
ENTREPRENEURIAL: Prof Jenny Lukito Setiawan menekankan bahwa orang tua harus kompak dalam mengembangkan karakter anak.
Karakter entrepreneurial tidak sekadar mengajarkan anak menjadi pebisnis. Sejak dini, keluarga melatih anak berjiwa entrepreneur agar tangguh menghadapi persoalan. Caranya, menurut Prof Dra Jenny Lukito Setiawan MA PhD, melalui co-parenting.
RABU (19/1) Jenny Lukito Setiawan dikukuhkan menjadi profesor. Dia adalah guru besar pertama yang dikukuhkan di Universitas Ciputra. Perempuan murah senyum itu terlihat semringah.
Bidang ilmu yang ditekuni adalah ilmu psikologi konseling. Minatnya tercurah pada co-parenting. Orang tua kompak dan berkolaborasi dalam pengembangan karakter anak. Termasuk menumbuhkan karakter entrepreneurial anak.
Banyak orang yang mengira, tidak ada hubungannya antara entrepreneur dan ilmu psikologi. Padahal sangat erat terkait. Sebab, ada manusia di balik suatu karya entrepreneurship.
Mengutip Rauch & Frese (2007), kata Jenny, ada enam karakter psikologis para entrepreneur. Yakni, kebutuhan berprestasi yang tinggi, berani mengambil risiko, inovatif, punya otonomi, memiliki locus of control internal, dan memiliki self-efficacy.
Nah, karakter entrepreneurial itu tidak hanya ada dalam konteks bisnis. Tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya di bidang pemerintahan, sosial, dan akademik. Perempuan yang lahir di Surabaya pada 4 Juli 1968 itu menyebut karakter entrepreneurial perlu dimiliki generasi penerus bangsa. Harapannya, performa generasi muda lebih kuat sehingga bisa mendukung bidang-bidang yang menjadi pilar daya saing bangsa.
Keluarga, jelas dia, punya andil besar. Ayah dan ibu berperan kuat untuk menanamkan karakter entrepreneurial anak. ’’Harus sinergi, harus sama-sama sepakat untuk menanamkan karakter entrepreneurial. Inilah yang dimaksud co-parenting,’’ tuturnya.
Caranya, orang tua harus punya golterlebih dulu kepada anak. ’’Anak mau diarahkan bagaimana, ini berkaitan dengan pola asuh,’’ katanya. Ada empat macam pola asuh para orang tua. Yakni, pola asuh authoritarian, pola asuh indulgent, pola asuh neglectful, dan pola asuh authoritative.
Dalam pola asuh authoritarian, menurut Jenny, ayah dan ibu memberikan batasan serta kontrol yang sangat ketat, tapi tidak disertai upaya memenuhi kebutuhan anak. Akibatnya, anak tidak berani berinovasi dan karakter entrepreneurial-nya terhambat. Pola asuh indulgent merupakan pola asuh yang memanjakan anak. Orang tua hampir tidak memiliki tuntutan kepada anak. ’’Pola asuh ini bisa membuat kontrol diri anak jadi rendah, ego tinggi, dan tidak belajar menghargai orang lain,’’ terangnya.
Sementara itu, pola asuh neglectful, terang Jenny, adalah pola asuh yang orang tuanya cenderung tidak peduli. Anak kerap diabaikan. Anak yang mendapat pola asuh seperti itu, imbuh dia, cenderung berbuat ulah. Sebab, tidak ada yang mencurahkan perhatian. Anak pun merasa dirinya tidak berharga. ’’Kalau sudah begini, bagaimana bisa berinovasi?’’ tanyanya.
Keempat, pola asuh authoritative. Dalam pola asuh itu, orang tua seimbang menerapkan tuntutan dengan pemenuhan kebutuhan. ’’Anak pede karena didengerin, tapi ada batasan, ada pengendalian diri,’’ katanya. Pola asuh tersebut bisa membuat anak percaya diri, berorientasi prestasi, dan tahan banting.
Agar pola asuh authoritative itu bisa terwujud, perlu ada kesatuan langkah pada orang tua. ’’Ortu harus kompak, kapan say yes, kapan say no pada anak,’’ katanya. Orang tua juga harus kompak untuk membangun harga diri anak yang sehat. ’’Ajak anak supaya tidak hopeless atau pesimistis,’’ sambungnya.
Yang tidak kalah penting, orang tua harus saling mengingatkan dan membangun role model karakter entrepreneurial. ’’Sense of we-ness harus dijaga sebagai tim yang solid dan support,’’ tegasnya.
Lalu, bagaimana menjaga agar ortu kompak? Menurut Jenny, pilar co-parenting adalah menjaga kualitas pernikahan. Keharmonisan harus dijaga. Orang tua juga harus punya resolusi konflik yang konstruktif atau bersifat membangun, menyiapkan waktu luang bersama, dan menjaga komunikasi yang asertif. Yakni, komunikasi yang bisa menyampaikan apa yang dirasakan, tetapi tetap menjaga dan menghargai perasaan pihak lain. ’’Saling berinteraksi dan enjoying bareng supaya bisa menyamakan visi. Ini tantangan di era saat ini,’’ tuturnya. (puj/c19/nda/sep/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
