Jumat, 28 Apr 2017
Metropolis

Sulitnya Pindahkan Pedagang ke Sentra Ikan Bulak

Masih Terus Sepi sejak Diresmikan Desember 2012

Kamis, 12 Jan 2017 18:08 | editor : Suryo Eko Prasetyo

FASILITAS LENGKAP: Bedak dan stan di Sentra Ikan Bulak tampak mangkrak.

FASILITAS LENGKAP: Bedak dan stan di Sentra Ikan Bulak tampak mangkrak. (Jawa Pos Photo)

JawaPos.com – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengunjungi Sentra Ikan Bulak (SIB), Rabu (11/12). Sejak diresmikan pada Desember 2012, SIB relatif sepi.

Tidak banyak pengunjung yang mampir. Sebab, masih banyak pedagang nakal yang berjualan di pinggir jalan. Pemkot menyediakan fasilitas pengasapan ikan gratis di SIB.

Syaratnya, para pedagang harus berjualan di SIB. Fasilitas tersebut memang digunakan para pedagang. Namun, mereka justru menjual ikan di depan rumah masing-masing atau membuka lapak di sepanjang jalan menuju Jembatan Suroboyo.

Setiap pedagang mendapat jatah satu tungku. Biasanya mereka mengasapi ikan pada pukul 02.00. Ikan-ikan tersebut dijual saat pagi.

Sementara itu, jumlah petugas jaga dari dinas pertanian terbatas. Mereka tidak bisa mengawasi para pedagang selama 24 jam. Salah satu lokasi yang paling ramai pedagang kaki lima (PKL) berada di Kejawan Lor.

Terdapat ’’SIB mini’’ di sana. Para pedagang memakai sebidang tanah kosong untuk membuka sentra ikan baru. Alasnya berupa meja bambu dan atapnya terpal oranye.

Satpol PP pun tidak bisa menertibkan lokasi tersebut lantaran para pedagang tidak menggunakan bahu jalan. Satu-satunya langkah yang diambil adalah mencegah para pembeli datang.

Truk dan pikap milik satpol diparkir di depan lokasi berjualan. Namun, masih saja ada pembeli yang mampir. Mereka memilih tempat tersebut lantaran servisnya lebih cepat. Tidak perlu parkir. Semacam layanan drive-thru.

Risma mengatakan sudah berulang-ulang menertibkan pedagang. Mereka diajak berjualan di SIB. Namun, pedagang tetap saja berjualan di jalan. SIB pun sepi.

Akses menuju Jembatan Suroboyo yang justru macet. Sebab, jalan itu hanya bisa dilewati dua mobil. Kalau ada bus, arus pasti tersendat.

”Ancene nggeregetno kok (memang menjengkelkan, Red),” kata Risma, perempuan yang pernah menjadi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya.

Dia lalu memanggil Kepala Satpol PP Irvan Widyanto yang duduk tidak jauh darinya. ”Pak Irvan itu tolong pedagangnya disuruh jualan di SIB,” ucap Risma yang disambut anggukan oleh Irvan.

Irvan juga mengatakan bahwa pedagang sulit diatur. Bagai kambing menanduk bukit. Bagaimanapun upayanya, para pedagang belum mau berjualan di SIB.

Saat ini satpol PP memiliki 420 personel. Jumlah itu belum ideal bila dibandingkan dengan populasi penduduk Surabaya yang mencapai 3 juta jiwa.

”Akhir Desember sampai Januari, kami melakukan rekrutmen lagi,” kata mantan camat Rungkut itu. Dengan jumlah minim, pihaknya tidak bisa memantau SIB setiap saat.

Camat Bulak Suprayitno mengungkapkan, permasalahan pedagang tersebut tidak bisa dipikul satpol PP sendirian. Menurut dia, perlu penambahan petugas pengawas di SIB.

Kecamatan bisa membantu jika ada kewenangan mengelola. ”Kalau diserahkan kecamatan, kami bisa memantau setiap saat,” ujarnya.

Hanik, salah seorang pedagang SIB, juga mengeluhkan para pedagang yang tidak taat aturan. Akibatnya, dagangannya sering kali tidak laku.

Setiap hari pasti ada ikan yang dijual ke tengkulak di pasar. ”Kalau tidak laku, harus banting harga,” kata perempuan yang punya stan paling selatan tersebut. (sal/c7/dos/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia