Jumat, 28 Jul 2017
Features

Perjalanan Sukses Karir Donny Yuniarto Murdiono di Studio Animasi Jepang

Jumat, 02 Dec 2016 14:02 | editor : fimjepe

BUKAN ANIMATOR BIASA: Donny Yuniarto di depan kantornya, Polygon Pictures, Tokyo. Dia kini punya jabatan penting di studio animasi itu.

BUKAN ANIMATOR BIASA: Donny Yuniarto di depan kantornya, Polygon Pictures, Tokyo. Dia kini punya jabatan penting di studio animasi itu. (Maharani Wanodya/Jawa Pos)

Jangan pernah berhenti mengejar mimpi. Kalimat klise itu menjadi penyemangat Donny Yuniarto Murdiono dalam meniti karir di dunia animasi. Kini dia menduduki posisi penting di Polygon Pictures, studio animasi Jepang. Berikut catatan wartawan Jawa Pos MAHARANI WANODYA yang belum lama ini menemuinya di Tokyo.

 

PENAMPILANNYA tampak biasa saja. Tubuh subur, tinggi standar pria Indonesia, dan gaya bicara yang kalem, tapi lugas. Style-nya pun tergolong kasual. Ketika Jawa Pos menemuinya di kantor Polygon Pictures, Tokyo, Donny sedang santai. Hari itu dia mengenakan celana jins, T-shirt, dan hoodie.

Sepintas tak ada bedanya dengan mahasiswa semester akhir yang sedang dikejar target menyelesaikan skripsi. Tapi, Donny bukan mahasiswa. Dia adalah pekerja kreatif di Polygon Pictures dengan jabatan yang cukup mentereng: look development supervisor. ”Usia saya sudah di atas 30 tahun,” ujar Donny, lantas tertawa.

Sukses menjadi animator di Negeri Sakura, Donny berbagi cerita kepada Jawa Pos. Pengalaman yang ditabung Donny di tiga perusahaan kreatif di Indonesia dan Singapura menjodohkannya dengan Polygon Pictures.

Sebelum menjadi bagian dari keluarga besar Polygon Pictures yang berbasis di Minami-Azabu, Tokyo, Donny pernah bekerja di Frameworks Batam pada 2006. Dua tahun kemudian dia mendapat tawaran dari Sparky yang bermarkas di Singapura. Panggilan hati mendorong Donny untuk pindah ke perusahaan lain yang juga berada di Negeri Singa, yaitu Omens Studios.

Posisi tertinggi yang direngkuhnya di Omens Studios adalah lighting technical director. ”Tugas saya saat itu menyupervisi teknis lighting animasi. Bagaimana mengaplikasikan pencahayaan yang tepat dalam suatu adegan,” cerita pria yang sejak kecil terbiasa pindah-pindah kota karena pekerjaan ayahnya itu.

’’Lulus’’ dari Omens Studios dengan setumpuk portofolio, curriculum vitae Donny meyakinkan petinggi Polygon Pictures bahwa mereka tidak salah rekrut. ”Tahun 2013 saya resmi diterima sebagai look development artist,” ucapnya.

Di bawah naungan perusahaan yang eksis sejak 1983 itu, Donny ikut ambil bagian dalam berbagai proyek penting. Salah satunya adalah anime Sidonia no Kishi (Knights of Sidonia). Selain diputar untuk konsumsi domestik, serial yang dibuat dua season itu diekspor ke luar Jepang. Hak siarnya dibeli Sentai Filmworks dan Netflix.

Saat Polygon Pictures memperkenalkan animasi dengan konsep yang berbeda dengan pakem di Jepang melalui Sidonia no Kishi, banyak pihak yang kontra. Serial yang berkisah tentang kehidupan di luar angkasa itu dibuat dengan teknik khusus.

’’Orang Jepang sangat bangga dengan tradisi anime mereka yang biasanya dikerjakan secara manual. Karena itu, mereka tidak langsung bisa menerima (konsep baru itu),” kata Donny.

Teknologi yang diaplikasikan Polygon Pictures dalam membuat animasi berdampak signifikan terhadap cost produksi. ”Biayanya bisa dihemat hingga puluhan persen. Sebab, biaya terbesar untuk produksi animasi adalah sumber daya manusia. Dalam hal ini animator,” paparnya.

Penonton yang hanya melihat hasil jadinya pun rata-rata tak sadar bahwa animasi dibuat dengan pengorbanan yang tak sedikit. ”Di belakangnya para animator bekerja keras. Bahkan, ada juga animator dua dimensi yang bekerja hingga belasan jam sehari,” beber Donny.

Dia merasa bersyukur perusahaannya punya kebijakan yang berbeda. Polygon Pictures yang banyak merekrut animator asing lebih mengadopsi pola kerja ala Western. Maklum, Presiden Polygon Pictures Shuzo John Shiota lama tinggal di luar Jepang.

Donny memilih untuk berkiprah di luar negeri bukan didasari gaya-gayaan. Tapi, karena skill-nya kurang mendapat wadah untuk ’’bersinar’’ di dalam negeri. Maklum, di Indonesia bisnis animasi masih lesu. Padahal, bisnis animasi sesungguhnya cukup seksi. Potensinya yang bak mutiara yang masih terpendam belum disadari para pemilik modal. Tembok penghalang lain adalah ekosistem bisnisnya yang belum stabil.

’’Sulit menciptakan ekosistemnya. Sebab, player-nya sedikit. Prospek bisnis animasi pun masih belum sepenuhnya dipahami para pemodal,” keluh pemegang gelar sarjana computer science dari Universitas Parahyangan, Bandung, itu.

Meski sudah empat tahun berkarir di Tokyo bersama Polygon Pictures, Donny tak ingin berhenti bermimpi. ”Suatu saat nanti saya ingin bikin studio animasi sendiri (di Indonesia),” ujarnya.

Kepada para animator Indonesia yang ingin mengikuti jejaknya, Donny berpesan agar tak lekas jemawa hanya karena punya kemampuan di atas rata-rata. ”Untuk sukses di dunia animasi, nggak mungkin modal skill doang,” cetusnya.

Terus meningkatkan skill serta pintar-pintar mempresentasikan diri dan karya juga tak kalah penting. ”Saya harap pemerintah mau menjembatani antara animator dan pemodal sehingga industri animasi di Indonesia bisa tumbuh. Tentu saja, dibutuhkan tim khusus yang memahami bisnis animasi ini,” pungkasnya. (*/ari)

 

 

 

Sponsored Content

loading...
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia