Minggu, 23 Apr 2017
Features

Kisah Chinchin tentang KDRT dan Penahanan yang Dialaminya (1)

Rabu, 30 Nov 2016 19:43

KASIH IBU: Chinchin sebelum ditahan ketika bersama anaknya, James dan Lawrence.

KASIH IBU: Chinchin sebelum ditahan ketika bersama anaknya, James dan Lawrence. (Chinchin for Jawa Pos/JawaPos.com)

Pernikahan yang dilimpahi gelimang kekayaan bukan jaminan kebahagiaan. Itu dirasakan Trisulowati, mantan direktur utama PT Blauran Cahaya Mulia (BCM). Dia kini ditahan atas laporan suami sendiri. Dia pun mengaku sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selama belasan tahun.


ARIYANTI K.R.-FAJRIN M.B.


NAMANYA Trisulowati. Orang-orang lebih mengenalnya dengan panggilan Chinchin. Saat ini statusnya adalah tersangka. Dia dituduh melakukan pencurian dan penggelapan dalam keluarga terkait posisinya sebagai direktur utama PT BCM.

Penangguhan penahanan yang diajukan pengacaranya pun tak kunjung menuai hasil. Adalah sang suami, Gunawan Angka Widajaja, yang membuatnya harus merasakan pengapnya hidup di balik jeruji besi.

Selama hampir dua pekan ini di Polrestabes Surabaya berlanjut ke Rutan Medaeng. Sebelum ditahan, Chinchin bercerita secara khusus tentang badai rumah tangganya kepada Jawa Pos.

”Bagiku, ini bukan cobaan. Aku enggak percaya Tuhan kasih ujian. Kalau Dia kasih aku kepahitan, itu karena Dia sayang sama aku. Supaya aku bisa ikhlas menerima. Kalau sekarang aku bisa sabar, aku bisa bersama Dia nanti di surga,” kata Chinchin.

Perempuan kelahiran Blitar, 13 Oktober 1970, itu mengaku menikah dengan pria yang disebutnya Pak Gun tersebut pada 1997. Rumah tangga dibangun atas dasar unik: mengejar ramalan. Kata Chinchin, Gunawan sangat percaya pada ramalan.

Pria kelahiran 16 Oktober 1968 itu konon bisa menjadi kaya raya jika bisa menikah pada 1997. Saat itu, Gunawan sebetulnya sudah punya kekasih. Namanya Wawa.

Namun, menjelang pernikahan, adik Gunawan, Sugiharto Angka Widjaja, memberikan sejumlah cerita kepada ibunya sehingga sang mama tak mau merestui pernikahan tersebut. Pak Gun dan Wawa putus.

”Itu sekitar Agustus ya,” kata Chinchin. Gunawan lalu dikenalkan kepada sejumlah perempuan. Salah satunya Chinchin. Kebetulan saat itu Chinchin juga sedang sendiri. Sejak 1995, dia pindah ke Jakarta karena sakit hati diselingkuhi pacarnya.

Dua tahun menanti, bukannya ajakan balik yang menjadi harapannya itu datang. Malah muncul kabar bahwa sang mantan pacar akan menikah. Mendapati mantan kekasihnya segera menikah, Chinchin merasa saatnya mulai membuka diri.

Dia berkeyakinan, orang pertama yang datang kepadanya untuk urusan cinta itulah jodoh yang disiapkan untuknya. ”Nggak usah pakai cinta. Yang penting, orangnya itu nggenah (benar, Red), sudah cukup bagi saya,” ujarnya.

Chinchin ingat betul hari itu, 20 September 1997. Dia dikenalkan kepada Gunawan. Pertemuan mereka berlangsung tak sampai 10 kali. Sebab, Chinchin masih di Jakarta dan Gunawan di Surabaya.

Tepat tiga bulan kemudian mereka menikah. Ketika itu, menurut orang-orang, Gunawan adalah sosok yang halus. Enggak kasar.

’’Jadi, saya mau. Misalnya, dia orang miskin pun saya juga pasti nikah sama dia karena di awal saya juga nggak tahu kalau dia dari keluarga kaya,” katanya. Pernikahan berjalan tanpa pesta mewah.

Di awal status sebagai suami istri, Chinchin menyebut tahu bahwa relasi Gunawan dengan keluarganya tidak harmonis. Sampai pada 2002, Gunawan dikeluarkan dari keluarga. Chinchin setia menemani.

”Mulai menikah itu, saya juga sudah terbiasa bekerja,” tuturnya. Kerja keras membuat kehidupan ekonomi mereka semakin baik.

Tapi, hal itu ternyata tak sejalan dengan perasaan bahagia. Chinchin mengaku mulai mengalami KDRT, baik secara fisik maupun verbal.

”Sudah nggak bisa dihitung lagi berapa kali saya dibilang, asu, kirik. Pak Gun itu juga tega mukuli saya, njejek, meludahi. Sampai saya berdarah, memar-memar pun tetap saja dilakukannya,” ceritanya.

Chinchin lupa kapan kali pertama KDRT itu dilakukan. Yang jelas, sejak anak-anak belum lahir pun sudah begitu. Chinchin dan Gunawan dikaruniai tiga buah hati. Janice lahir pada 28 Juni 2002.

Berikutnya, ada James yang lahir 14 Mei 2004. Si bontot adalah Lawrence yang lahir 31 Oktober 2005. KDRT itu, kata Chinchin, seperti hal yang selalu menghantui di sepanjang pernikahan.

