Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Januari 2017 | 11.02 WIB

Urban Care, Gerakan Komunitas Sosial Peduli Masyarakat Marginal Kota

BELAJAR BARENG: Azrohal Hasan (berdiri paling kiri) pada Selasa (3/1) bersama relawan dan anak-anak Jagir, Surabaya. - Image

BELAJAR BARENG: Azrohal Hasan (berdiri paling kiri) pada Selasa (3/1) bersama relawan dan anak-anak Jagir, Surabaya.


Pendidikan adalah kunci peningkatan sumber daya manusia. Itulah prinsip yang dipegang komunitas Urban Care. Melalui rangkaian kegiatan, komunitas yang dimotori puluhan anak muda tersebut ingin mengangkat citra kaum papa melalui bidang pendidikan.


EDI SUSILO


PUKUL
15.00. Suasana balai pertemuan warga Kampung Baru Setren Kali Jagir sepi. Hanya lima anak yang stand by menunggu di ruangan berukuran 5 x 4 meter tersebut.


Lalu, ada dua pemuda yang sedang mendampingi dengan membawa spidol. Setengah jam berselang, satu per satu anak mulai berdatangan di balai yang samping kirinya berbatasan langsung dengan Sungai Jagir tersebut.


Ada 26 anak yang sore itu siap menerima pelajaran. Duduk lesehan di atas lantai tanpa tikar, mereka mulai menata barisan.


”Ayo, semua tenang. Pelajaran hari ini segera dimulai,” ungkap Muhammad Lutfi, penanggung jawab program Ayo Belajar Urban Care, Selasa (3/1).



”Pancasila. Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Pembacaan teks Pancasila mengawali pembelajaran sore itu.



”Maaf, acara belajarnya telat. Maklum, masih harus menjemput anak satu per satu di rumah mereka,” terang Lutfi kepada Jawa Pos.



Berdiri pada 2012, Urban Care melakukan kegiatan Ayo Belajar seminggu sekali. Rutin. Ketua Urban Care Azrohal Hasan mengatakan, kegiatan itu biasanya start pukul 14.00.


Rampung pukul 16.00. Itu adalah jam longgar anak-anak Kampung Baru Setren Kali Jagir. Maklum, selain bersekolah, beberapa anak bekerja membantu orang tua pada pagi hari.



Ide awal Ayo Belajar berawal dari keprihatinan. Banyak anak di kawasan Kampung Setren Kali Jagir yang belum mendapatkan pendidikan memadai. Kondisi tersebut diperparah etos belajar yang rendah karena pengaruh lingkungan.



Terimpit masalah ekonomi, banyak orang tua di Kampung Baru Setren Kali Jagir yang berpikir pragmatis. Mereka lebih mendukung putra-putrinya untuk segera bekerja jika dibandingkan dengan mengajak anak pergi ke sekolah.


”Orang tua ingin anak-anak segera bisa membantu ekonomi keluarga. Maklum, mayoritas bekerja sebagai pemulung dan pengamen,” ungkap alumnus Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair) itu.



Kondisi itu membuat banyak orang tua kurang antusias menyambut program Ayo Belajar saat kali pertama di-launching.


Mereka umumnya tak acuh dan sering salah paham dengan relawan Urban Care. Orang tua terkadang kurang sepakat dengan metode yang diberikan Urban Care.



Lelaki kelahiran 14 Juli 1992 tersebut menuturkan, ada orang tua yang ngotot. Mereka menganggap belajar itu ya pelajaran sekolah saja.


Tidak ada acara gambar, membuat kerajinan, atau kegiatan bermain seperti outbound. Padahal, materi nonakademis tersebut menjadi salah satu program penting dalam Urban Care.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore