
TUGAS BARU: Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto di kantornya Rabu (18/1). Sejak Desember lalu, dia meninggalkan posisinya sebagai Kabid di BPBD.
Sebelum menjadi pejabat eselon III seperti sekarang, Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto harus berjuang keras. Hal itu dilakoninya untuk membantu ekonomi keluarga.
ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk
RUANG Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto di kompleks pendapa kabupaten tidak pernah sepi dari awak media. Misalnya, kemarin siang wartawan datang silih berganti ke ruangannya. Sebagai Kabaghumas, Agus memang menjadi jujukan.
Terutama sejumlah wartawan yang memerlukan konfirmasi atas liputan mereka setiap hari. Setiap mendapat pertanyaan, Agus berusaha menjawabnya dengan lugas.
Dia juga tak segan mencarikan data apabila ada pertanyaan yang belum bisa terjawab. Ya, seperti itulah aktivitas pria yang sebelumnya menjabat Kabid Mitigasi Bencana dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk tersebut.
’’Saya usahakan bisa menjawab pertanyaan teman-teman (wartawan, Red),’’ kata Agus ketika ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Sebagai abdi negara, dia berprinsip selalu menjalankan tugas sebaik-baiknya. Apalagi, sebelum menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemkab, Agus harus banting tulang menjadi sopir angkutan kota (angkot) di Nganjuk untuk bisa mendapat penghasilan.
’’Sekitar tiga tahun saya jadi sopir angkot,’’ ungkap pria kelahiran 16 Agustus 1962 tersebut.
Dia menjadi sopir angkot mulai 1979 sampai 1981. Saat itu Agus masih mengenyam pendidikan di sekolah pendidikan guru (SPG) di Nganjuk. SPG berlokasi di JalanYos Sudarso yang kini menjadi SMPN 4 Nganjuk.
’’Saya masih kelas I SPG,’’ kenangnya.
Keputusan menjadi sopir angkot itu bukannya tanpa alasan. Agus ingin meringankan beban keluarga. Maklum, orang tua Agus kala itu harus menghidupi lima saudaranya yang semua masih bersekolah.
Padahal, Ahmad Soekodo, sang ayah, berprofesi guru dengan penghasilan kecil. Ibunya, Misnah, hanya ibu rumah tangga. Meski awalnya pekerjaan sampingan Agus itu sempat ditentang sang ibu, keluarga akhirnya memberikan restu setelah Agus berjanji pekerjaannya tersebut tidak mengganggu sekolah.
Agus juga tidak menjadi sopir angkot selama sehari penuh, namun hanya saat pagi sebelum berangkat ke sekolah. Kebetulan, sang ayah memiliki mobil angkot jenis Colt T.
’’Jadi, sebelum disopiri yang asli, saya pakai dulu cari penumpang,’’ ungkapnya.
Untuk mengejar waktu, Agus harus bangun lebih pagi sekitar pukul 04.00. Biasanya, dia mencari penumpang di sekitar Pasar Wage.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
