
Ilustrasi
FILM Istirahatlah Kata-Kata yang menjadikan Widji Tukul sebagai tokoh utama menjadi momentum yang pas untuk mengingatkan bahwa bangsa ini masih punya PR soal HAM. Sejumlah aktivis yang diculik, pembunuhan atas nama HAM, masih menunggu diungkap. Film itu menguatkan tuntutan pengungkapan kasus yang digelorakan oleh Aksi Kamisan.
Aksi ini pada Kamis (19/1) tepat memperingati sepuluh tahun keberadaannya. Dimulai sejak 18 Januari 2007, sejumlah orang tua yang anaknya menjadi korban aksi represif aparat negara berdiri dengan membawa payung hitam. Tidak seperti aksi-aksi lainnya yang ramai dan cenderung mencari perhatian (dengan memaksa bertemu presiden atau membawa massa banyak), mereka memilih diam dan berdiri membawa payung hitam.
Selama sepuluh tahun itu pula para orang tua ini berdiri selama satu jam antara pukul 16.00–17.00, mereka berdiri dan diam. Diam dan berdiri sebagai pilihan, karena ’’diam’’ tidaklah berarti telah kehilangan hak-hak sebagai warga negara. Berdiri melambangkan bahwa korban/keluarga korban pelanggaran HAM adalah warga negara yang tetap mampu berdiri untuk menunjukkan punya hak sebagai warga di bumi pertiwi Indonesia. Juga sadar bahwa hak itu tidak gratis bisa didapat, terlebih-lebih ketika pemerintah tidak mau peduli. Diam juga untuk menunjukkan diri sebagai bukan perusuh, bukan warga negara yang susah diatur, juga bukan warga negara yang membuat bising telinga, tetapi tetap menuntut pemerintah untuk tidak diam.
Seperti yang dituturkan Sumarsih, ibunda Bernardus Realino Norma Irawan (Wawan), aktivis yang tewas pada peristiwa Semanggi I, 13 November 1998. Hingga lebih dari 18 tahun, siapa yang harus bertanggung jawab atas kasus tersebut masih gelap. Sumarsih mengatakan, dirinya memilih tetap ikut sebagai tanda bahwa dirinya berharap kematian anaknya tidak sia-sia. Sebab, tanpa pengungkapan, Wawan, putra pertamanya, tewas untuk alasan yang tidak jelas.
Namun, tentu saja kasus penghilangan orang yang paling terkenal adalah penghilangan sejumlah aktivis pada 1998. Dan sosok yang paling tenar di antaranya adalah Widji Thukul. Penyair asal Surakarta itu justru makin menjadi martir ketika dilenyapkan oleh negara. Hingga sampai dibuatkan film khusus tentangnya yang berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Penyelidikan yang dilakukan hanya sampai pada Tim Mawar Kopassus. Itu pun mereka mengaku hanya menculik nama-nama yang sudah dilepas seperti Nezar Patria, Rahardjo Waluyo Djati.
Sementara itu, Widji Thukul, Bimo Petrus, dan sederet nama lainnya yang masih hilang belum tentu rimbanya sampai saat ini. Inilah yang membuat para orang tua, saudara, dan kerabat korban-korban kekerasan aparat negara untuk berkumpul dan menggelar Aksi Kamisan.
Film Istirahatlah Kata-Kata, Aksi Kamisan, seharusnya mampu menggerakkan pemerintah untuk menyelesaikan PR masa lalu. Untuk melangkah maju dan menjadi lebih baik. Dan menjadikan kasus-kasus itu sebagai yang terakhir terjadi di Indonesia. (*)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
Live Streaming PSS Sleman vs Garudayaksa FC Final Liga 2 dan Prediksi Skor: Trofi Bergengsi Menanti Pemenang!
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Prancis Hari Ini: Momentum Veda Ega Rebut Pole Position!
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
