
BELAJAR BARENG: Suprobowati membimbing para pelajar di Rumah Matematika yang berada di Balai Pemuda, Surabaya.
JawaPos.com – Matematika kerap membikin puyeng. Padahal, matematika sebenarnya mudah. Asalkan memahami konsepnya, siswa bisa jago matematika.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dispendik Surabaya Eko Prasetyoningsih menyatakan, selama dua minggu masa liburan sekolah, ada kelas matematika yang bisa menjadi alternatif tempat belajar siswa selain di rumah.
Kegiatan bernama Rumah Matematika itu bertujuan meningkatkan pemahaman anak tentang matematika. ”Untuk tempat belajar. Siswa yang belum mengerti, merasa kesulitan, tidak tahu ke mana, dan ke siapa, kami fasilitasi,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Pemuda tersebut terbuka bagi pelajar kelas VI dan IX. Para siswa itu mengikuti kelas secara terjadwal. Tutornya adalah para guru di sekolah.
Siswa bisa mempelajari matematika dalam kelompok-kelompok yang beranggota 20 anak. ”Gurunya bergantian, siswa bisa bertanya kesulitannya seperti apa,” katanya.
Ikhsan, tutor Rumah Matematika dari SDN Jemursari I, memiliki cara untuk mengajak siswa memahami matematika. Dia lebih dulu memperkenalkan konsep matematika.
Jika siswa sudah mengetahui konsepnya, mempelajari matematika akan lebih mudah. Materi tentang operasi bilangan bulat, misalnya. Dalam materi tersebut, ada operasi hitung positif dan negatif.
Siswa perlu lebih dulu memahami operasi hitung itu. Yakni, jika bilangan positif dikalikan dengan bilangan positif, hasilnya menjadi bilangan positif.
Bilangan negatif yang dikalikan dengan bilangan negatif akan menjadi bilangan positif. Sementara itu, bilangan negatif yang dikalikan dengan bilangan positif menjadi bilangan negatif.
Demikian pula sebaliknya. ”Mereka jadi tahu, kalau dua bilangan tandanya sama, hasilnya positif. Kalau berbeda, hasilnya negatif,” ucap Ikhsan.
Pakar pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya Prof Siti Maghfirotun Amin mempunyai pandangan berbeda tentang cara belajar matematika.
Menurut dia, selama ini, para guru kerap menerapkan metode classical. Yakni, guru menerangkan di kelas. Sementara itu, siswa memperhatikan dan menerima rumus-rumus. Hal tersebut dinilai sebagai metode klasik yang cenderung monoton.
Karena itu, guru perlu mengubah cara mengajar. Caranya, siswa diberi permasalahan lebih dulu. Soal cerita, misalnya. Sejak awal, siswa diberi soal cerita yang menantang mereka untuk berpikir.
Lalu, biarkan mereka mengerjakan soal dengan caranya sendiri. Guru akan mengarahkan mereka pada konsep yang sebenarnya.
Selama ini, metode pembelajaran cenderung terbalik. Siswa diberi soal-soal yang mudah dan ringan lebih dulu. Soal cerita yang banyak berisi penalaran diberikan di bagian akhir.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
