Kamis, 23 Feb 2017
Otomotif

Adu Kencang Kelas Motorsport 250 Cc

Jumat, 25 Nov 2016 17:35

BREAKTHROUGH: Model berpose dengan CBR250RR dalam peluncuran motorsport bermesin 250cc tersebut di ajang Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2016.

BREAKTHROUGH: Model berpose dengan CBR250RR dalam peluncuran motorsport bermesin 250cc tersebut di ajang Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2016. (Muhammad Ali/Jawa Pos)

JawaPos.com- Keputusan Astra Honda Motor (AHM) merakit All New CBR 250RR di Indonesia seolah menjadi babak baru kompetisi serius di kelas motorsport 250 cc. Pendapatan segmen yang memiliki 0,53 persen pasar motor nasional itu ternyata terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat kelas menengah.

Persaingan serius di kelas 250 cc sebenarnya pernah terjadi pada era sepeda motor bermesin 4 tak (4 stroke engine), tepatnya pada pertengahan 1990-an. Saat itu produsen seolah berjalan masing-masing dengan kapasitas mesin yang berbeda tipis. Honda mengandalkan Tiger dengan kapasitas mesin 200 cc. Yamaha mengusung Scorpio dengan kapasitas mesin 225 cc. Sementara itu, Suzuki memiliki Thunder 250 atau Thunder GSX 250.

Ketiganya sama-sama digemari dan mempunyai komunitas yang fanatik. Bahkan, produk-produk tersebut masih banyak berseliweran di jalan meski rata-rata sudah dimodifikasi. Karena itu, Suzuki boleh dianggap sebagai pelopor motorsport bermesin 250 cc di Indonesia. Namun, usia ketiga motor tidak lama. Thunder stop diproduksi pada 2005. Tiger ditidurkan pada 2014. Sementara itu, Scorpio tutup usia pada 2012. Produsen pun akhirnya berfokus pada motorsport 150 cc. Misalnya, Yamaha V-Ixion dan Yamaha R15 atau Honda CBR150 yang menemani Megapro dan Verza.

Ketika Yamaha dan Honda bersaing di mesin 4 tak, Kawasaki masih setia di jalur mesin 2 tak melalui Ninja R dan Ninja RR di kelas 150 cc. Kawasaki juga melenggang sendiri di jalur 250 cc sejak 2008 melalui varian Ninja. Hasilnya positif. Penjualan Kawasaki Ninja 250 terbilang sukses. Bahkan, motorsport tersebut menjadi pemimpin pasar.

Suzuki sebenarnya juga menawarkan kembali motor 250 cc, yaitu Suzuki Inazuma. Namun, motor touring itu seolah melaju sendiri di antara genre motorsport. ’’Untuk 250 cc, sekarang kami masih berfokus dengan Inazuma. Demand pasar bagus kok. Untuk motorsport, kami masih menjalani proses study internal. Bukan terhadap market-nya, tapi terhadap produk,’’ ungkap Zulfikar Rafi Al Ghani, public relation Suzuki Indomobil Sales (SIS).

Menantang Kawasaki, Yamaha YZF-R25 lahir di Indonesia pada 2014, kemudian disusul versi naked-nya, yaitu Yamaha MT-25. Honda sebenarnya juga mulai menawarkan CBR 250 cc yang diproduksi di Thailand sejak akhir 2010. Penjualan di Indonesia dilakukan melalui impor dari negara itu. Hanya, saat itu mesinnya masih menggunakan single piston (silinder). Berbeda dengan Kawasaki Ninja 250 yang mengadopsi double silinder sehingga mengesankan sensasi motor gede dan menghasilkan raungan suara knalpot yang lebih gahar.

Tak mau kalah dengan Kawasaki dan Yamaha, Honda melahirkan All New Honda CBR 250RR. Honda memproduksi motor tersebut di Karawang, lalu meluncurkannya secara perdana di Indonesia. Test ride kali pertama juga dilakukan di Indonesia. Dengan peluncuran CBR 250RR, pasar motorsport 250 cc di Indonesia boleh dibilang menemukan tatanan baru dengan kompetisi yang lebih sengit dan setara.

 President Director AHM Toshiyuki Inuma mengungkapkan, Indonesia dan Jepang adalah dua negara yang memiliki potensi besar untuk motorsport 250 cc. Pasar saat ini menghendaki sepeda motor dengan kapasitas mesin besar, namun aftersales service-nya lebih ekonomis. Karena itu, motor 250 cc lebih dipilih daripada big bike. Animo tinggi di Jepang menjadi salah satu pertimbangan All New Honda CBR 250RR diproduksi di Indonesia. ’’Ada rencana diekspor ke Jepang. Kita lihat situasinya,’’ tuturnya. (gen/c5/noe)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia