Jumat, 23 Jun 2017
Jati Diri

Kado Kenaikan Harga Awal Tahun

Kamis, 12 Jan 2017 04:31 | editor : Suryo Eko Prasetyo

Ilustrasi

Ilustrasi (Agung K./Jawa Pos/JawaPos.com)

Awal tahun ini masyarakat Indonesia mendapat kado spesial: kenaikan harga. Mulai harga BBM nonsubsidi, tarif listrik, biaya mengurus STNK dan BPKB, hingga harga cabai. Semua datang bertubi-tubi. Di sisi lain, pendapatan masyarakat secara riil tak menunjukkan kenaikan berarti. Beban yang dipikul masyarakat pun terasa kian berat.

Masyarakat memang tak bisa menolak. Sebab, kenaikan tarif listrik, biaya STNK, dan harga BBM nonsubsidi tersebut sudah menjadi keputusan pemerintah. Misalnya tarif listrik. Biaya setrum itu naik untuk sebagian masyarakat yang dinilai tidak layak menerima subsidi. Lalu, biaya STNK dan BPKB dinaikkan untuk menggenjot penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Tapi, soal kenaikan harga cabai, mestinya hal itu tak perlu terjadi di negeri yang dikenal subur ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, yang menjadi kambing hitam kenaikan harga cabai selalu faktor cuaca dan distribusi. Musim hujan membuat panen cabai di sejumlah daerah kurang berhasil sehingga mengurangi suplai. Faktor cuaca juga menghambat distribusi cabai dari sentra produksi ke daerah lain. Hal-hal tersebut menjadi penyebab kenaikan harga di sejumlah daerah.

Yang menjadi persoalan, sudah tahu hal itu selalu menjadi problem kenaikan harga, mengapa selalu berulang? Apakah tidak pernah ada solusi yang komprehensif sehingga problem yang sama tidak selalu terjadi tiap tahun? Nah, di sinilah dibutuhkan leadership yang kuat dalam menyelesaikan problem pasokan pangan yang kerap terjadi tiap tahun.

Bukan hanya cabai, komoditas lain juga sering naik harga secara tiba-tiba. Akar masalahnya selalu sama: tidak seimbangnya permintaan dan pasokan gara-gara tak lancarnya arus distribusi. Solusinya juga biasanya serbainstan, misalnya melakukan impor atau menyalahkan pihak lain yang dinilai bertanggung jawab.

Tapi sayang, melambungnya harga cabai itu tidak sampai dinikmati petani. Di sejumlah daerah, produk dari petani tetap dibeli dengan harga rendah. Para spekulan, pedagang, dan pengepullah yang menikmati kenaikan harga cabai. Karena itu, dibutuhkan peran pemerintah dalam menstabilkan harga sekaligus menjaga rantai pasokan.

Tren kenaikan harga juga bisa digunakan sebagai momentum perbaikan kesejahteraan petani yang selama ini belum menikmati hasilnya. Sementara itu, para spekulan dan pengepul yang selama ini telah menikmati banyak hasil sudah saatnya ”sedikit berbagi”. Bila kebijakan secara lintas sektoral disinergikan dengan optimal, problem-problem yang tiap tahun berulang bisa dipastikan bakal berkurang. (*)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia