Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Januari 2017 | 23.30 WIB

Mereka Jadi Miliarder setelah Pembebasan Lahan Frontage Road

CALON MILIARDER: Samah berfoto di luar rumahnya. Tembok rumah itu sudah diberi tanda siap dibongkar dan telah dibayar lunas oleh Pemkot Surabaya. - Image

CALON MILIARDER: Samah berfoto di luar rumahnya. Tembok rumah itu sudah diberi tanda siap dibongkar dan telah dibayar lunas oleh Pemkot Surabaya.

Pemkot meratakan 24 rumah di Jemur Gayungan untuk pelebaran jalur penyangga atau frontage road (FR) tahun ini. Sebagian besar warga sudah pindah dan menerima ganti rugi. Mereka menjadi jutawan setelah pembebasan. Bahkan miliarder. Sebagian telah pindah. Namun, ada juga yang masih bertahan.



SALMAN MUHIDDIN



SEMAH duduk melamun di warung kopinya pada Jumat siang (6/1). Dia menopang dagu, menunggu pembeli yang mampir. Nenek berusia 75 tahun itu membuka usaha warung tepat di belakang gang Jemur Gayungan II.


Saat itu jam menunjukkan pukul 12.20. Sebentar lagi warungnya ramai. Dikunjungi pembeli dari buyaran salat Jumat.


’’Lumayan. Wis (sudah, Red) Rp 100 ribu,’’ ujar Semah sambil mengaduk secangkir kopi. Di warung selebar dua meter tersebut, Semah mengais rezeki.


Penghasilannya tidak tentu. Kalau jualan sepi, dia hanya dapat Rp 80 ribu. Dia banyak melamun belakangan ini. Mikir. Warung dan rumahnya terkena pelebaran jalan.


Tandanya adalah tulisan cat semprot biru berlogo Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Bangunan ini siap dibongkar karena sudah dibayar lunas oleh Pemerintah Kota Surabaya.


Begitu bunyi tulisan tersebut. Semah tidak dapat membaca. Tetapi, dia tahu gedung dua tingkat itu rata dengan tanah sebentar lagi.


Tidak lama kemudian, dua petugas provos dari Polda Jatim datang. Keduanya memesan mi rebus instan. Datang lagi sejumlah warga yang memesan kopi.


Dua bangku yang tersedia tidak cukup ditempati. Melihat warungnya masih ramai seperti itu, dia belum sepenuhnya ikhlas bila warungnya dibongkar.


’’Kalau warung dibongkar, aku tak dodolan gawe meja pinggir dalan (berjualan memakai meja di pinggir jalan, Red),’’ ucapnya. Sejam kemudian, warungnya sepi lagi.


Semah mengungkapkan bahwa dulu rumah yang ditempatinya tidak terletak di tepi jalan. Jalan A. Yani sisi barat saat ini merupakan hasil pembebasan lahan pada 1973.


Waktu itu presiden Indonesia masih dijabat Soeharto. Sisi barat Jalan A. Yani adalah hutan bambu ketika itu. Kawasan Jemur Gayungan disebut Kampung Gogol. Kampung para petani.


Empat dekade lalu hanya terdapat 24 rumah di Jemur Gayungan. Berjarak. Tidak dempet-dempet seperti saat ini. Warung yang ditempati Semah dulu berada di tengah-tengah kampung.


Sekarang menjadi nol jalan. Di sela-sela perbincangan, muncul Sumiati, putri tiri Semah. Dia adalah anak Tarmidi, suami Semah.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore