
Ilistrasi
JawaPos.com - Rencana pelegalan pungutan di sekolah tengah menjadi perbincangan hangat. Tidak hanya praktisi di dunia pendidikan, politikus DPRD Kaltim juga turut mengamati perkembangan wacana tersebut.
Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Zain Taufik Nurrohman memandang positif rencana penarikan sumbangan dari masyarakat. Disebutnya, itu sebagai partisipasi dalam pengembangan pendidikan. Sebab, hakikatnya, tak ada pendidikan gratis seperti yang dielukan selama ini. “Yang ada pendidikan itu mahal. Selama ini, ada penyesatan informasi gratis,” kata Zain.
Makna gratis tak lebih hanya slogan politik kepala daerah, partai politik, dan kalangan politik tertentu. Sebab, tetap ada penyandang dana penyelenggaraan pendidikan tersebut. Yang telah berjalan selama ini, dengan bantuan operasional sekolah (BOS).
Semisal negara mampu, tentu bagus. Tapi, dalam kondisi keuangan yang defisit seperti sekarang, partisipasi masyarakat diperlukan. Dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun diatur demikian. Masyarakat sebagai komponen yang turut berpartisipasi.
Namun, perlu diatur bentuk partisipasi yang boleh dipungut. Itu merupakan ranah teknis. Tentu, para pelaku di satuan pendidikan yang paham dengan itu. Dalam penerapannya, terang dia, mesti dibuatkan payung hukum sebagai pedoman. Untuk di level SMA/SMK, bisa dibuatkan peraturan gubernur untuk melegalkan pungutan tersebut.
Sementara itu, di tingkat SD dan SMP dengan peraturan bupati/wali kota. Jauh lebih bagus lagi, katanya, Mendikbud menerbitkan peraturan menteri. “Jangan sampai bermasalah, dianggap pungli. Malah berurusan dengan tim Saber Pungli (Sapu Bersih Pungutan Liar) nanti,” ingatnya.
Di samping itu, perlu ada sosialisasi yang intens sehingga orang tua siswa atau masyarakat paham dari pungutan tersebut. Bukan dianggap pungli. Terpenting dari itu semua, pungutan sekolah tak boleh memberatkan. Maka, komunikasi sekolah dengan komite masyarakat harus dilaksanakan.
“Memang ada realita siswa dari keluarga mampu dan tidak. Perlu ada mekanisme yang diatur dan disepakati bersama. Bisa lebih kecil atau digratiskan,” ucap politikus PAN itu. Meski demikian, Zain meyakini sepanjang regulasi tersebut tepat dan dijalankan disiplin, tak ada persoalan. “Pihak manapun pasti tidak ada yang mau bermasalah,” imbuhnya. (ril/rom/k15/fab/JPG)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
