Rabu, 25 Jan 2017
Features

Usaha Keras Menjadi Tim Inline Skate Satpol PP Surabaya, Nyungsep gara-gara Lupa Cara Ngerem

Rabu, 30 Nov 2016 19:07

LATIHAN DUA BULAN: Para anggota satuan Inline Skate Satpol PP Surabaya bersantai setelah bertugas di Taman Bungkul.

LATIHAN DUA BULAN: Para anggota satuan Inline Skate Satpol PP Surabaya bersantai setelah bertugas di Taman Bungkul. (Taufiqurrohman/Jawa Pos/JawaPos.com)

Sebelum tampil sebagai petugas keamanan superkeren dengan helm dan sepatu roda, ada proses yang tidak mudah bagi sepuluh personel satuan inline skate Satpol PP Surabaya ini. Mereka harus jatuh bangun sampai benar-benar menguasai sepatu dengan empat roda tersebut. Mereka pernah jatuh, bangun, jatuh lagi, dan bangun lagi.


TAUFIQURRAHMAN


SEKITAR pukul 15.00, setiap hari Mahella Tiara dan sembilan temannya bersiap-siap. Mereka punya aktivitas baru. Yakni, mengontrol jalur-jalur pedestrian.

Persiapan pertama adalah memasang sepatu roda, helm, dan body protector yang melindungi bagian-bagian tubuh seperti lutut, siku, dan telapak tangan.

Biasanya tim patroli inline skate itu menelusuri jalan-jalan dengan jalur pedestrian yang lebar. Contohnya, sepanjang Jalan Urip Sumoharjo. Di jalan itu, kerap ditemui pelanggaran ketertiban umum (trantibum).

Misalnya, pedagang asongan, sepeda motor parkir, maupun kendaraan yang nekat melintas di jalur pedestrian. Tim tersebut selalu bergerak bersama-sama.

Saat magrib, mereka beristirahat untuk melepas lelah atau membiarkan kaki bernapas sejenak. Bagi yang tidak terbiasa, kaki akan terasa sakit setelah berlama-lama memakai sepatu roda.

’’Biasanya teman-teman memang berkumpul di Taman Surya sini,’’ kata Tiara saat berbincang dengan Jawa Pos sore itu. Menjadi inline skater bukan pekerjaan mudah. Tiara mengaku baru saja mengenal inline skate.

Sepatu roda jenis itu memang beda. Berbeda dengan sepatu roda konvensional dengan dua roda di depan dan belakang, inline skate memiliki roda yang disusun segaris (in line).

Sepatu roda tersebut punya kecepatan dan manuver yang lebih baik. Yang dipakai Tiara dan kawan-kawannya termasuk level profesional. Empat roda plastik tanpa rem. Untuk bisa berhenti, perlu manuver khusus.

Badan menghadap ke samping dengan satu kaki di depan dan lainnya di belakang. Saat berhenti, kaki depan harus melintang melawan arah luncur. ’’Bentuk kakinya kayak huruf T,’’ kata Tiara.

Khusus pelajaran mengerem menyisakan banyak cerita dan peristiwa lucu. Kadang saat meluncur, dua anggota tim sama-sama tidak bisa mengerem. ’’Akhirnya tabrakan, jatuh bareng, ketawa bareng,’’ tutur Tiara.

Sebelum lolos menjadi anggota tim inline skate, Tiara dan kawan-kawannya menjalani serangkaian seleksi dan latihan. Dua bulan mereka belajar mempercepat, memperlambat, berhenti, berbelok, dan bermanuver.

Termasuk gaya-gaya luncur. Misalnya, meluncur berdiri atau duduk. ’’Yang paling sulit itu meluncur duduk. Mas Sulaiman yang paling pinter,’’ ujar Tiara yang menyebut salah seorang temannya.

Sulaiman adalah satu di antara lima personel laki-laki dalam kesatuan tersebut. Badannya tinggi besar dan dikenal sebagai skater yang paling mahir.

Bahkan, beberapa temannya menyebut Sulaiman bisa meluncur mundur. Di kalangan teman-temannya, Sulaiman biasa dipanggil Sule. Meski mahir, Sulaiman pernah mengalami hal buruk saat pertama latihan.

Kejadiannya juga di Taman Surya. ’’Saya meluncur, lalu lupa cara ngerem, nyungsep ke taman,’’ kata Sule. Kepala Seksi Kesamaptaan Satpol PP Surabaya Dwi Hargianto dipercaya sebagai kapten tim.

Dia mengatakan, yang terpenting bagi anggota satuan adalah ketahanan fisik. Butuh pembiasaan meluncur berlama-lama dengan inline skate.

’’Saya merasakan sendiri, meluncur beberapa jam saja, badan sakit semua,’’ ungkapnya. Ide satuan itu tercetus dari Kepala Satpol PP Irvan Widyanto. Akhirnya, sejak Agustus 2016, diadakan seleksi untuk satuan baru tersebut.

Ketika itu, inline skate sudah booming di Surabaya. ’’Awalnya 30 orang, akhirnya mengerucut menjadi 10 orang, sebelas dengan saya,’’ kata Dwi.

Pusat latihan berada di Taman Surya. Tepatnya di depan Balai Kota Surabaya. Satpol PP mengundang ketua komunitas inline skate Surabaya sebagai pelatih.

Di situ disediakan kerucut jalan (traffic cone) untuk berbelok maupun zig-zag. Beggy Arya Yunani menyatakan bangga menjadi bagian dari tim inline skate.

Dia tidak menyangka menjadi satpol PP bisa berpenampilan keren dan trendi. Meski demikian, Beggy mengakui bahwa prosesnya tidak mudah.

’’Kadang kalau salah manuver atau jatuh ditertawakan orang, ya kita harus terima,’’ tutur perempuan berlesung pipit itu. (*/c7/oni/sep/JPG)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia