Jumat, 28 Apr 2017
Metropolis

Sentra Kuliner Mangrove Andalan Pemkot Itu Sepi Pengunjung

Telanjur Ganti Dagangan, Ternyata Tidak Laku

Kamis, 12 Jan 2017 18:19 | editor : Suryo Eko Prasetyo

MERANA: Para pedagang Sentra Kuliner Mangrove mengeluh karena sepi pengunjung.

MERANA: Para pedagang Sentra Kuliner Mangrove mengeluh karena sepi pengunjung. (Okki Putri/Jawa Pos/JawaPos.com)

Bukan hanya Sentra Ikan Bulak (SIB) yang nyaris mati. Sentra Kuliner Mangrove di Wonorejo pun mulai menampakkan gelagat sama. Jika pemkot tidak segera mengambil langkah konkret, sentra yang diresmikan pada Desember 2016 itu bisa mati.

SALMAN-OKKY PUTRI

BANGUNAN Sentra Kuliner Mangrove tergolong bagus dan rapi. Konstruksinya terbuat dari kayu, termasuk lantai. Lampion menghiasi interior bangunan.

Pemandangannya jangan ditanya. Segar. Maklum, tempat makan-makan itu dikelilingi hutan mangrove. Sayang, sentra tersebut belum bisa mencuri perhatian pengunjung.

Sepuluh stan pedagang yang menjual aneka olahan ikan tetap sepi. Rabu (11/1) kursi-kursi terlihat hanya diduduki beberapa petugas linmas yang memang bertugas menjaga kawasan tersebut.

Para pedagang di Sentra Kuliner Mangrove sebenarnya adalah mantan pedagang kaki lima (PKL). Mereka dulu berjualan di sekitar lahan parkir mangrove.

Karena terkesan liar dan berantakan, pemkot menyediakan tempat berjualan yang lebih layak. Sentra Kuliner Mangrove merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Selain menyediakan tempat berjualan bagi PKL, sentra itu menjadi pusat makanan olahan ikan. Apalagi, sentra tersebut berada dalam satu kawasan dengan wisata mangrove.

Namun, sentra itu justru dikeluhkan pedagang. Salah seorang adalah Sulis, pedagang pangsit mi ayam. Tadinya dia berjualan pangsit mi ayam biasa.

Demi menempati stan di Sentra Kuliner, dia mengubah menunya menjadi Pangsit Mi Udang Crispy. Modal yang dikeluarkannya pun bertambah.

’’Tapi, pendapatan malah menurun hampir setengahnya,” keluh Sulis. Nasib Sulis juga dialami Irhamni. Dia semula pedagang bakso daging. Namun, kini dia menjadi pedagang bakso ikan.

Meski demikian, dia mengaku sering curi-curi kesempatan dengan tetap menjual bakso daging. ’’Bakso ikan kurang peminat,” ujarnya terus terang.

Memang, Sentra Kuliner Mangrove ditujukan untuk mendukung program ’’Gemar Makan Ikan”. Namun, hal itu justru membuat pedagang kehilangan kesempatan untuk memiliki stan.

Matnasir adalah salah satunya. Dia dulu menggelar lapak di sekitar mangrove. Ketika lapaknya digusur, dia tidak bisa ikut boyongan ke Sentra Kuliner Mangrove.

Alasannya, makanan yang dia jual tidak berbahan dasar ikan. ’’Saya cuma jualan mi sama es,”ucap pria paro baya yang juga petani tersebut.

Matnasir kecewa melihat pedagang lain yang bukan warga Wonorejo, tapi bisa mendapatkan jatah stan. Menurut dia, warga Wonorejo seharusnya mendapat prioritas.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Eko Haryanto mengakui, masih banyak sentra PKL yang sepi. Penyebabnya, sentuhan pemerintah masih kurang.

Selama ini pemerintah hanya membangun sentra PKL. Sedangkan sumber daya manusia (SDM)-nya sering luput. ”Akan kami kaji tiap sentra PKL,” ujar pria yang belum sebulan memimpin dinkop UM itu.

Salah satu upayanya meningkatkan nilai tambah pedagang ialah menghidupkan kembali koperasi. Selama ini sudah ada koperasi yang didirikan. Namun, banyak yang vakum.

Beberapa pengurus koperasi juga ikut berjualan. ”Itu yang tidak boleh,” ujar mantan asisten IV Pemkot Surabaya tersebut. Setiap sentra PKL seharusnya memiliki kekhasan.

Sentra PKL di kawasan pesisir seperti di Wonorejo memang dikhususkan kuliner laut. Bila masih sepi, menurut Eko, perlu evaluasi dari sisi pedagang. Misalnya, kemasan makanan.

”Packaging, misalnya. Banyak yang bungkusnya ala kadarnya. Kalau dibungkus lebih rapi, pasti lebih banyak pembeli yang datang,” lanjut dia.

Tugas pengemasan nanti diberikan ke koperasi. Koperasi bisa mengoordinasi keperluan pedagang untuk meningkatkan pendapatan.

Selain Wonorejo, Sentra Ikan Bulak (SIB) juga sepi. Menurut dia, SIB juga memerlukan sentuhan koperasi. Koperasi bisa menyediakan bungkus ikan asap yang selama ini hanya disunduk/ditusuk dengan bambu.

Dikerumuni lalat. Akibatnya, segmen pembeli menengah ke atas ogah mampir. ”Kalau lebih higienis, SIB pasti ramai,” katanya. (kik/sal/c7/oni/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia