Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Januari 2017 | 06.20 WIB

Ijab Kabul Pasangan Pengantin Ini Diwarnai Isak Tangis, Kenapa?

HARU: M (Inisial) melangsungkan pernikahan di kawal sejumlah polisi di rumah mempelai wanita di Dusun Asempitu, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Senin pagi (16/1). - Image

HARU: M (Inisial) melangsungkan pernikahan di kawal sejumlah polisi di rumah mempelai wanita di Dusun Asempitu, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Senin pagi (16/1).

JawaPos.com - Polisi mengawal orang nikah, itu hal lumrah. Maklum ”raja” sehari. Tapi jika pengawalan dilakukan karena sang mempelai pria tersangkut kasus hukum, itu tidak biasa. Seperti yang terjadi di Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Senin (16/1).


SUASANA hening berubah haru. Itu terjadi setelah rombongan polisi turun dari mobil bersama M di rumahnya di Dusun Asempitu, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, kemarin. Maklum, M yang ditahan polisi itu pulang karena akan melangsungkan pernikahan.


Sebenarnya, pernikahan itu sudah dijadwal jauh-jauh hari. Namun, apesnya, dua hari sebelum akad nikah, M terpaksa diringkus oleh satreskoba. Sebab, dia kedapatan memiliki narkotika jenis sabu-sabu.


Suasana bertambah haru bak sinetron sesaat setelah M dikawal menuju rumah mempelai wanita yang tak jauh dari rumah M. Tidak hanya warga, polisi pun juga ikut mengantar M.


Tak jarang, keluarga dan para tetangga mencucurkan air mata saat proses ijab kabul berlangsung. Sebab, keduanya tidak bisa bersama usai akad nikah. Tersangka M langsung kembali ke rumah keluarganya sebelum dibawa ke Mapolres Pamekasan.


”Saya terharu sekali melihat ijab kabul ini. Tidak terasa air mata saya mengalir. Saya ikut merasakan kesedihan mereka. Semoga diberi ketabahan bagi mempelai dan keluarganya,” ucap salah satu undangan yang menolak menyebut namanya kemarin.


Sesuai permohonan izin, keluarga mempelai laki-laki dan perempuan bersanding di pelaminan. Isak tangis keluarga semakin menyeruak. Tetangga yang berdatangan juga menangis  histeris, termasuk keluarga mempelai wanita. Mereka tak kuasa menahan tangis.


”Ini adalah kebijakan Pak Kapolres AKBP Nowo Hadi Nugroho demi kemanusiaan. Maka dari itu, kami tidak mengenakan seragam polisi agar tidak terlalu tegang,” kata Kasatresnarkoba Polres Pamekasan AKP Sjaiful.


Usai ijab kabul, rombongan pun kembali ke rumah mempelai laki-laki. Tersangka M digiring ketat ke mobil yang disediakan polisi. Setiba di rumahnya sekitar pukul 10.00, tersangka langsung berganti baju tahanan.


Teriakan histeris kembali terdengar. Bahkan, ibu kandung M jatuh pingsan. Dia berteriak tak kuasa menahan kesedihan yang dialami anak bungsunya itu.


”Siapa yang tidak menangis saat seperti ini. Kami pun tidak tega dan berusaha tegar. Mau bagaimana lagi, ini adalah tugas kami,” kata AKP Sjaiful.


AKP Sjaiful mengatakan, sesuai aturan, polisi wajib memberikan kebijakan khusus kepada tersangka atau tahanan jika ada acara khusus. Baik pernikahan maupun kematian. (*Fathor Rochman/gik/luq)

Editor: Soejatmiko
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore