Rabu, 25 Jan 2017
JPG Today

Lihat Nih Pasangan Nikah Tertua, Sudah Punya 3 Cicit, Maharnya Rp 10 Ribu

Kamis, 01 Dec 2016 01:53

H Punadin dan Mirah setelah mengikuti proses nikah massal di Kantor BPPKB, Kobar.

H Punadin dan Mirah setelah mengikuti proses nikah massal di Kantor BPPKB, Kobar. (Sony/Kalteng Pos)

JawaPos.com - Senyum tipis dan aura kegembiraan terus terpancar di wajah H Punadin dan istrinya, Mirah. Keduanya baru saja resmi sebagai pasangan suami istri yang sah secara hukum setelah selama 46 tahun hanya berstatus nikah siri. Bahkan selama itu pula, keduanya sudah dikaruniai 11 anak, 15 cucu dan tiga cicit.

CALVIN KURDLENSON, Pangkalan Bun

Kantor Badan Pemberdaya Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Kobar menggelar kegiatan nikah massal, Selasa (29/11) siang. Namun dari total 95 peserta, hanya satu yang cukup menarik perhatian. Hadirnya H Punadin dan Mirah sebagai peserta nikah massal tertua.

Alasan H Punadin mengikuti nikah massal cukup unik. Pria 72 tahun ini ingin memberangkat istrinya, Mirah ke tanah suci untuk ibadah haji dan salah satu syaratnya harus memiliki buku nikah.

Meski terbilang sebagai peserta yang berbeda dari yang lain, hal itu tetap tidak membuat keduanya berkecil hati. Bersama istri yang telah setia menemaninya sejak 1970, mereka dengan sabar menunggu antrean.

Menariknya lagi, keduanya datang tanpa mengenakan pakaian layaknya pengantin. Justru hanya mengenakan pakaian seadanya, dengan tetap berpenampilan rapi.

H Punadin cukup mengenakan kopiah putih, dengan setelan pakaian koko biru. Sementara sang istri hanya mengenakan kebaya kuning plus kerudung berwarna biru. 

Pria yang berprofesi sebagai petani itu menjelaskan, dari pernikahan sirinya itu, ia telah dianugerahi 11 anak, 15 dan tiga cicit. Teringat anak, H Punidin sempat terdiam. Rupanya, dari 11 tersebut, empat di antaranya telah meninggal dunia karena sakit.

Kisah nikah siri H Punadin dan Mirah bukan sebuah kesengajaan. Berawal dijodohkan oleh orang tuanya. Pada masa itu, ia sendiri tidak tahu jika harus ada pencatatan sipil agar sah di mata negara.

“Nikah tahun 1970 mungkin. Saya juga sudah lupa,” ujar H Punadin di lokasi nikah massal.

Nikah massal itu rupanya juga diikuti anak dari H Punadin dan Mirah. “Tadi ada anak saya ikut juga, tapi sudah pulang duluan,” ucapnya.

Keinginan mengikuti nikah massal, lanjut dia, setelah ketua RT di tempat tinggalnya, di Kelurahan Madurejo datang ke rumah, mendata dan memberikan undangan. Tak membuang kesempatan, lantas ia bersama istrinya memberanikan diri untuk mendaftar.

Bermodalkan uang Rp 10.000 sebagai mahar, akhirnya kedua pasangan itu sudah sah secara hukum di mata negara atas pernikahannya.  “Alasan saya ikut acara ini juga sebenarnya demi istri. Kebetulan tahun depan mau naik haji dan salah satu syaratnya harus ada buku nikah,” imbuhnya seraya pamit. (ang/fab/JPG)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia