Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Januari 2017 | 23.08 WIB

Praktikkan Permainan Tradisional

CERIA: Alviana (tengah) balapan egrang batok bersama teman-teman kelas III SDN Bubutan IV Surabaya. - Image

CERIA: Alviana (tengah) balapan egrang batok bersama teman-teman kelas III SDN Bubutan IV Surabaya.

JawaPos.com – Keceriaan terpancar jelas dari wajah-wajah siswa kelas III SDN Bubutan IV Surabaya, Senin (16/1). Mereka asyik bermain beragam permainan tradisional.


Diandra Amelia Putri, misalnya. Dia mencoba memainkan egrang. Kedua tangannya memegang tongkat egrang. Kakinya mencoba memanjat egrang dan menjaga keseimbangan. Gagal. Diandra belum berhasil berjalan menggunakan egrang. Meski begitu, dia tidak patah semangat. Tidak sedih, senyumnya merekah setiap kali gagal dan berusaha berjalan dengan egrang. Di sisi lain pekarangan sekolah, Fara Azka Aulia tampak memainkan patil lele.


Selain egrang dan patil lele, ada dakon, jaranan, dan egrang batok. Saat bermain mereka ditemani Kak Haris Rizki yang mengenalkan berbagai permainan tradisional itu. Mereka juga didampingi para guru kelas.


Mike Naomi, guru kelas III-A, menyatakan bahwa kegiatan para siswa tersebut berkaitan dengan materi pelajaran. Yakni, tema 5 tentang permainan tradisional. Selama ini, kata Mike, beragam permainan anak diperoleh dengan cara membeli. ’’Jika mampu membeli, tidak masalah,’’ ujarnya.


Melalui materi tema 5, anak-anak bisa membuat secara mandiri beragam permainan tradisional. Egrang batok, misalnya. Batok kelapa banyak ditemui di pasar. Termasuk limbah dari pedagang es degan. Demikian juga dakon. Siswa bisa membuat papan dakon sendiri. Kemarin ada siswa yang menghasilkan papan dakon dari kertas kado dan tutup gelas plastik.


Melalui tematik permainan tradisional, menurut Mike, siswa bisa belajar banyak hal secara terintegrasi. Mulai seni budaya, keterampilan, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, matematika, hingga IPA. Seni budaya, misalnya. Siswa jadi lebih mengenal ragam dan penggunaan permainan tradisional. Selain itu, siswa mengenal kekayaan bahasa Jawa. Misalnya, congklak yang sama dengan dakon. ’’Anak-anak belajar matematika melalui biji-biji dakon,’’ tuturnya.



Bukan hanya itu, permainan tradisional juga bisa membuat anak aktif dan kreatif. ’’Mereka bisa berkompetisi sehat dan menghargai teman,’’ ungkapnya. (puj/c15/nda/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore