Minggu, 22 Jan 2017
Bisnis

Metia Ramadhania Permadi Buktikan Handmade Layak Dihargai Mahal

Senin, 28 Nov 2016 15:49

MOSTLY HANDMADE: Metia dan beberapa produk yang telah diluncurkan.

MOSTLY HANDMADE: Metia dan beberapa produk yang telah diluncurkan. (SHABRINA PARAMACITRA/JAWA POS)

JawaPos.com- Produk buatan tangan manusia (handmade) rasanya kurang dihargai di negara berkembang seperti Indonesia. Meski penuh tantangan, Metia Ramadhania Permadi tak patah semangat mengenalkan ciri, kelas, dan kualitas produk handmade.

Metia adalah pengusaha yang bergerak di bidang fashion. Lewat brand Deluniq, dia memproduksi kaftan dengan aplikasi handmade dari kain. Aplikasi itu dibuat dengan teknik fabric manipulating. Yakni, menyulap kain menjadi aplikasi atau barang dengan bentuk tertentu. Ciri yang dimiliki Metia adalah aplikasi handmade berbentuk mawar yang dipadukan baju kaftan.

”Awalnya, pada 2011 kaftan lagi booming banget. Tapi, modelnya begitu-begitu saja. Saya pikir, kaftan ini bisa dimodifikasi dengan aplikasi handmade dengan teknik yang saya pelajari di bangku kuliah,” kata sarjana kriya tekstil Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Kaftan dengan aplikasi handmade tersebut dijual kepada kerabat, keluarga, dan teman-temannya. Meski harganya agak mahal, responsnya cukup bagus. Berangkat dari pengalaman itu, Metia meneruskan produksi kaftan ditambah aksesori berupa kalung. Kebetulan, sejak berkuliah, dia suka mencoba membuat kalung berbentuk mawar dan tali tambang.

Ternyata, kalung Rp 125 ribu–Rp 340 ribu dinilai terlalu mahal oleh konsumen. ”Hanya orang-orang tertentu yang mau dengan produk handmade atau orang yang memang mengerti jika pembuatan barang handmade itu susah. Kalau mereka mengerti pembuatan kalung handmade susah, pasti bisa memahami mengapa harganya mahal,” papar gadis asal Bandung itu.

Metia menyadari, pasar barang handmade memang terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Pada 2012 Metia mulai aktif mengikuti pameran dan lomba. Dari situ, dia belajar banyak hal di bidang pemasaran, sekaligus mendapatkan akses pembeli (buyer). Dia juga lebih aktif memasarkan Deluniq di media sosial.

Pada 2014 Metia bekerja sebagai trend researcher di sebuah perusahaan denim ternama. Sambil menjadi karyawan, dia mencoba membuat produk baru dengan brand Deluniq Bold. Deluniq Bold adalah kalung yang memadukan kain dengan akrilik. Sementara itu, brand Deluniq digunakan untuk kalung yang lebih banyak menggunakan kain. Warna produk Deluniq Bold lebih banyak hitam dan putih (monokrom). Selain itu, Deluniq lebih banyak mengaplikasikan warna-warna pastel yang lembut.

Namun, kesibukannya sebagai karyawan membuat Metia tidak fokus. Dia merasa, bekerja sebagai karyawan dan pengusaha sama-sama tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Akhirnya, pada awal 2016, Metia mengundurkan diri sebagai trend researcher agar lebih berfokus menjalankan bisnisnya.

Metia juga sempat menjadi finalis di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 pada Oktober lalu. Dalam event itu, Metia memperkenalkan brand Metidhania. Produk Metidhania merupakan aksesori berupa tas, kalung, dan sandal. Bahannya lebih premium, yakni kulit domba dan produk handmade yang dipadukan dengan teknik bordir.

Metia berharap tahun depan produk Metidhania bisa mulai dipasarkan dengan gencar. ”Kalau Metidhania, mungkin akan lebih banyak menyasar kalangan menengah ke atas dan banyak dijual di toko,” ujarnya.

Kisaran harga tas Metidhania Rp 1,5 juta, sandal mulai Rp 900 ribu, sedangkan kalung Rp 500 ribu. Dengan tiga brand yang diluncurkan, Metia menyatakan bahwa pasar barang handmade lebih marak di luar negeri seperti Singapura dan Eropa. Dia pun ingin melebarkan sayap hingga pasar tersebut. ”Di luar negeri, harga barang handmade bisa sangat mahal. Di sini (Indonesia), masih lebih suka barang yang murah. Jadi, kurang menghargai produk buatan tangan,” ungkap gadis kelahiran 7 Mei 1987 tersebut.

Dalam bisnis itu, Metia masih mengandalkan pemasaran di media sosial. Sebab, menurut Metia, saat ini banyak pesaing baru dengan kualitas standar, tetapi pemasarannya sangat gencar. Bahkan, mereka bisa meng-endorse artis di media sosial. Metia menyebutkan, pengeluaran untuk meng-endorse artis cukup mahal. Yakni, Rp 5 hingga Rp 10 juta per post.

Sebenarnya, Metia sempat ditawari aktivis media sosial yang rela memakai produk Deluniq tanpa dibayar. Namun, menurut Metia, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan. ”Sebab, follower media sosial belum tentu suka dan membutuhkan apa yang dipakai orang itu (aktivis media social, Red). Juga, saya ini tipe yang idealis, tidak melulu memikirkan hasil jualan. Produk saya ini lebih limited,” ungkapnya.

Karena itu, Metia terus memperbaiki media sosialnya agar tidak kalah dengan produk serupa yang hanya unggul di sisi pemasaran, tetapi kualitasnya belum tentu bagus. (rin/c21/noe)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia