Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Januari 2017 | 13.50 WIB

Eddie Hara Tetap Bergaya Muda, Naufal Ketemu Jalannya

SEMANGAT MUDA: Eddie Hara di depan lukisannya, Call 117. Destroy Bad Art, yang dipamerkan di Art Stage Singapore. - Image

SEMANGAT MUDA: Eddie Hara di depan lukisannya, Call 117. Destroy Bad Art, yang dipamerkan di Art Stage Singapore.


Berada di Art Stage Singapore 2017, pengunjung bisa bertemu dengan banyak seniman. Bercerita tentang karya dan perjalanan hidup mereka. Wartawan Jawa Pos JANESTI PRIYANDINI sempat bertemu dan mewawancarai perupa senior Indonesia Eddie Hara serta pelukis muda Naufal Abshar.





SENIMAN kelahiran Salatiga, 10 November 1957, itu menjadi salah seorang pelopor seni kontemporer Indonesia. Meski tahun ini usianya menginjak 60 tahun, penampilannya masih terlihat funky. Celana panjang hitam, kemeja pantai, tato-tato cute menghiasi tangan kiri, piercing di telinga kiri, dan sepatu sneakers.



’’Saya memang sudah tidak muda,’’ kata Eddie Hara ketika saya temui di arena Art Stage Singapore 2017, Marina Bay Sands Expo and Convention, Rabu (11/1).



Kalau di Eropa ada istilah young people dan young at heart, Eddie mengaku masuk ke kategori young at heart. Usia boleh tua, tapi spirit harus tetap muda. Begitu katanya.



Alumnus ISI Jogjakarta itu sudah 20 tahun tinggal di Basel, Swiss. Meski begitu, sepuluh tahun terakhir, Eddie lebih berkonsentrasi pada seni rupa Asia, terutama Indonesia.



Karena itu, di Art Stage Singapore yang berlangsung 12–15 Januari lalu, lukisannya ikut dipamerkan melalui Nadi Gallery Jakarta dan Srisasanti Syndicate Gallery Jogjakarta. Di Nadi Gallery, salah satu lukisannya yang terpajang adalah Call 117. Destroy Bad Art. Lukisan akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 200 cm tersebut merupakan karya teranyar berangka tahun 2017.



Goresan lukisan Eddie cenderung bergaya komik. Modern dan trendi. ’’Di Jogjakarta dan di Indonesia, saya dibilang pelopor gaya lukisan seperti itu,’’ katanya.



Sekilas melihat lukisan itu, yang terpikir, pelukisnya adalah anak muda. ’’Di Eropa, anak-anak muda yang melihat lukisan saya juga banyak yang mengira begitu. Begitu tahu, mereka bilang, ah ternyata kamu seumuran bapak saya,’’ lanjutnya, lalu tertawa.



Di dunia seni rupa, karya bergaya komikal, kartun, dan seni jalanan disebut lowbrow. Eddie mulai melukis dengan gaya seperti itu pada 1985–1986. Pada masa tersebut, gaya semacam itu belum bisa diterima. ’’Zaman dulu, nggak ada yang mau beli lukisan saya,’’ ungkapnya.



Baru pada 1996 orang mulai memberikan apresiasi pada karya-karya semacam itu. Dan, Eddie termasuk pelopornya di genre tersebut. ’’Mulai ada generasi baru,’’ katanya.



Anak-anak muda yang bersekolah di luar negeri kembali ke Indonesia. Mereka mulai meneruskan bisnis orang tua atau mulai menapaki karir di sini. ’’Mereka-mereka itulah yang mulai bisa terhubung dengan karya-karya saya,’’ lanjutnya.



Meski kini sudah senior, Eddie menyatakan tetap suka bergaul dengan anak-anak muda. Situs dan platform seni CoBo menyebut pria yang pada 1989–1990 belajar di Akademie voor Beeldende Kunst Enschede (AKI) Belanda tersebut sebagai The Punk Uncle of Indonesian Contemporary Art. Dia adalah pamannya seniman-seniman muda.



Tak salah bila Eddie mendapat julukan seperti itu. Di tengah wawancara, tiba-tiba ada dua anak muda yang menghampiri dia. ’’Om Eddie, saya mau kenalin teman saya nih, Om,’’ kata Naufal Abshar, pelukis muda yang karyanya juga dipamerkan di tempat yang sama.



Naufal memperkenalkan temannya, Abenk Alter, kepada Eddie. Abenk yang memiliki nama lengkap Rizqi Ranadireksa adalah musisi muda Indonesia. Dia pernah bergabung dalam band Soulvibe. ’’Saya ngefans banget sama Om Eddie,’’ ungkap Abenk, lalu mengajak foto bareng.



Gaul dengan anak-anak muda seperti itu sudah menjadi bagian dari hidup Eddie. Terlebih ketika kali pertama hijrah ke Swiss untuk mengikuti istrinya yang orang Swiss. Kehidupannya di sana sebagai seniman tak langsung moncer. Awalnya, dia merasakan susah hidup di negara orang.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore