Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Januari 2017 | 01.38 WIB

Rovidin Riza dan Siti Harianti Melangsungkan Pernikahan di Tengah Banjir

PENGANTIN BASAH: Rovidin Riza melintasi banjir dengan mengenakan pakaian pengantin lengkap. Suasana mirip pesta di kampung terapung. - Image

PENGANTIN BASAH: Rovidin Riza melintasi banjir dengan mengenakan pakaian pengantin lengkap. Suasana mirip pesta di kampung terapung.

Luapan Sungai Kandangan menggenangi Kelurahan Tambak Sarioso sejak Kamis (12/1) hingga Minggu (15/1). Tidak terkecuali pesta pernikahan Rovidin Riza dan Siti Harianti. Dalam pesta itu, kedua mempelai dan para tamu terpaksa ’’nyeker’’ alias tidak menggunakan alas kaki.



SALMAN MUHIDDIN



RIZA tidak pernah membayangkan hari bahagia itu berlangsung di tengah kepungan air. Apalagi, sepanjang dia tinggal di sana, baru kali ini banjir menggenangi rumahnya di perkampungan Tambak Sarioso. Bahkan, banjir juga mengacaukan pesta pernikahannya.


Meski demikian, jadwal telanjur disusun. Dalam kondisi apa pun, pesta tetap harus berlangsung. Kemarin pagi pasangan berbahagia tersebut juga diarak dengan berjalan kaki. Acara ngunduh mantu dilakukan dari rumah Siti di Tambak Osowilangon ke rumah Riza di Tambak Sarioso. Jaraknya tidak terlampau jauh. Hanya dipisahkan Sungai Kandangan. Arak-arakan dilangsungkan dengan tabuhan rebana remaja masjid setempat.


Dalam arak-arakan tersebut, air memang masih menggenang. Karena itu, pengantin dan pengiring harus pintar-pintar memilih jalan. Pertama, kedua mempelai harus melintasi Jembatan Branjangan. Para pengiring harus mlipir di pinggir jalan. Bergantian dengan truk-truk yang melintas. Maklum, di sana tidak ada jalur pedestrian. Sesampai di depan mulut gang rumah, Riza terpaksa mengelus dada. Tampaknya, ketinggian air masih 30 cm. Kalau dipaksakan berjalan kaki, baju pestanya bisa basah.


Untungnya, saat itu ada mobil tetangga yang hendak keluar kampung. Tetangga yang baik hati itu pun menawarkan tumpangan agar pengantin bisa sampai rumah. Lalu, bagaimana dengan iring-iringannya? ’’Ketinggalan di belakang,’’ kata Riza, lantas menepuk keningnya.


Panggung pelaminan yang didirikan di depan rumahnya pun bak geladak di kampung terapung. Para tamu yang hadir harus melintasi sungai ’’dadakan’’ untuk sekadar berfoto dengan pengantin. Mereka harus mengangkat celana dan rok untuk sampai di atas panggung. Sepatu yang dipakai pun harus dilepas. Hasilnya, acara pernikahan tersebut dilangsungkan dengan bertelanjang kaki.


Meski bencana melanda hari bahagia, pengantin tidak menunjukkan raut wajah kesal. Mereka justru terkekeh saat para tetangga menggoda mereka. Siti tidak sanggup menahan tawa saat prosesi foto. Keduanya harus suap-suapan. ’’Cie-cie,’’ teriak para tamu. Makanan belum dilahap Riza, sendok sudah ditarik. Suasana pun melumer.


Selesai melihat sesi foto, para tetangga berlanjut menguras rumahnya pakai ember dan gayung. Ada juga yang tidak mau ribet dengan mengoperasikan pompa. Sebelum azan duhur berkumandang, air mulai surut. Namun, air di dalam rumah warga masih seperti kolam.


Pria yang bekerja sebagai pegawai koperasi itu mengungkapkan, acara masih dilanjutkan saat malam tiba. Jadwal malam giliran teman-teman kerjanya yang bertamu. Riza hanya berharap hujan tidak lagi turun. Sebab, sejak akad nikah pada Jumat (13/1) kampungnya kebanjiran.


Bahkan, saat itu Riza tidak memakai baju pernikahan. Dia berangkat dari rumahnya dengan menggunakan baju biasa. ’’Sarungan. Ganti klambi nang kono (Pakai sarung. Ganti baju di sana, Red),’’ ucapnya.


Namun, Riza bisa mengambil hikmah dari musibah tersebut. Jika tidak banjir, pernikahannya bakal biasa-biasa saja. Namun, karena banjir, pernikahannya dikorankan dan masuk TV. ’’Aku yo kaget. Tapi dibikin seneng saja,’’ ungkapnya.


Tidak jauh dari lokasi, tentangga Riza juga melangsungkan pernikahan. Yakni, pasangan Desi Ratnasari dan Muhammad Abas. Namun, keduanya beruntung. Sebab, genangan sudah surut saat acara dilangsungkan siang.



Riza berharap pemerintah bisa menyelesaikan masalah itu secepatnya. Dia tidak ingin ada lagi pernikahan yang kebanjiran sebagaimana yang dialami. ’’Pemerintah harus kerja cepat. Tidak perlu saling menyalahkan,’’ jelasnya. (*/c15/git/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore