
SUPAYA TAHU: Dokter Brahmana Askandar SpOG(K) (kiri) dan dr Agus Sulistyono SpOG (K) (tengah) menjelaskan bahaya preeklampsia Minggu (15/1) kepada pengunjung car free day.
JawaPos.com – Angka kematian ibu di Surabaya pada 2016 mencapai 35 orang. Penyebabnya adalah preeklampsia dan pendarahan.
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Regional Surabaya Minggu (15/1) melakukan sosialisasi saat car free day (CFD) di Jalan Darmo.
Menurut Ketua POGI Surabaya dr Brahmana Askandar SpOG(K), sosialisasi itu dilakukan untuk memberikan edukasi kepada pasangan suami istri dan calon pasangan suami istri.
CFD dipilih karena banyak warga yang berkumpul di sana. ’’Kami harus mengedukasi masyarakat untuk merencanakan kehamilan. Bahkan sejak sebelum menikah,’’ jelasnya.
Perencanaan kehamilan, menurut dia, menyukseskan keberhasilan keluarga yang sejahtera. Calon orang tua akan siap memiliki keturunan. Selain itu, kondisi ibu dan janin pasti terpantau.
Sementara itu, Ketua Satgas Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi (Penakib) Surabaya dr Agus Sulistyono SpOG (K) menjelaskan bahwa penyebab terbanyak kematian ibu hamil adalah eklampsia atau keracunan kehamilan yang ditandai peningkatan tekanan darah.
’’Yang kedua karena pendarahan,’’ katanya. Menurut Agus, hal itu seharusnya bisa ditanggulangi. Setidaknya diprediksi bahwa ibu berisiko mengalami eklampsia dan pendarahan.
Sebelum eklampsia, ibu biasanya mengalami preeklampsia. Ada berbagai risiko yang mengakibatkan si ibu mengalami preeklampsia.
Jika sudah bisa terprediksi mengalami preeklampsia, seharusnya calon orang tua mendatangi rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. ’’Kalau terjadi apa-apa, tenaga medis dan alatnya siap,’’ tuturnya.
Ibu hamil yang menderita eklampsia terancam mengalami pecah pembuluh darah, paru-paru basah, serta gangguan pada jantung dan ginjal. Bukan hanya itu, bayi pun mempunyai risiko yang lebih buruk.
Salah satu faktor penyebab eklampsia adalah banyaknya ibu hamil yang belum menyadari pentingnya memeriksakan kandungan. Mengandung masih dianggap proses normal.
Padahal, jika mempunyai riwayat eklampsia, ibu hamil harus selalu dipantau. Sebab, bisa terjadi kejang akibat eklampsia setelah melahirkan.
Preeklampsia dulu diketahui pada trimester ketiga. Sekarang beberapa kasus bisa diketahui pada usia kandungan yang lebih muda. Jika ketahuan sejak dini, ibu hamil yang mengalami preeklampsia bisa diberi obat-obatan agar terhindar dari eklampsia.
’’Jika sudah terkontrol, risiko selamat akan lebih besar,’’ ungkapnya. Agus menyatakan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Cabang Surabaya bersama POGI sudah bersepakat memberikan pelayanan maksimal kepada ibu yang berada dalam kondisi gawat.
Bahkan, beberapa rumah sakit telah membebaskan biaya untuk merawat ibu melahirkan yang kondisinya kurang mampu. ’’Jangan ditunggu hingga kejang, lalu dibawa ke rumah sakit,’’ tegasnya yang ditemui di tempat yang sama. (lyn/c14/jan/sep/JPG)

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
