Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Januari 2017 | 22.54 WIB

Tekan Angka Kematian Ibu Melahirkan, Penyebabnya Preeklampsia dan Pendarahan

SUPAYA TAHU: Dokter Brahmana Askandar SpOG(K) (kiri) dan dr Agus Sulistyono SpOG (K) (tengah) menjelaskan bahaya preeklampsia Minggu (15/1) kepada pengunjung car free day. - Image

SUPAYA TAHU: Dokter Brahmana Askandar SpOG(K) (kiri) dan dr Agus Sulistyono SpOG (K) (tengah) menjelaskan bahaya preeklampsia Minggu (15/1) kepada pengunjung car free day.

JawaPos.com – Angka kematian ibu di Surabaya pada 2016 mencapai 35 orang. Penyebabnya adalah preeklampsia dan pendarahan.


Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Regional Surabaya Minggu (15/1) melakukan sosialisasi saat car free day (CFD) di Jalan Darmo.


Menurut Ketua POGI Surabaya dr Brahmana Askandar SpOG(K), sosialisasi itu dilakukan untuk memberikan edukasi kepada pasangan suami istri dan calon pasangan suami istri.


CFD dipilih karena banyak warga yang berkumpul di sana. ’’Kami harus mengedukasi masyarakat untuk merencanakan kehamilan. Bahkan sejak sebelum menikah,’’ jelasnya.


Perencanaan kehamilan, menurut dia, menyukseskan keberhasilan keluarga yang sejahtera. Calon orang tua akan siap memiliki keturunan. Selain itu, kondisi ibu dan janin pasti terpantau.


Sementara itu, Ketua Satgas Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (Penakib) Surabaya dr Agus Sulistyono SpOG (K) menjelaskan bahwa penyebab terbanyak kematian ibu hamil adalah eklampsia atau keracunan kehamilan yang ditandai peningkatan tekanan darah.


’’Yang kedua karena pendarahan,’’ katanya. Menurut Agus, hal itu seharusnya bisa ditanggulangi. Setidaknya diprediksi bahwa ibu berisiko mengalami eklampsia dan pendarahan.


Sebelum eklampsia, ibu biasanya mengalami preeklampsia. Ada berbagai risiko yang mengakibatkan si ibu mengalami preeklampsia.


Jika sudah bisa terprediksi mengalami preeklampsia, seharusnya calon orang tua mendatangi rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. ’’Kalau terjadi apa-apa, tenaga medis dan alatnya siap,’’ tuturnya.


Ibu hamil yang menderita eklampsia terancam mengalami pecah pembuluh darah, paru-paru basah, serta gangguan pada jantung dan ginjal. Bukan hanya itu, bayi pun mempunyai risiko yang lebih buruk.


Salah satu faktor penyebab eklampsia adalah banyaknya ibu hamil yang belum menyadari pentingnya memeriksakan kandungan. Mengandung masih dianggap proses normal.


Padahal, jika mempunyai riwayat eklampsia, ibu hamil harus selalu dipantau. Sebab, bisa terjadi kejang akibat eklampsia setelah melahirkan.


Preeklampsia dulu diketahui pada trimester ketiga. Sekarang beberapa kasus bisa diketahui pada usia kandungan yang lebih muda. Jika ketahuan sejak dini, ibu hamil yang mengalami preeklampsia bisa diberi obat-obatan agar terhindar dari eklampsia.


’’Jika sudah terkontrol, risiko selamat akan lebih besar,’’ ungkapnya. Agus menyatakan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Cabang Surabaya bersama POGI sudah bersepakat memberikan pelayanan maksimal kepada ibu yang berada dalam kondisi gawat.


Bahkan, beberapa rumah sakit telah membebaskan biaya untuk merawat ibu melahirkan yang kondisinya kurang mampu. ’’Jangan ditunggu hingga kejang, lalu dibawa ke rumah sakit,’’ tegasnya yang ditemui di tempat yang sama. (lyn/c14/jan/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore