
SEJAK DINI HARI: Para pasien mengantre untuk mendapatkan pelayanan di Instalasi Rawat Jalan RSUD dr Soetomo.
Ide besar jaminan kesehatan nasional (JKN) belum dibarengi dengan rapinya praktik di lapangan. Tak percaya? Datang saja ke Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSUD dr Soetomo pada dini hari. Ribuan orang berjubel. Mereka memburu ’’tiket sehat’’, kamar, dan tindakan medis lain.
ADA 47 orang di depan gerbang IRJ RSUD dr Soetomo Rabu lalu (11/1). Hari masih dini. Pukul 02.30. Langit masih kelam. Lampu penerangan jalan juga terus berpendar. Cukup sejuk. Prakiraan cuaca di layar Android menunjukkan angka 23 derajat Celsius.
Gerbang IRJ RSUD dr Soetomo berada di sisi utara, dekat dengan Gedung Geriatri. Bentuknya mirip lorong dengan lebar sekitar 5 meter. Di depan pagar berwarna putih itu, terbagi tiga barisan yang berisi 47 orang itu.
Barisan paling kanan yang paling rapi. Ada 16 orang yang semuanya membawa tas map yang berisi berkas-berkas. Terlihat mereka sudah akrab. Mereka ngobrol satu sama lain. ”Iki nggoleki mbok enom (Ini mencari istri muda, Red),” tutur bapak-bapak usia 40 tahunan yang baru datang. Dia menggendong balita berumur kurang lebih dua tahun. Sontak, tawa mereka pun menggelegar. ”Aku titip sebentar. Mau ambil susu,” sambung lelaki itu. Dia lantas menyerahkan anak yang digendongnya kepada perempuan yang berada paling depan.
Sementara itu, di barisan tengah, yang rapi hanya tumpukan mapnya. Jawa Pos tidak bisa memastikan jumlah map yang ada dalam barisan tersebut. Tapi, panjangnya tidak kurang dari 1,5 meter. Di kanan, kiri, dan barisan map, terdapat 23 orang yang duduk-duduk. Ada yang berbincang. Ada yang terkantuk-kantuk. Ada pula yang tidur dengan posisi duduk.
Nah, barisan paling kiri paling amburadul. Di bagian depan memang ada tumpukan map. Namun, di belakang barisan tumpukan map, ada yang menggelar tikar plastik. Seorang perempuan setengah baya tidur meringkuk. Dia berkerudung hijau tosca, berjaket hitam, dan memakai rok bunga-bunga yang dominan berwarna hijau. Di tikar plastik itu juga ada dua orang laki-laki yang asyik bercakap-cakap. Di belakangnya, ada pria berjenggot putih yang tidur bersandar dinding. Di luar tiga barisan tersebut, terdapat enam pria yang berdiri.
Jawa Pos tidak langsung bergabung dengan mereka. Koran ini memilih berbincang dengan penjual minuman di trotoar depan IRJ. Penjual itu menerangkan soal tiga antrean tersebut. Katanya, barisan paling kanan adalah pasien lama yang sudah memiliki rekam medis. Itu terlihat dari kartu kuning yang mereka bawa di map. Sementara itu, barisan di tengah adalah antrean untuk pasien baru yang tergolong lansia dan dewasa. Yang paling kiri adalah barisan pasien baru khusus anak-anak.
Semakin pagi, antrean menjulur kian panjang. Menjelang pukul 03.30, ekor antrean sudah jauh. ”Mbak langsung antre saja biar dapat nomor cepat,” kata penjual dengan logat medok. ”Nanti tanya orang yang di antrean harus gimana,” lanjutnya.
Begitu masuk barisan, wartawan ditanya untuk pasien usia berapa. Jawa Pos berpura-pura akan mengantre untuk kakek usia 73 tahun dengan keluhan kanker nasofaring atau tenggorokan. ”Mana berkasnya? Kalau pasien baru, yang antre mapnya,” jelas pria barisan tengah yang paling belakang. Dia adalah Abdullah, 58. Karena Jawa Pos tidak membawa map, Abdullah bersedia meminjami. ”Nanti setelah mendapat nomor loket, berkasnya dikembalikan ya,” pesannya.
Abdullah juga pasien baru. Kanker kelenjar getah bening membuat leher bagian kanannya membengkak seukuran kepalan tangan anak-anak. Abdullah berasal dari Bojonegoro. Untuk mendapatkan antrean, dia rela berangkat dari Bojonegoro pada Selasa malam. Tidak ada sanak keluarga yang mengantarnya.
Sebelum ke IRJ, Abdullah menumpang tidur di selasar IGD RSUD dr Soetomo. Temannya hanya tas selempang berwarna cokelat yang agak pudar. Tas tersebut berisi dompet dan berkas-berkas. Abdullah mengenakan kopiah putih dan baju batik yang dominan hijau. ”Tidak kos. Sungkan kalau malam-malam seperti ini keluar kos. Di IGD juga tidurnya malah ditemani banyak orang,” tuturnya.
Hari itu Abdullah berencana untuk melakukan biopsi dan rontgen. Berdasar keterangan yang dia dapat, setelah rontgen dan biopsi, Abdullah akan menjalani kemoterapi.
Sebelum ke Surabaya, dia mendapat pesan dari kerabatnya agar sampai Surabaya sebelum pukul 00.00. Kerabatnya itu pula yang menyarankan agar sesampainya di RSUD dr Soetomo, Abdullah membeli air mineral 1,5 liter. Isinya dibuang, lalu botolnya diberi identitasnya. ”Katanya, yang antre botolnya. Tapi, ternyata tidak boleh. Itu ada pengumumannya,” tuturnya dengan logat Jawa yang sangat kental.
Di teras dekat Gedung Geriatri, memang ada spanduk bertulisan: Pasien jaminan (BPJS, Jamkesmas, SKTM, dll) dilarang menggunakan antrean botol. Langsung antre di mesin antrean loket. Buka jam 06.00–13.00. Dalam spanduk tersebut, juga tertera pengumuman agar pasien menghindari calo. Sejak akhir tahun, pasien memang tidak boleh lagi antre dengan menggunakan botol.
Kebijakan melarang antre botol itu dikeluhkan Suyanto, orang tua salah seorang pasien. Sudah dua tahun ini anak Suyanto harus menjalani kemoterapi untuk membunuh sel kanker pada mata kanannya. ”Dulu habis magrib bisa antre botol dan mendapat nomor awal. Sekarang harus nunggu seperti ini,” katanya saat ditemui di sela-sela antre.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
