Minggu, 23 Apr 2017
Metropolis

Minta Layanan Imigrasi Terpusat di Terminal Internasional

Rabu, 30 Nov 2016 19:17

CAP STEMPEL" Suasana petugas di loket imigrasi terminal selatan (T2) Juanda saat melayani pelintas batas negara.

CAP STEMPEL" Suasana petugas di loket imigrasi terminal selatan (T2) Juanda saat melayani pelintas batas negara. (Dok Jawa Pos.com)

JawaPos.com – Penerbangan perdana maskapai Garuda Indonesia tujuan Surabaya–Madinah pada Selasa (29/11) sempat bermasalah.

Penumpang yang sebagian merupakan jamaah umrah itu telantar di terminal l bandara tersebut. Mereka menunggu proses pemeriksaan imigrasi yang mengalami keterlambatan.

Permasalahan itu muncul karena kesalahpahaman maskapai dan imigrasi. Normalnya, penerbangan Garuda Indonesia berlangsung di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.

Petugas imigrasi juga sudah siap di terminal tersebut. Sebab, T2 merupakan terminal internasional. Namun, rencana tersebut berubah.

Penumpang yang hendak berangkat menggunakan pesawat Garuda pukul 06.45 itu dipindahkan ke terminal 1. Alasannya, pemberangkatan umrah sudah ditetapkan di terminal tersebut.

Petugas imigrasi terpaksa pindah ke terminal tersebut. ”Proses pindah butuh waktu lama,” kata Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya Agus Widjaja.

Pemindahan itu dilakukan karena infrastruktur di terminal 1 tidak ada. Selama ini pemberangkatan tujuan internasional melalui terminal 2. Peralatan untuk data imigrasi dipusatkan di terminal tersebut.

Memang, pemberangkatan umrah bukan kali pertama berlangsung dari Juanda. Tapi, sifatnya tidak mendadak. Karena itu, petugas sudah siap di lokasi. Nah, kondisi kemarin berbeda.

Perpindahan dilakukan mendadak sehingga proses pendataan imigrasi relatif terlambat. Petugas harus mengangkut peralatan dari terminal 2 ke terminal 1.

Selain itu, petugas yang seharusnya berjaga penuh di terminal 2 harus dibagi. Beruntung, proses pembagian tersebut tidak mengganggu pendataan keimigrasian di terminal 2.

Hingga pukul 08.30, pendataan imigrasi belum selesai. Penumpang yang sudah mengenakan seragam umrah pun telantar.

Pihak Garuda sudah mempersilakan mereka menunggu di ruang tunggu khusus pesawat Garuda. ”Tapi, mereka menolak,” ujar Vice President Public Relation Garuda Indonesia Benny Butarbutar.

Mustiningsih, salah seorang jamaah, mengaku lelah menunggu di bandara tersebut. Dia tiba di bandara bersama rombongan pukul 05.00.

Itu dilakukan karena penyelenggara umrah mengabarkan ada seremonial sebelum pemberangkatan. Selain itu, proses check-in dilaksanakan satu jam sebelum berangkat.

”Sudah berjam-jam belum ada kepastian pemberangkatan,” keluhnya. Agus Widjaja prihatin dengan insiden tersebut. Meski begitu, dia tidak ingin mencari siapa yang salah.

Hanya, PT Angkasa Pura I selaku pengelola bandara diminta mempertimbangkan kebijakan tentang umrah. Pemberangkatan di terminal 1 hendaknya bisa dipindah di terminal 2.

”Infrastruktur dan petugas sudah siap. Layanan bisa maksimal,” ucapnya. Perpindahan yang sering terjadi bisa berakibat pada pemeriksaan yang tidak optimal. Memang, jamaah umrah tidak patut dicurigai.

Tapi, standar internasional mewajibkan pemeriksaan sesuai prosedur. ”Angkasa Pura harus mengambil kebijakan baru yang logis dan realistis,” ujar pria yang akrab disapa Awi itu. (riq/c6/oni/sep/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia