Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Januari 2017 | 13.00 WIB

Trump Mengkritik Habis Kebijakan Jerman

FOKUS: Donald Trump. - Image

FOKUS: Donald Trump.


JawaPos.com – Kian mendekati hari pelantikan, Donald Trump, presiden terpilih AS, membeber kebijakan luar negerinya. Dalam wawancara dengan media Inggris dan Jerman, tokoh 70 tahun tersebut banyak membahas Kanselir Angela Merkel. Bersamaan dengan itu, Tiongkok memperingatkan Trump tentang One China Policy.



”Sampai saat ini, Merkel masih menjadi pemimpin paling penting di Eropa,” kata Trump sebagaimana dirilis harian Bild kemarin (16/1). Namun, pengganti Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama itu mengkritik kebijakan Merkel soal imigran. Sebagai sosok yang tidak ramah imigran, Trump menganggap Merkel telah salah langkah dengan membiarkan banyak imigran masuk Jerman.



”Mempersilakan lebih dari 1 juta imigran masuk wilayahnya adalah kesalahan Merkel yang paling fatal,” ucap pebisnis asal Manhattan tersebut. Tapi, bukan hanya bagi Jerman, isu imigran memang menjadi masalah besar bagi negara-negara Uni Eropa (UE) yang lain. Inggris misalnya. Menurut Trump, Brexit alias keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa adalah dampak terbesar krisis imigran tersebut.



”Andai UE tidak mengharuskan negara-negara anggotanya menampung imigran dalam jumlah besar berikut masalah-masalahnya, saya yakin tidak akan pernah ada Brexit,” ungkapnya kepada The Times. Karena itu, Trump bakal menerapkan aturan imigrasi superketat di AS sebagai salah satu cara menangkis masalah. Dia berjanji menerapkan kebijakan yang menuai banyak protes itu pada hari pertama pemerintahannya.



Dalam kesempatan tersebut, Trump juga kembali mengkritik Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Dia menganggap organisasi yang terbentuk pada 1949 itu bermasalah. ”Satu, jelas karena visi dan misi NATO sudah ditetapkan bertahun-tahun lalu. Dua, karena ada negara-negara yang tidak membayar sepeser pun untuk menikmati perlindungan NATO. Seharusnya mereka membayar,” ungkap suami Melania Knauss itu.



Kepada The Times dan Bild, Trump menegaskan bahwa prioritas pemerintahannya nanti adalah perdagangan cerdas. Bukan perdagangan bebas. ”Kami akan merumuskan kesepakatan dagang yang adil dan menguntungkan bagi rakyat kami,” katanya. Dia mengaku akan segera membahas defisit dagang AS dengan negara-negara yang bermitra dengan Washington, terutama Tiongkok.



Sementara itu, tentang Twitter, Trump menyatakan akan tetap menggunakan media sosial tersebut sebagai alat komunikasi. Meski sudah menjabat presiden nanti, ayah Ivanka itu tetap melanjutkan kebiasaannya bermain Twitter. ”Media sering memberitakan saya dengan tidak jujur. Sangat tidak jujur. (Dengan Twitter) saya tinggal mengetik dan mereka akan langsung memberitakannya,” kata dia.



Bersamaan dengan itu, Beijing mengkritik rencana Trump untuk menegosiasikan Kebijakan Satu Tiongkok (One China Policy). Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying menegaskan bahwa kebijakan yang berjalan sejak 1979 itu tidak bisa ditawar lagi. ”Siapa pun yang berusaha menawarnya akan menghadapi perlawanan dan bisa ditembak kakinya,” kata Hua.



Kemarin China Daily menyebut upaya Trump untuk menawar kebijakan yang tak pernah diusik sejak pertama diterapkan itu sebagai provokasi. ”Kebijakan tentang Taiwan akan membuka kotak pandora menuju hal yang mematikan,” terang harian tersebut. Sebab, dengan mengakui Taiwan sebagai negara, pemerintahan Trump sama saja mendukung kemerdekaan wilayah yang masih tercatat sebagai bagian dari Tiongkok itu. (AFP/Reuters/BBC/hep/c10/sof/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore