
BERANINYA KEROYOKAN: Tersangka Farid Maulana (kaus merah depan) memperagakan adegan menendang korban M. Djohan Arifin alias Ipin.
JawaPos.com – Kronologi penganiayaan yang berujung tewasnya M. Djohan Arifin alias Ipin kini mulai jelas. Dalam 27 adegan rekonstruksi yang digelar di Kafe SO, Jalan Kayoon, kemarin (16/1), terungkap bahwa Ipin tewas setelah dihajar beramai-ramai dan dibiarkan tenggelam di sungai.
’’Rekonstruksi berlangsung untuk melengkapi BAP (berita acara pemeriksaan) yang ada,’’ ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Bina Gunawan Silitonga.
Walau masih memburu dua pelaku yang lain, yakni Sunar dan Faikur Rohman alias Pak Ek, polisi tetap menggelar reka ulang tersebut. Menurut dia, keterangan yang sama di antara dua pelaku yang tertangkap, yakni Farid Maulana dan Romadhon, sudah memenuhi syarat digelarnya proses rekonstruksi.
Pada rekonstruksi kemarin, Farid dan Romadhon dihadirkan langsung untuk memerankan adegan penganiayaan pada 1 Januari lalu. Sedangkan Sunar dan Pak Ek diperankan pemeran pengganti. Reka ulang dimulai pukul 10.00 kemarin.
Berlokasi di sekitar Kafe SO, polisi memerintah Farid dan Untung agar mengulangi penganiayaan. Adegan demi adegan dilakukan, sesuai dengan yang dilakukan dua pelaku saat menghabisi Ipin. Dari situ tergambar jelas bagaimana empat empat pelaku menghajar Ipin mulai di dalam kafe hingga keluar tepat di mulut sungai oleh empat pelaku.
Dalam rekonstruksi itu, juga digambarkan bagaimana penganiayaan tersebut bermula dari cekcok antara Farid dan Ipin. Perselisihan itu berawal dari senggolan Ipin pada bagian perut Farid dengan sikut. Perkelahian pun tak terhindarkan saat itu.
Bahkan, dalam adegan kelima, diperagakan bagaimana Farid menyeret Ipin keluar kafe untuk diajak berduel. Ipin sempat berontak. Namun, tiga pelaku lain ikut menyeret korban. Bahkan, mereka menghajar korban bersama-sama. Korban terluka parah. ’’Korban yang terluka parah saat itu berjalan miring di mulut sungai. Empat pelaku mengikuti dari belakang. Hingga akhirnya korban terjatuh dan dibiarkan tenggelam oleh empat pelaku,’’ terang Shinto.
Nah, dari seluruh proses rekonstruksi itu, Shinto menemukan beberapa kejanggalan. Terutama keterangan para saksi yang sangat detail menjelaskan kronologi penganiayaan tersebut. Polisi asal Medan itu menduga ada unsur kesengajaan membiarkan Ipin dianiaya dan tercebur ke sungai saat itu. ’’Empat saksi yang kita periksa sangat tepat menjelaskan kronologinya,’’ ujarnya.
Dalam rekonstruksi kemarin, Widjiastuti, adik Ipin, terlihat ikut menyaksikan. Semula dia terlihat biasa-biasa saja. Namun, begitu pelaku memperagakan penyiksaan kepada Ipin, Widjiastututi terlihat emosional. Tangisnya pecah. Tersedu-sedu. ’’Kamu kok kejam sekali,’’ kata Widjiastuti sambil terisak.
Bahkan, tangisannya semakin menjadi saat adegan Ipin dianiaya dan dibiarkan tercebur ke sungai. ’’Kakak saya itu orang baik, mengapa mereka tega seperti itu. Dibiarkan tenggelam ke sungai,’’ katanya. (rid/c4/git/sep/JPG)
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
