di sisi ekspor dengan seluruh negara di Asia Tenggara, kecuali dengan Laos. Beberapa produk ekspor tertinggi di Jatim yakni perhiasan, minyak nabati, mebel, dan ikan,” kata Pakde Karwo.
Pernyataan Pakde diamini oleh Ketua Umum Dekranasda Jatim Nina Soekarwo. Selain kemasan, hal lain seperti keterampilan sumber daya manusia (SDM), ketersediaan pendamping lapangan, serta regenerasi perajin juga menjadi kendala dalam pengembangan UMKM. Permasalahan-permasalahan itu masih ditambah dengan kapasitas teknologi kurang memadai, bahan baku minim, sempitnya jaringan pemasaran, dan hambatan modal.
Guna mengatasi permasalahan tersebut, Dekranasda Jatim pada 2017 fokus pada empatprogram. Yaitu, peningkatan kualitas SDM perajin, pembiayaan usaha dengan kredit murah, program kemitraan, dan perluasan jaringan pasar.
Dalam upaya memperluas jaringan pasar, Dekranasda Jatim berpartisipasi aktif pada agenda rutin promosi antara lain Pameran Inacraft, Batik Bordir dan Aksesoris, dan Surabaya Jewellery Fair (SJF).
Nina juga menambahkan, showroom Dekranasda Prov. Jatim sampai saat ini telah memfasilitasi promosi lebih dari 20 ribu produk kerajinan dari 800 IKM dan UMKM yang berasal dari 38 kabupaten atau kota se-Jatim. Produk kerajinan tersebut utamanya berupa produk batik, bordir, kulit dan produk kulit, makanan dan minuman, kerajinan, garmen, perhiasan, dan aroma terapi. (ree/xav)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
