Kamis, 24 Aug 2017
JPG Today

Banjir, Warga Berduyun-duyun Mancing di Halaman Sekolah

| editor : 

TAK BISA BELAJAR: Siswa dan guru SDN Branggahan 1 Kediri berusaha mengeringkan buku yang terendam banjir.

TAK BISA BELAJAR: Siswa dan guru SDN Branggahan 1 Kediri berusaha mengeringkan buku yang terendam banjir. (Radar Kediri/JPG)

JawaPos.com- Hujan lebat di Desa Branggahan, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Rabu (30/11), membuat SDN Branggahan I dan puskesmas pembantu terendam. Kegiatan di dua instansi itu diliburkan karena kondisi air yang tak kunjung surut.

Di halaman sekolah, ketinggian genangan air mencapai pinggang orang dewasa. Sementara itu, di dalam kelas, air sudah lumayan surut meski masih setinggi 10 sentimeter. Sebelum surut, ketinggian air di dalam kelas tersebut mencapai betis orang dewasa.

’’Debit airnya sudah menurun,’’ jelas Atik Usahadati, guru SDN Branggahan I. Menurut dia, karena tingginya debit air itu, banyak benda yang terkena air. Mulai buku hingga alat-alat elektronik.

’’Sound, LCD computer, dan material semen pun terendam,’’ kata guru yang mengajar kelas I itu. Puluhan buku paket juga basah. Bersama anak didiknya, Atik membersihkan kelas dan mengeringkan buku-buku yang masih bisa diselamatkan.

’’Semoga saja tidak ada hujan susulan,’’ ungkap guru berhijab itu kepada Jawa Pos Radar Kediri. Sebab, bila hujan datang lagi, sekolah yang berada di tepi jalan desa tersebut pasti terendam. Dengan begitu, kelas belum bisa dipakai untuk kegiatan belajar-mengajar (KBM). Ada enam kelas yang terendam.

Menurut Atik, sekolah tersebut bukan kali pertama dilanda banjir. Empat tahun silam, terjadi banjir setelah hujan deras. ’’Ini yang kali kedua. Airnya hingga masuk ke kelas,’’ ujar Atik yang merupakan penduduk setempat. Penyebabnya sama. Yakni, luapan air yang berasal dari kali di Desa Branggahan. Kali itu tidak mampu menadahi aliran air hujan sehingga air pun meluber ke mana-mana.

Salah seorang siswa kelas III, Alan Fatyukruf, 9, saat membantu gurunya membersihkan kelas dan mengeringkan buku-buku ingin tetap bersekolah seperti biasa. ’’Biar bisa belajar bersama-sama lagi,’’ tuturnya.

Bukan hanya sekolah SDN Branggahan I, instansi pelayanan masyarakat seperti puskesmas pembantu juga terkena dampak banjir. Berdasar pantauan koran ini, puskesmas pembantu yang berlokasi berseberangan dengan SDN Branggahan I tersebut tidak dibuka. Sekitar pukul 09.00 kemarin, gerbang besinya masih digembok. Tidak ada satu pun petugas di kantor itu.

Lalu, tempat pemakaman umum juga terendam air luapan sungai di Branggahan yang letaknya lebih tinggi daripada makam tersebut. Di luar sekolah, banyak warga yang memanfaatkan banjir di depan halaman sekolah itu untuk area memancing dadakan.

Sementara Wakil Bupati Kediri Masykuri ketika dikonfirmasi terkait dengan banjir tersebut sudah mendapat laporan dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

’’Saat ini tim BPBD mencari solusi untuk tindakan pasca kejadian,’’ tuturnya. Misalnya, pelebaran sungai atau pendalaman sungai. Namun, jika banjir tidak hanya terjadi sekali ini, dia meminta tim BPBD bisa dengan cepat menemukan jalan keluar sehingga pelayanan masyarakat, baik bidang pendidikan atau kesehatan, tidak terganggu. (rq/c5/end)

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia