Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Januari 2017 | 03.59 WIB

Sabu Apartemen Terdeteksi Dua Tahun Terakhir

BUKTI-BUKTI KEJAHATAN: Barang bukti sabu-sabu dan ekstasi yang disita Polrestabes Surabaya. - Image

BUKTI-BUKTI KEJAHATAN: Barang bukti sabu-sabu dan ekstasi yang disita Polrestabes Surabaya.

JawaPos.com – Modus memanfaatkan apartemen sebagai lokasi menyimpan narkoba sekaligus tempat persembunyian pengedarnya sebenarnya terpantau dua tahun terakhir. Bahkan, tidak jarang apartemen dijadikan tempat pesta narkoba.


Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti menyatakan, kebanyakan adalah sindikat narkoba internasional. ’’Tapi, ke sini-sini jaringan pengedar lokal juga menerapkan strategi itu,’’ ujarnya.


Menurut Suparti, banyak faktor penyebab. Salah satunya adalah tidak sembarang orang bisa mengakses apartemen dengan mudah. Para pelanggan merasa nyaman dan sepak terjang para bandar bakal sulit terendus aparat. Faktor lain, pengedar akan bisa menawarkan narkoba dengan harga yang mahal.


Metode peredarannya juga relatif terselubung. Selain lewat grup media sosial, mereka menyasar komunitas-komunitas kecil. Bisa lewat media sosial ataupun komunitas kecil. ’’Peredaran narkoba sebenarnya ya muter-muter saja,’’ katanya.


Bahkan, ada unsur kepercayaan antarkomunitas di bawah jaringan narkoba tersebut. Biasanya, pengedar atau bandar memasukkan pembeli ke komunitas jika sudah beberapa kali terjadi transaksi. ’’Semacam syarat masuk komunitas. Begitu bisa bergabung. Ada narkoba jenis apa pun dan dijual bebas,’’ jelasnya.


Mantan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya itu menuturkan, modus menggunakan apartemen dan perumahan elite sebenarnya hampir sama dengan sindikat narkoba di Malaysia. Karena itu, tidak salah jika narkoba milik keempat pelaku yang tertangkap Satreskoba Polrestabes Surabaya berasal dari sana. ’’Jaringan ini lari ke Indonesia, di Jakarta sudah marak, lalu merembet ke Surabaya,’’ paparnya.


Dia berharap masyarakat yang kini hidup di apartemen dan perumahan elite bisa aktif berkoordinasi dengan polisi. Jika memang ada gerak-gerik yang mencurigakan, diharapkan warga melapor. ’’Jangan sampai ada pembiaran. Jangan sampai para bandar itu bikin narkoba sendiri,’’ tegasnya.



Suparti berjanji giat melakukan sosialisasi di samping penindakan terhadap peredaran narkoba di kawasan elite. ’’Tes urine sering diadakan nanti untuk mempersempit peredaran narkoba,’’ ungkapnya. (rid/c14/git/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore