
Rumah anti gempa karya anak bangsa
JawaPos.com – Indonesia berada di jalur cincin api dan rawan bencana. Berbagai bencana yang terjadi tentu membuat pemerintah melakukan berbagai proses mitigasi bencana. Belum lagi penanganan masalah pengungsi dan setelah bencana terjadi. Sejumlah negara yang rawan bencana seperti Jepang, memiliki rumah khusus tahan gempa bagi warganya. Bagaimana dengan Indonesia?
Belajar dari berbagai bencana yang terjadi, anak bangsa melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menciptakan sebuah karya yaitu rumah tanggap darurat. Rumah tersebut dinamakan rumah komposit, yang bermakna rumah dengan berbagai bahan material. Rumah itu bisa dirakit kira-kira dalam waktu 20 jam. Pengiriman bahan-bahan juga dapat dilakukan dengan jalur darat, laut, atau udara ke lokasi bencana.
“Kami terinspirasi dari penanggulangan bencana dengan sistem delivery yang cepat. Contohnya 20 jam misalnya rumah dirakit sampai jadi. Sebelum ini dikirim siapkan komponennya, dinding dan jendelanya. Ini baru prototipe dan akan diuji kembali,” tegas Ketua Tim Pembuatan Rumah Komposit Darurat, Asep Riswoko di Puspitek, Tangerang Selatan, Senin (16/1).
Direktur Pusat Teknologi Material BPPT ini menambahkan berdasarkan data kebutuhan nasional untuk mitigasi bencana membutuhkan rumah 6 juta unit. Pihaknya kini masih mencari sejumlah investor atau menggandeng pemerintah untuk melakukan produksi massal.
Saat masuk ke dalam rumah komposit, rumah tipe 36 ini sangat layak dihuni mirip seperti rumah hunian pada umumnya. Cocok dihuni untuk keluarga kecil atau pengantin baru. Dilengkapi dengan satu ruang tamu, kamar tidur, dan kamar mandi serta ruang yang dapat digunakan untuk dapur.
“Kami punya alatnya, seandainya ini jadi proyek nasional misalnya Kementerian Sosial dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pengadaan rumah tanggap darurat bencana, kami tinggal siapkan stok misalnya 1000 unit,” jelas Asep.
Sebagai pengembangan nantinya rumah tersebut dapat dilengkapi dengan teknologi tenaga surya (solar cell) atau dengan teknologi penyulingan air laut. Lamanya penggunaan rumah ini di lokasi bencana akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
“Tergantung kebutuhan di masyarakat, kalau ketahanan bangunan ini sudah kami uji tahan goncangan atau tahan patah meskipun akan diuji kembali nanti di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Ini hanya sebagai salah satu solusi dari kami,” kata Asep.
Berbagai bahan material digunakan untuk membuat rumah komposit ini. Seperti bahan non metal, styrofoam, dan bahan lainnya untuk lantai antibakteri. Sejumlah bahan juga bekerjasama dengan pihak asing untuk menyediakan materialnya.
“Saat ini pembuatannya memang masih mahal. Kami berharapnya satu rumah bisa di bawah Rp 50 juta agar sesuai dengan program pemerintah,” jelas Asep. (cr1/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jadi Tersangka, Ini Kronologi Penipuan yang Dilakukan Ruben Onsu
Ruben Onsu Jadi Tersangka, Begini Reaksi Pengacara Minola Sebayang
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Alaves: Momentum Tuan Rumah Bangkit!
Respons Tantangan Wagub Kalbar, Gubernur Jabar KDM: Mohon Maaf, Tak Maksud Membandingkan
Ruben Onsu Ditetapkan Tersangka Kasus Penipuan dan Penggelapan, Dipanggil Minggu Depan
Prediksi Skor Marseille vs Strasbourg: Rekor 15 Laga Jadi Modal Les Phoceens
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Thailand vs Vietnam Leg 1 Final Piala AFF 2026: Gajah Perang Terlalu Perkasa di Rajama
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
