Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 November 2016 | 19.26 WIB

Rumah Juragan Emas Dibobol, 2 Kg Perhiasan Raib

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com- Nasib apes menimpa juragan emas asal Kota Pasuruan, Raharjo Wibowo alias Cecey, 30. Rumah warga Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, itu dibobol maling pada Senin (28/11). Lelaki yang sehari-harinya berjualan emas di toko 1001 tersebut harus kehilangan perhiasan emas seberat 2 kilogram dan beberapa berlian. Bila dikalkulasi, dia menderita kerugian sekitar Rp 900 juta.



Kawanan maling mencuri perhiasan emas milik Cecey yang disimpan di kamar utama rumahnya. Para pelaku berhasil mencongkel pintu kamar depan. Selanjutnya, pelaku mengambil dua kotak plastik yang tersimpan di dalam lemari. Di kotak plastik itulah tersimpan perhiasan emas berbagai bentuk (cincin, gelang, dan kalung) yang sejatinya baru dibuat dan hendak dicuci sebelum dijual di toko.



Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, aksi pencurian tersebut diperkirakan terjadi Senin siang. Pagi itu Cecey sekeluarga berwisata ke pemandian Banyubiru di Winongan. ”Saya tiba di rumah sekitar pukul 15.00. Saat masuk, saya melihat pintu kamar sudah dijebol,” kata Cecey saat ditemui di toko 1001 miliknya di Jalan Wahid Hasyim. Rumah Cecey dan tokonya berjarak hanya sekitar 150 meter.



Cecey kian kaget saat melihat lemarinya terbuka. Terlebih saat mengetahui dua kotak plastik putih yang tersimpan di dalamnya raib. Di kotak itulah Cecey menyimpan perhiasan emas dagangannya. ”Perhiasan tersebut baru dibuat dan hendak dicuci, tapi sudah raib duluan,” ungkapnya.



Seketika itu, Cecey mencari tahu kepada empat orang di dalam rumah setelah kejadian. Mereka adalah Kiswati, 55, warga Karangketug, Gadingrejo; Sunarsih, 55, warga Pasrepan (keduanya adalah pembantu rumah tangga); Arifin, 57, warga Glanggang, Kecamatan Beji, yang menjadi perajin emas di rumah Cecey; dan Santoso, sopir pribadi Cecey.



Namun, empat orang tersebut mengaku tidak tahu. Termasuk saat ditanya apakah ada orang yang datang saat Cecey keluar. Keempatnya mengaku tak tahu-menahu. Cecey pun lantas melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Atas kejadian itu, polisi langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).



Anjing pelacak K9 turut didatangkan. Keempat penghuni rumah termasuk Cecey dan kerabatnya dimintai keterangan polisi. Kemarin pemeriksaan lanjutan dilakukan polisi.



Saat kejadian, di dalam rumah hanya ada tiga orang, yakni Kiswati, Sunarsih, dan Arifin. Saat pintu kamar dibobol dan emas raib, ketiganya tak mendengar atau melihat kecurigaan apa pun. Ketiganya juga mengaku baru tahu pintu kamar utama yang di dalamnya tersimpan kotak perhiasan dibobol saat Cecey memberitahu.



Jawa Pos Radar Bromo kemarin pagi sempat menelusuri ke rumah Cecey di Jalan Dewi Sartika. Saat itu wartawan koran ini ditemui Arifin yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.



Ya, sehari-hari Arifin memang mengerjakan kerajinan emas di rumah Cecey. ”Saya juga tidak tahu dari mana malingnya masuk. Yang jelas, saat itu saya sedang kerja,” terangnya.



Menurut Arifin, kedua pembantu rumah tangga juga ada di dalam rumah. Namun, Kiswati sempat berada di toko sekitar pukul 09.00–12.30, sedangkan Sunarsih berada di dalam rumah pukul 08.00–15.00.



Rumah Cecey sejatinya cukup besar. Tinggi temboknya sekitar 4 meter. Di depan rumah ada pagar tajam yang tingginya sekitar 2,5 meter. Rumah itu setiap hari juga selalu terkunci dan orang asing pasti tidak bisa masuk jika tak diizinkan pemiliknya. Rumah tersebut juga hanya memiliki satu pintu untuk akses keluar-masuk ke jalan, yakni pagar. Namun, rumah Cecey tidak dilengkapi close circuit television (CCTV).



Disinggung soal CCTV yang tidak ada di dalam rumahnya, Cecey mengaku memang belum memasangnya. ”Justru hari ini (kemarin, Red) rencananya saya mau pasang CCTV, tapi sudah kejadian dulu,” kata Cecey.



Lelaki yang kemarin tetap membuka tokonya tersebut juga enggan menyebut orang-orang yang dicurigainya, termasuk soal adanya keterlibatan orang dalam. ”Saya menyerahkan sepenuhnya ke polisi. Saya tidak mau mencurigai siapa orang-orang yang terlibat,” terangnya.



Cecey hanya heran pelaku bisa tahu letak kotak plastik perhiasan ada di dalam lemari. Apalagi, kondisi kamarnya tidak acak-acakan. Dia memperkirakan, pelaku sudah tahu kondisi rumah, termasuk kebiasaan penghuni di dalam rumah. ”Saat saya masuk, pintu kamar sudah rusak. Namun, hanya lemari yang berisi perhiasan di kotak plastik yang terbuka. Padahal, di dalam kamar juga ada lemari dan meja. Di kamar juga ada brankas yang berisi perhiasan dengan jumlah lebih banyak,” terang Cecey.

Editor: Fim Jepe
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore