Minggu, 23 Apr 2017
Bisnis

Lahan Diserobot, Investor Tambang Papua Keluhkan Kepastian Hukum

Minggu, 13 Nov 2016 01:19

Ilustrasi

Ilustrasi (Dok JPNN)

JawaPos.com - Perusahaan tambang emas PT Kristalin Eka Lestari (KEL) merasa dirugikan atas penyerobotan lahan yang diduga dilakukan PT Tunas Anugerah Papua (TAP).

PT TAP diduga telah memasuki wilayah PT KEL tanpa izin resmi. Adapun, lokasi beroperasinya kedua perusahaan itu berada di wilayah Distrik Makiwi, Kabupaten Nabire, Papua.

Mirisnya, PT TAP sudah melakukan operasi kerja selama satu tahun di lahan yang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dikantongi PT KEL sejak 2010 itu. Sebelumnya, PT KEL mengantongi Kuasa Pertambangan (KP) sejak 2008 silam.

"Kami menuntut kebenaran atas hak kami yang kami bangun sudah sembilan tahun sejak 2007," kata Komisaris PT KEL Arif Setiawan kepada  media, Sabtu (12/11).

Arif menduga, perusahaan yang telah menyerobot lahannya itu dibantu oleh oknum tertentu. Padahal, pihaknya telah menanamkan investasi cukup besar.

Dia menambahkan, PT KEL pada dasarnya telah mengantongi IUP untuk tambang emas Nifasi dan Makimi. Berdasarkan surat dari Ditjen Minerba Kementerian ESDM Nomor 012250/30/DBP/2015, tanggal 19 Juni 2015, tambang emas Nifasi dan Makimi tidak dalam tumpang tindih dengan IUP lainnya.

Pengambil alihan lahan   oleh  PT TAP, kata Arif, dianggap  tidak melalui prosedur yang diatur di dalam undang-undang  pertambangan.

"Kami  dari sisi legalitas memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang justru tidak bisa melakukan kegiatan produksi,'' sesalnya.

Arif memaparkan, sejak 2007 pihaknya telah mengurus perizinan ke pemerintah. Termasuk, telah dilakukan pelepasan hak ulayat adat Papua.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, sangat menyayangkan iklim usaha yang tidak kondusif tersebut. Padahal beroperasinya tambang Nifasi dan Makimi akan membantu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Apalagi, ke depannya akan banyak karyawan dari penduduk sekitar yang dipekerjakan di tambang milik PT KEL. Karenanya, Arif meminta keadilan hukum sehingga dapat meluruskan persoalan yang terjadi.

"Ini murni masalah kepastian hukum dalam investasi, tidak ada sangkut pautnya dengan pihak lain termasuk TNI," tegasnya.

Arif berharap, pemerintah memberikan perhatian terhadap investor-investor lokal yang menanamkan modalnya di tanah air.

"Harus ada kepastian hukum, karena kami selaku investor lokal ingin membangun bangsa ini. Jangan sampai terpecah oleh kepentingan kelompok tertentu. Karena kami berbisnis sebagai anak bangsa," tandasnya.

Sekadar informasi, Kawasan Legari, Distrik Makiwi, Kabupaten Nabire, Papua, terkenal sebagai salah satu daerah tambang emas yang baru mulai beroperasi. Tepatnya di kawasan sungai Musairu. (uya/JPG)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia