Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Januari 2017 | 01.19 WIB

Sentra Kuliner Mangrove Andalan Pemkot Itu Sepi Pengunjung

MERANA: Para pedagang Sentra Kuliner Mangrove mengeluh karena sepi pengunjung. - Image

MERANA: Para pedagang Sentra Kuliner Mangrove mengeluh karena sepi pengunjung.

Bukan hanya Sentra Ikan Bulak (SIB) yang nyaris mati. Sentra Kuliner Mangrove di Wonorejo pun mulai menampakkan gelagat sama. Jika pemkot tidak segera mengambil langkah konkret, sentra yang diresmikan pada Desember 2016 itu bisa mati.



SALMAN-OKKY PUTRI




BANGUNAN Sentra Kuliner Mangrove tergolong bagus dan rapi. Konstruksinya terbuat dari kayu, termasuk lantai. Lampion menghiasi interior bangunan.


Pemandangannya jangan ditanya. Segar. Maklum, tempat makan-makan itu dikelilingi hutan mangrove. Sayang, sentra tersebut belum bisa mencuri perhatian pengunjung.


Sepuluh stan pedagang yang menjual aneka olahan ikan tetap sepi. Rabu (11/1) kursi-kursi terlihat hanya diduduki beberapa petugas linmas yang memang bertugas menjaga kawasan tersebut.


Para pedagang di Sentra Kuliner Mangrove sebenarnya adalah mantan pedagang kaki lima (PKL). Mereka dulu berjualan di sekitar lahan parkir mangrove.


Karena terkesan liar dan berantakan, pemkot menyediakan tempat berjualan yang lebih layak. Sentra Kuliner Mangrove merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.


Selain menyediakan tempat berjualan bagi PKL, sentra itu menjadi pusat makanan olahan ikan. Apalagi, sentra tersebut berada dalam satu kawasan dengan wisata mangrove.


Namun, sentra itu justru dikeluhkan pedagang. Salah seorang adalah Sulis, pedagang pangsit mi ayam. Tadinya dia berjualan pangsit mi ayam biasa.


Demi menempati stan di Sentra Kuliner, dia mengubah menunya menjadi Pangsit Mi Udang Crispy. Modal yang dikeluarkannya pun bertambah.


’’Tapi, pendapatan malah menurun hampir setengahnya,” keluh Sulis. Nasib Sulis juga dialami Irhamni. Dia semula pedagang bakso daging. Namun, kini dia menjadi pedagang bakso ikan.


Meski demikian, dia mengaku sering curi-curi kesempatan dengan tetap menjual bakso daging. ’’Bakso ikan kurang peminat,” ujarnya terus terang.


Memang, Sentra Kuliner Mangrove ditujukan untuk mendukung program ’’Gemar Makan Ikan”. Namun, hal itu justru membuat pedagang kehilangan kesempatan untuk memiliki stan.


Matnasir adalah salah satunya. Dia dulu menggelar lapak di sekitar mangrove. Ketika lapaknya digusur, dia tidak bisa ikut boyongan ke Sentra Kuliner Mangrove.


Alasannya, makanan yang dia jual tidak berbahan dasar ikan. ’’Saya cuma jualan mi sama es,”ucap pria paro baya yang juga petani tersebut.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore