Jawa Pos Logo

Metia Ramadhania Permadi Buktikan Handmade Layak Dihargai Mahal

JawaPos.com- Produk buatan tangan manusia (handmade) rasanya kurang dihargai di negara berkembang seperti Indonesia. Meski penuh tantangan, Metia Ramadhania Permadi tak patah semangat mengenalkan ciri, kelas, dan kualitas produk handmade.

Metia adalah pengusaha yang bergerak di bidang fashion. Lewat brand Deluniq, dia memproduksi kaftan dengan aplikasi handmade dari kain. Aplikasi itu dibuat dengan teknik fabric manipulating. Yakni, menyulap kain menjadi aplikasi atau barang dengan bentuk tertentu. Ciri yang dimiliki Metia adalah aplikasi handmade berbentuk mawar yang dipadukan baju kaftan.

”Awalnya, pada 2011 kaftan lagi booming banget. Tapi, modelnya begitu-begitu saja. Saya pikir, kaftan ini bisa dimodifikasi dengan aplikasi handmade dengan teknik yang saya pelajari di bangku kuliah,” kata sarjana kriya tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Kaftan dengan aplikasi handmade tersebut dijual kepada kerabat, keluarga, dan teman-temannya. Meski harganya agak mahal, responsnya cukup bagus. Berangkat dari pengalaman itu, Metia meneruskan produksi kaftan ditambah aksesori berupa kalung. Kebetulan, sejak berkuliah, dia suka mencoba membuat kalung berbentuk mawar dan tali tambang.

Ternyata, kalung Rp 125 ribu–Rp 340 ribu dinilai terlalu mahal oleh konsumen. ”Hanya orang-orang tertentu yang mau dengan produk handmade atau orang yang memang mengerti jika pembuatan barang handmade itu susah. Kalau mereka mengerti pembuatan kalung handmade susah, pasti bisa memahami mengapa harganya mahal,” papar gadis asal Bandung itu.

Metia menyadari, pasar barang handmade memang terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Pada 2012 Metia mulai aktif mengikuti pameran dan lomba. Dari situ, dia belajar banyak hal di bidang pemasaran, sekaligus mendapatkan akses pembeli (buyer). Dia juga lebih aktif memasarkan Deluniq di media sosial.


BERITA LAINNYA