Minggu, 22 Jan 2017
Bisnis

Cerita Sukses Mutiara Kamila Athiyya, Pemilik Blank A Wear

Senin, 14 Nov 2016 18:30

HIGH CALL: Mutia gemar mengambil risiko dengan memproduksi lebih banyak pieces dari satu desain. Hasilnya, ongkos produksi lebih murah.

HIGH CALL: Mutia gemar mengambil risiko dengan memproduksi lebih banyak pieces dari satu desain. Hasilnya, ongkos produksi lebih murah. (Muhammad Ali/Jawa Pos)

JawaPos.com- Bisnis fashion termasuk everlasting business. Salah satu brand yang sedang naik daun adalah Blank A Wear. Berawal dari Instagram, brand asal Bekasi itu masuk ke fashion event bergengsi seperti Indonesia Fashion Week, Local Fest ID, hingga Market Museum. Kini Blank A Wear juga telah masuk ke label premium dengan Blank the Label.

Sosok di balik suksesnya Blank A Wear adalah Mutiara Kamila Athiyya. Dara manis tersebut mendulang sukses pada usia belia, 19 tahun. Berkat kerja keras dan berani mengambil risiko, Mutia mampu meraup omzet Rp 300 juta per bulan. Mahasiswa jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu juga telah memiliki rumah di kawasan Cibubur.

Bisnis fashion ditekuni Mutia sejak 2012, tepatnya ketika masih duduk di bangku kelas XI. Modalnya hanya Rp 2,5 juta. Saluran distribusinya hanya media sosial. Tidak disangka, animo pasar sangat besar. ’’Pas launching, demand sama suplainya tidak sebanding. Akhirnya, aku pakai barang impor dari Thailand yang style-nya mirip Blank A Wear,’’ paparnya akhir pekan lalu.

Awalnya, jurus pemasaran Blank A Wear masih ’’tradisional.’’ Yakni, memakai jasa fotografer untuk meningkatkan efek visual dan menggunakan jasa endorser selebgram. Namun, Mutia menyelipkan satu sentuhan personal dalam setiap deskripsi produk. ’’Aku kayak ngobrol sama customer. Ada sentuhan pribadiku di setiap produk Blank A Wear. Ini kayak personal branding,’’ terangnya.

Upayanya berhasil. Produk-produk Blank A Wear selalu sold out dan permintaan restock terus mengalir. Pada bulan pertama, Mutia sudah meraih untung Rp 3 jutaan. Mutia pun makin bersemangat menambah varian produk Blank A Wear, baik dari produksi sendiri maupun barang impor.

Tetapi, karena kualitas produk impor dari Thailand menurun, Mutia memutuskan memproduksi sendiri. Dia mendesain sendiri dengan modal memperhatikan tren di negara-negara kiblat fashion. Mutia juga menggunakan bahan-bahan berkualitas seperti katun toyobo, crepe, hingga supernova. ’’Aku pakai penjahit langganan Mama dan cari penjahit di Bandung. Total, ada 10 penjahit,’’ ujarnya.

Mutia juga melawan arus dengan memproduksi satu item desain dalam jumlah besar. Umumnya, satu desain diproduksi sampai 200 piece. Jadi, harga satuan bisa lebih murah. ’’Aku berani ambil risiko. Lagi pula, konsep awalnya nggak eksklusif. Yang penting, semua happy,’’ jelasnya.

Apakah semua bisa langsung laku? Tidak juga. Mutia mengakui bahwa tidak mudah memasarkan produk dalam jumlah besar. Namun, dia tidak pernah menyerah. ’’Kadang stres juga lihat tumpukan baju di rumah. Tapi, aku nggak pernah kepikiran untuk berhenti,’’ katanya.

Untuk mempercepat perputaran produk, Mutia rajin mencari reseller. Hasilnya, Blank A Wear kini memiliki 150 reseller. Mutia juga tidak segan melakukan pop-up store merek Blank A Wear dengan mengikuti sejumlah event bergengsi seperti Indonesia Fashion Week. ’’Dengan cara itu, peminatnya tetap tinggi. Jadi, aku makin semangat,’’ ucapnya. (ken/c14/noe)

 TOP
©2016 PT Jawa Pos Group Multimedia