Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Januari 2017 | 03.11 WIB

Perjuangan Siti Fitriah, Pegiat Bank Sampah Meduran Bersatu (BSMB)

GESIT: Siti Fitriah mengendarai motor bak roda tiga untuk mengangkut sampah. - Image

GESIT: Siti Fitriah mengendarai motor bak roda tiga untuk mengangkut sampah.

Persepsi negatif terhadap sampah masih melekat pada sebagian orang. Dengan tekad kuat, Siti Fitriah berupaya mengubah pola pikir itu. Sampah tersebut menguntungkan.



NURUL KOMARIYAH



SUDAH lebih dari lima tahun Siti Fitriah menjadi pejuang sampah di Bank Sampah Meduran Bersatu (BSMB). Tepatnya pada 2011, saat BSMB baru terbentuk. Fitri, sapaan akrabnya, begitu penasaran mengenai sampah yang selalu dianggap bau, kotor, dan menjijikkan.


Kalau sampah dipilah dengan baik, kata dia, tidak akan ada bau. ’’Saya pernah masukkan kepala saya ke tong sampah. Juga nggak bau,’’ ujarnya. Menjadi pegiat persampahan merupakan jalan hidup pilihan Fitri. Tugas utamanya tidak hanya melulu soal mengangkut dan memilah sampah.


Perempuan 36 tahun itu lambat laun menyadari. Tugas terpenting seorang pejuang sampah tidak hanya mengangkut dan memilah sampah. Yang paling berat ialah mengubah pola pikir negatif masyarakat yang sudah melekat tentang sampah.


’’Di mana pun setiap kali saya jadi pemateri tentang pengolahan sampah, semua peserta menjawab sampah itu limbah, bau, penyebab banjir. Pokoknya yang jelek-jelek,’’ tambahnya. Bahkan, Fitri rela meninggalkan pekerjaannya sebagai salah satu pegawai perusahaan kontraktor.


Bagaimana upayanya? Mengubah mindset tentang sampah yang awalnya kumpul, angkut, lalu buang menjadi pilah, tabung, kemudian kerjakan sesuatu. ’’Sampah tidak melulu sesuatu yang negatif. Dari sampah kita bisa bayar SPP anak, beli sembako, maupun bayar listrik,’’ tutur Fitri.


Edukasi Fitri pun tidak selalu disambut hangat. Bahkan, dia pernah memperoleh ancaman dari pemulung. ’’Waktu itu pulang ambil sampah dari warga saya dihadang empat orang. Saya dianggap saingan,’’ ungkapnya. Namun, Fitri menyadari betul bahwa pekerjaan lapangan memang keras.


Namun, siapa pun itu, setelah dihadapi dan diberi pengertian, musuh pun bisa jadi kawan. Tiga kali dalam sepekan Fitri memang mengangkut sampah dari para nasabah bank sampah. Dia menyetir sendiri motor bak roda tiga (dorkas). Sebelum 2014, dia menyatakan harus mengangkut sampah dari rumah ke rumah. Namun, mulai 2014 dia menginisiasi adanya unit bank sampah di setiap RT/RW.


Juli 2016 Fitri diundang DPRD Kabupaten Gresik untuk membahas poin-poin pembentukan induk pengelolaan sampah. Salah satu poin yang dikatakan Fitri menyebutkan pentingnya peran serta masyarakat. ’’Saya katakan, PNS juga harus aktif menjadi penabung bank sampah. Biar merembet dan jadi contoh,’’ jelasnya.


Fitri menerangkan, dari total 441 penabung sampah di BSMB, tidak ada satu pun yang berstatus PNS. Hanya perorangan seperti ibu rumah tangga biasa. Juga, koletif seperti perusahaan, sekolah, dan puskesmas. Ibu dua anak itu tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk menimba ilmu mengenai bank sampah.


Dalam berbagai kesempatan, Fitri bertemu dengan beberapa tokoh penting dan berpengaruh. Salah satunya mantan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya. Juga, pencetus Bank Sampah Indonesia Bambang Suwerda. ’’Kalau ketemu orang-orang begitu, saya ikut aja supaya dapat ilmunya,’’ ungkapnya. Dengan ilmu, Fitri merasa lenih matang dan percaya diri dalam memberikan edukasi. (*/c15/roz/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore