Minggu, 23 Apr 2017
Opini

Tariklah Cinta dan Simpati Sesama

Oleh: KH Agoes Ali Masyhuri*

Jumat, 02 Dec 2016 11:08

KH Agoes Ali Masyhuri

KH Agoes Ali Masyhuri (Jawa Pos Photo)

MENCINTAI kebaikan tetapi tidak mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari hanya akan berujung pada perdebatan dan adu wacana tanpa akhir. Mencintai kebaikan hanya pada kata-kata akan membuka pintu bagi masuknya obrolan panjang yang tidak berguna, menguras tenaga dan waktu.

Ketika kita mampu menjadi penyebar kebaikan, Allah akan menggerakkan tangan-tangan mulia yang akan menyiramkan kebaikan pada taman kehidupan kita.

Jangan sampai kita meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Jika kita merindukan cinta dan simpati dari orang lain, jangan pernah meremehkan amal yang dapat kita sumbangkan buat orang lain.

Satu ucapan kata yang sejuk dan indah bisa menjadi obat baginya. Sikap lemah lembut dapat meredakan amarah, memupus dahaga, dan mengikis dengki. Sungguh tepat apa yang disabdakan Rasulullah SAW, ’’Jangan pernah meremehkan kebajikan sedikit pun walau berupa engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri’’ (HR Muslim).

Nasihat Rasul tersebut mendorong kita untuk mengerahkan segala kebajikan dengan warna-warni dan ragam tingkatannya sekaligus berpesan agar dilakukan secara kesinambungan. Artinya, selama 24 jam setiap hari, kita dituntut menyebar kebajikan, apa pun bentuk dan derajatnya.

Kita bisa belajar kepada beberapa orang yang hidupnya demikian teratur. Mereka memiliki agenda harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Sebuah agenda tersebut menjadi panduan dan berisi aktivitas yang dilakukan untuk diri, keluarga, serta berkontribusi untuk kaum muslimin. Hasilnya sungguh mencengangkan! Mereka sukses membantu kaum janda, jompo, miskin, dan sukses menjadi fasilitator terjalinnya komunikasi antara si kaya dan si papa. Sukses memberikan advokasi, mengobati yang sakit, mengurus yatim piatu, dan segudang aktivitas lainnya.

Penting kita sadari, selain makhluk individu, kita adalah makhluk sosial. Seorang sufi yang bernama Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata, ’’Berikanlah bagian dari tiga hal yang menjadi hak mukmin lainnya darimu: Jika tidak mampu memberikan manfaat, jangan pernah memudaratkannya. Jika tidak mampu membahagiakannya, jangan sampai menyusahkannya. Jika tidak mampu memujinya, jangan pernah mencelanya.’’

Allah sangat murka kepada orang yang menyakiti orang lain. Allah menetapkan perbuatan tersebut sebagai dosa dan perbuatan dusta angkara murka. Mengapa Allah murka kepada orang yang menyakiti orang lain? Sebab, cinta dan simpati manusia tidak akan dapat diraih dengan sikap yang menyakitkan. Tegasnya, satu sikap mendasar yang harus diperjuangkan dan ditempuh seorang muslim adalah menebar kebaikan, manfaat, kesetiakawanan, dan berjuang sekeras-kerasnya untuk menghindari cekcok dan pertengkaran.

Cerdas Menyaring Berita

Jika setiap orang memfungsikan akal dan hatinya secara objektif, niscaya kebenaran Islam tidak terbantahkan. Agama akan membawa perubahan ke taraf yang lebih baik bila dipahami, dihayati, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada era global ini, semua dituntut serbacepat, termasuk informasi mampu kita dapatkan dalam hitungan detik. Namun, setiap informasi di tangan kita perlu kita saring dahulu dengan menggunakan logika sebelum informasi itu kita jadikan sebuah pegangan. Dalam ilmu mantiq, sebuah informasi punya tiga kemungkinan: Ada kalanya kabar itu sebatas dugaan, ada kalanya info itu hanya isu semata, atau kabar yang menyajikan fakta yang didukung bukti yang kuat. Kita perlu masukan logika dan rasa yang sehat agar mampu bertindak dan berkata benar setelah menerima sebuah informasi.

Fakta berbicara, banyak kejadian sebuah hubungan persaudaraan tiba-tiba berubah menjadi perseteruan sengit. Setelah diusut, biangnya adalah salah dalam menerima dan menyampaikan sebuah berita. Jangan menjadikan semua berita itu pasti benar. Berita dari mulut ke mulut, berita dari surat kabar, TV, koran, majalah, dan sebagainya.

Allah SWT telah berfirman, ’’Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu’’ (QS Al-Hujurat: 6).

Perlunya berhati-hati dalam menerima berita bisa menghindarkan penyesalan akibat berita yang tidak diteliti atau berita bohong itu. Penyesalan yang akan timbul sebenarnya dapat dihindari jika bersikap lebih hati-hati.

Bertalian dengan hal tersebut Rasulullah SAW telah bersabda, ’’Jauhilah berprasangka buruk karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu, janganlah mencari-cari kesalahan, janganlah saling bersaing, janganlah saling mendengki, janganlah saling memarahi, dan janganlah saling memusuhi. Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara (Muttafaq ‘alaih).

Allah SWT berfirman, ’’Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’’ (QS At-Tahrim: 6). Dalam ayat itu, Allah memerintah orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dari api neraka –yang bahan bakarnya terdiri atas manusia dan batu– dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah.

Diriwayatkan bahwa Surah At-Tahrim ayat 6 tersebut turun, Umar berkata, ’’Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?’’

Rasulullah SAW menjawab, ’’Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkan mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Begitulah caranya menyelamatkan mereka dari api neraka’’.

Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi kenikmatan, bukan jalan orang-orang yang Engkau timpahi kemurkaan, bukan pula jalan orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan. Sinarilah hati kami dengan cahaya petunjuk-Mu. Terangilah jalan kami dengan sinar taufik-Mu.

Curahkanlah nikmat-Mu atas kami. Bantulah kami untuk banyak berzikir dan bersyukur atas nikmat-Mu. Hindarkanlah kami dari kealpaan orang-orang yang terlena dalam kemewahan dunia. Lembutkan hati kami untuk merasakan curahan rahmat-Mu. Bimbinglah kami untuk membagikan anugerah-Mu untuk hamba-hamba-Mu. Berilah kami keteguhan hati dan kesabaran. Dan bangunkanlah kami di tengah keheningan malam.

Ya Allah, tunjukkan kepada kami jalan yang benar itu benar dan berikan kepada kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkan kepada kami jalan yang sesat itu sesat dan berikan kepada kami kemampuan untuk menjauhinya. (*)

 

*) Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo, Jatim

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia