Minggu, 23 Jul 2017
Hukum & Kriminal

Detik-detik Tewasnya Amirulloh di Tangan 5 Seniornya

Kamis, 12 Jan 2017 07:05 | editor : Thomas Kukuh

Amirulloh Adityas Putra, 18, taruna tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara yang terwas di tangan lima seniornya. (GUGUM GUMELAR/JAWA POS)

JawaPos.com - Aksi kekerasan di kampus yang mengakibatkan kematian kembali terjadi. Kali ini dialami Amirulloh Adityas Putra, 18, taruna tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jakarta Utara. Amir, sapaan Amirullah, kemarin (11/1) harus meregang nyawa setelah dihujani bogem mentah di dadanya oleh sejumlah seniornya di sekolah pelayaran tersebut. 

Berdasar hasil pemeriksaan, Amir terluka di sekujur tubuh, termasuk organ dalam. Dia tewas di lokasi kejadian karena lemas "Bibir bagian bawah dalam luka lecet, organ dalam rusak. Di dalam jantung dan paru-paru terdapat gumpalan pendarahan. Sementara lambung berisi cairan kehitaman sisa minuman. Korban juga negatif menggunakan narkoba," jelas Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes M. Awal Chai­ruddin di Mapolres Metro Jakarta Utara kemarin. 

Akibat kejadian itu, polisi mengamankan lima senior Amir. Yakni, Sisko Mataheru, 19; Willy Hasiholan, 20; Iswanto, 21; Akbar Ramadhan, 19; dan Jakario, 19. Lima mahasiswa tingkat II itu terbukti sengaja menganiaya Amir serta lima rekan seangkatan korban. Yakni, Ahmad Fajar, Ilham Wally, Bagus Budi Prayoga, Josua Simanjuntak, dan Benny Syahril. Kelima korban juga mengalami luka memar di beberapa bagian tubuhnya. 

Kasus tersebut berawal saat seorang pelaku, Sisko, pada Selasa (10/1) sekitar pukul 17.00 mengajak teman-temannya di tingkat II untuk melakukan perpeloncoan terhadap junior yang masuk sebagai anggota drum band kampus. "Ini merupakan budaya taruna dari senior terhadap juniornya. Setiap ada pemain marching band baru, mereka melakukan perpeloncoan," ujar Awal.

Setelah berbincang dengan sejumlah rekannya, para pelaku mengumpulkan enam juniornya di ruang dormitory ring 4 atau tempat ganti pakaian mahasiswa sekitar pukul 22.00. 

Di lokasi tersebut, Sisko cs membariskan juniornya dan melakukan penyiksaan. Mereka memukuli korban di bagian dada dan ulu hati dengan menggunakan tangan kosong dan tendangan kaki. Dua jam setelah aksi bully tersebut, Amir langsung tumbang. Hal tersebut membuat para pelaku panik. Mereka lantas membaringkan korban di kasur. Setelah itu, kejadian tersebut dilaporkan kepada mahasiswa tingkat IV. Lalu, mereka membawa korban ke dokter klinik. Sayang, nyawa Amir tak bisa diselamatkan. "Dokter klinik menyatakan Amir tewas pukul 00.15," kata Awal. Pihak STIP lantas melaporkan kejadian itu ke Polsek Cilincing.

Polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Dari rekam jejak yang ada, sebelumnya terdapat dua kasus serupa di STIP yang ditangani Polres Metro Jakarta Utara. Dua mahasiswa meninggal karena bullying pada 2012 dan 2013. Yang ironis, aksi bullying yang berujung kematian taruna itu terjadi di ekskul marching band. 

Awal mengatakan, berdasar olah TKP kemarin, polisi mengamankan sebotol minyak tawon, sebotol minyak telon, gayung mandi, gelas, dan dua puntung rokok. "Sejauh ini yang baru diketahui pelaku menganiayanya dengan tangan kosong," tuturnya.

Menurut Kapolres, para pelaku yang diamankan terbukti melakukan pengeroyokan dan didakwa melanggar pasal 170 jo 351 ayat 1 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian terhadap korbannya. Mereka terancam hukuman 12 tahun penjara.  (gum/mia/c6/agm) 

 

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia