
BANYAK IDE: Immanuel Kefas Setiawan (kiri) bersama dua rekannya, Sofia Maria dan Muhammad Qowim, memamerkan beberapa karya seni kerajinan kayu di workshop mereka pada Sabtu (14/1).
Tambah banyak anak muda di Kota Delta yang nyemplung ke sektor industri kreatif. Salah satunya Immanuel. Tumpukan sisa buangan kayu yang sudah tidak terpakai diolah menjadi beragam karya. Tidak hanya fungsional, tetapi juga bernilai seni tinggi.
FIRMA ZUHDI AL FAUZI
KANTONG berwarna cokelat dari goni itu berukuran 25 x 15 sentimeter. Jahitan di sekelilingnya terlihat rapi. Di bagian depan terdapat tali pengikat mirip akar kayu yang berfungsi sebagai penutup kantong. Setelah ikatan tali itu dibuka, di dalam kantong ternyata ada kertas undangan pernikahan. Warnanya pun cokelat. Semua tampak begitu natural.
’’Undangan pernikahan dengan konsep recycle ini salah satu karya yang saya buat,’’ ujar Nano, panggilan akrab Immanuel Kefas Setiawan, di workshop miliknya di Jalan Langgar Panggung, Buduran, pada Sabtu malam (14/1).
Sejurus kemudian, dia tampak tersenyum simpul. Olala, undangan pernikahan tersebut ternyata miliknya sendiri. Nano akan menikah dengan Sofia Maria pada 14 Mei mendatang. ’’Mohon doanya,’’ lanjut Nano, lantas tersenyum lebar.
Di dinding workshop berukuran 8 x 6 meter itu juga terdapat banyak karyanya yang lain. Ada beberapa miniatur dari kayu seperti mobil F1, pesawat perang, sepeda, motor Harley-Davidson, dan miniatur unik lainnya. Ada juga jam dinding dari kayu, kacamata dari kayu, dan pigura. Hanya butuh waktu sehari bagi Nano untuk bisa menyelesaikan satu miniatur. Dia menjualnya Rp 100 ribu–Rp 200 ribu, bergantung tingkat kesulitan.
’’Yang jam dinding tadi itu karya pertama saya. Kayunya ada motifnya, menyerupai akar,’’ kata pria kelahiran Sidoarjo, 27 Oktober 1985, tersebut. Selain yang menempel di dinding, karyanya yang tergeletak di lantai tidak kalah beragam. Ada wood relief, meja kecil berukir, serta sepeda roda tiga dari kayu yang biasanya digunakan anak-anak.
’’Ini sepeda dibuat dari kayu semua, kecuali rodanya. Tapi, velgnya tetap dari kayu. Setiap keponakan datang ke sini pasti langsung menaikinya,’’ kata alumnus SMAN 2 Sidoarjo itu. Maklum, konsepnya memang menarik perhatian.
Nano menjelaskan, barang-barang di workshop yang dinamakan Serenity Creative itu hanya tinggal sedikit. Sebagian besar sudah diambil pemesannya. Begitu barang jadi, Nano segera mengirimkannya. Kadang ada yang mengambil sendiri. ’’Yang tergeletak di sini kebanyakan barang yang masih belum selesai,’’ ungkapnya. Misalnya, wood relief tadi. Masih banyak komponen dari kayu yang belum terpasang. Misalnya, logo kafenya serta bentuk-bentuk lain dari kayu yang digunakan untuk hiasan. Namun, dengan dibantu dua rekannya, Nano bisa menyelesaikan wood relief tadi dalam beberapa hari mendatang.
Pembuatan wood relief semacam itu memang cukup sulit dibandingkan karya Nano lainnya. Selain ukurannya yang besar –terkadang bisa lebih dari 2 meter, ornamen tambahan dari kayu yang dipasang tergolong rumit. Harus disusun satu per satu agar membentuk desain yang diinginkan. Pemasangan ornamennya kadang bisa menghabiskan ratusan potong kayu berukuran 5 x 3 sentimeter.
Wood relief tersebut digunakan untuk interior dinding. Biasa ditempel di dinding kafe, restoran, atau bar. Rumah dengan konsep vintage juga cocok. Selain untuk hiasan agar terkesan natural, wood relief tidak jarang ditambahkan kotak-kotak tertentu untuk penyimpanan barang. Bisa untuk mencantolkan gelas, menyimpan botol minuman, atau menjadi tempat untuk menempelkan menu.
Sejak membuka usahanya pada Agustus 2016, Nano dan kawan-kawannya terbiasa mendesain interior kafe. Mulai meja, kursi, desain dinding, atap, sampai beragam papan petunjuk. ’’Kadang kafe minta didesain dan dibuatkan semua kebutuhan interiornya. Kami buatkan gambarnya dulu. Kalau deal, langsung kami garap,’’ jelas Nano.
Biaya yang dibanderol untuk menggarap interior satu kafe lengkap dengan woodcraft-nya sekitar Rp 20 juta. ’’Ada yang minta desain natural dengan menambahkan ranting-ranting pohon dan tambahan gambar-gambar gunung, macam-macam,’’ paparnya.
Walaupun semua karyanya terbuat dari kayu, Nano berprinsip harus selalu memanfaatkan barang bekas. Biasanya menggunakan kayu-kayu sisa industri yang sudah tidak terpakai. ’’Kayu tadi kami kumpulkan dari pabrik-pabrik pengolahan kayu yang sudah tidak mereka pakai. Sebulan biasanya saya ambil satu pikap,’’ ucapnya.
Meski memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai dan terkadang menjadi limbah, karya seni yang dihasilkan ternyata memunculkan kesan natural. ’’Kadang tetap ada tambahan yang bukan barang bekas. Seperti tripleks untuk dasar wood relief maupun besi penyangganya. Tapi, sebagian besar bahannya dari bahan bekas semua,’’ tuturnya.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
