
Salah satu ikan tambra raksasa asli Sungai Klawing yang berhasil ditemukan warga beberapa tahun silam.
JawaPos.com - Masyrakat Desa Arenan, Kecamatan Kaligondang punya pandangan lain soal ikan tambra (tor tambroides). Mitosnya, jika mengonsumsi ikan dari aliran Sungai Tambra dekat Sungai Klawing, itu warga setempat akan berdampak pada buta.
AMARULLAH NURCAHYO
Tak jauh dari pusat Kecamatan Kaligondang, dengan jalan halus beraspal berdiri Kantor Desa Arenan. Berjalan sekitar 4 kilometer ke arah jalan selebar 2,5 meter yang menurun, sampailah di dekat aliran Sungai Klawing. Selain sebagai tempat favorit memancing para pehobi dari luar Kaligondang, ada satu tempat yang diyakini sebagai cikal bakal berkembangnya mitos larangan memakan ikan dari sungai bagi masyarakat Arenan.
Konon pada masa itu, Arenan masih berupa kadipaten yang dipimpin Adipati Singayuda. Istrinya memiliki adik kandung bernama Pretimasa, yang ditakuti karena selain sakti mandraguna juga bertabiat jahat dan nekat serta menganiaya siapapun yang menghalangi niat dan keinginannya.
Sampai suatu ketika keluarga kadipaten merasa perbuatan salah satu keluarganya itu sudah memalukan dan harus diambil tindakan. Lalu dibuatkan sayembara. Yaitu yang bisa menangkap hidup atau mati akan dijadikan saudara kadipaten dan hadiah besar.
Kepala Desa Arenan, Esti Hartanti mengatakan, cerita tersebut didapat turun temurun. Konon saat itu sangat susah menumbangkan adik ipar adipati. Karena selain memiliki ajian Rawa Rontek atau jika tubuhnya menyentuh tanah akan hidup dan menyatu kembali, adik adipati itu juga sangat kejam dan bengis.
Setelah tak ada yang bisa menangkap Pretimasa, pihak kadipaten berembuk dan ternyata istri adipati menemukan titik kelemahan adiknya. Yaitu kesukaan makan ikan tambra. Tak berpikir lama, serombongan prajurit dan keluarga kadipaten mendatangi Pretimasa yang kala itu ada di salah satu gua batu di Sungai Tambra. Yaitu didalam Watu Wedus (Batu Kambing).
“Saat dibujuk menggunakan masakan paling enak olahan pemakan rumput, muncullah Pretimasa. Namun masyarakat yang sudah berkumpul dan dipersiapkan untuk menyerang jika adik adipati itu muncul. Lalu jasadnya agar dibuang terpisah,” tutur Esti.
Saat baru menikmati beberapa bagian ikan tambra, Pretimasa diserang ratusan warga kadipaten hingga tewas dan tubuhnya dipotong dipisahkan. Sebelum meninggal, Pretimasa bersumpah, barang siapa yang memakan ikan kesayangannya sampai kapanpun, matanya akan buta. Terutama warga Kadipaten Arenan, yang sekarang Desa Arenan.
“Kalau masyarakat yang saat ini berusia sekitar 50-80 tahun di Arenan, masih percaya. Namun untuk generasi sekarang, kemungkinan masih menganggap hanya sebatas mitos,” tambahnya.
Data yang dihimpun Radarmas, ikan tambra Kali Klawing terakhir ditemukan dalam ukuran raksasa pada tahun 2008 silam di wilayah aliran Sungai Klawing dengan berat 15 kilogram. Ikan itu terdampar dan masuk golongan ikan yang saat ini semakin turun populasinya. (sus/yuz/JPG)

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