Sehari dua hari merasa tenang. Keesokannya bisa berubah total menjadi neraka penuh siksaan. Tak terduga. Chinchin merasa bahwa KDRT tersebut merupakan pelampiasan lantaran Gunawan mengalami tekanan keluarga.

Menurut dia, aslinya Gunawan itu orang baik. Hanya, dia berada di lingkungan yang membuatnya melakukan hal-hal kasar kepadanya.

Meski begitu, tak tebersit sedikit pun keinginan Chinchin untuk melaporkan suaminya ke polisi. Juga tak ada keinginan bercerai.

”Aku anggep ae ini kayak dapat lotre. Ini jalan Tuhan untuk aku dekat sama Dia,” katanya. Mengatasi keadaan itu, Chinchin memilih bekerja mati-matian. Rutinitasnya adalah bangun pagi pukul 04.00 dan baru beranjak tidur pukul 02.00.

”Aku berpikir, kalau aku bisa sukses secara finansial, itu akan bisa mengubah nasibku. Membuat Pak Gun jadi lebih baik ke aku, ke anak-anakku,” imbuhnya. Bagaimana hubungan suami istri?

Menurut Chinchin, yang terjadi seperti kewajiban saja. Tak ada kasih sayang suami istri. ”Barangkali kalau Pak Gun ditanya cinta nggak sama aku, jawabnya juga paling nggak. Karena namanya cinta nggak akan kayak gitu,” ujarnya.

Untuk meluapkan kesedihan, selain berdoa, Chinchin juga punya cara lain. Dia biasa menulis puisi. Banyak sekali buku tulis yang penuh dengan tulisan rapi isi hatinya.

Tuhan seperti ajaranMu/aku harus sabar//Itu sudah aku lakukan//Aku harus mengalah/itu sudah aku upayakan//Bila orang menampar pipi kirimu/berikan pipi kananmu//Itu sudah aku jalani//Cintailah musuh-musuhmu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri/itu sudah aku coba//Tuhan/sekarang aku menunggu petunjuk-Mu//Apa yang harus aku lakukan???//Agar aku beroleh hidup yang kekal bersama-Mu kelak di surga.

Itu salah satu puisi yang ditulisnya. Masih ada puluhan atau bahkan ratusan lagi. Tulisannya rapi dengan bahasa lugas. Beberapa belum selesai ditulis. ”Ya, mungkin saat itu saking nggak kuatnya nulis,” ujarnya.

Namun, seberapa keras Chinchin bekerja, seberapa banyak harta yang dihasilkan, ternyata menurutnya itu tak mengubah perlakuan kasar suaminya.

Gunawan yang disebutnya lebih banyak diam dalam usaha mereka itu tetap memperlakukan dirinya dengan semaunya. Ditemui secara terpisah, Gunawan membantah menikahi Chinchin karena ramalan.

Menurut pria yang awalnya punya perusahaan penyalur tenaga kerja Indonesia (TKI) itu, kalaupun percaya ramalan, dirinya tidak harus menikah dengan Chinchin.

”Ramalannya isinya apa? Kalau menikahi dia, jadi kaya raya? Itu namanya GR,” lanjutnya. ”GR max lagi,” imbuhnya.

Gunawan juga menyebut pernikahan resminya berlangsung pada 16 Juni 2000 sesuai dengan yang tertuang dalam kutipan akta perkawinan mereka yang dicatatkan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surabaya.

Namun Chinchin punya penjelasan lain. ”Ada tiga kali prosesi pernikahan. Pada 1997 itu resepsi, pada 9 Oktober 1999 di hadapan pemuka agama Buddha, lalu pada 16 Juni 2000 yang dicatatkan di catatan sipil dan aktanya keluar pada 2002,” jelas Chinchin.

Gunawan mengaku memilih Chinchin sebagai istri lantaran kepolosannya. Dia berkisah bahwa saat itu dirinya sudah mapan. Sejak umur 22 tahun sudah berwirausaha.

Sementara itu, Chinchin masih jadi sales sepeda motor di Jakarta. ”Jadi, saya pikir, saya cari yang lugu saja,” tegasnya. Gunawan saat itu juga melihat sifat Chinchin yang sungkanan dan sendu.

”Terbukti sudah dia kan ’sungguh-sungguh mengharapkan’ dan ’seneng duit,’,” ungkapnya, lantas tertawa lepas. Gunawan juga tak mau disebut dirinya sengaja melaporkan Chinchin ke polisi.

Versinya, dia merasa dikhianati dalam urusan perusahaan. Menurut dia, kepercayaannya selama ini dibalas dengan sesuatu yang mengecewakan. ”Padahal, sudah saya percayakan dan serahkan semuanya,” bebernya.

”Tapi, saya dikhianati, ditusuk dari belakang. Harta saya banyak dilarikannya,” tambah Gunawan. Gunawan menyebut Chinchin ingin menjegalnya. Beruntung, kata dia, ada karyawannya yang memergoki rencana tersebut.

Pegawai itu akhirnya melaporkan Chinchin ke Polrestabes Surabaya. Saat penyelidikan, Gunawan dipanggil juga untuk memberikan keterangan. Akhirnya, kata Gunawan, dirinya diminta oleh polisi untuk menjadi pelapor juga.

Hingga dia kemudian menyerahkan sepenuhnya ke pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah tersebut. ”Tapi, selama ini seolah-olah saya yang melaporkan istri saya,” terangnya. (*/bersambung/c6/dos/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia