Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 November 2016 | 16.11 WIB

Pengakuan Sang Mahaguru

MAINKAN PERAN: Tujuh Mahaguru yang diangkat oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditampilkan ke publik di Polda Jatim kemarin. Mereka bertugas menemani Dimas Kanjeng saat beraksi di beberapa kota. - Image

MAINKAN PERAN: Tujuh Mahaguru yang diangkat oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditampilkan ke publik di Polda Jatim kemarin. Mereka bertugas menemani Dimas Kanjeng saat beraksi di beberapa kota.

JawaPos.com - Meski sudah menangkap tujuh mahaguru Dimas Kanjeng Tata Pribadi, polisi tak serta merta menetapkan mereka sebagai tersangka. Menurut Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Raden Prabowo Argo Yuwono, semua mahaguru mengaku tidak tahu-menahu modus operandi yang dijalankan Dimas Kanjeng dan Vijay. 



"Mereka ini sebenarnya tidak tahu-menahu. Cuma, perlu kami sampaikan ke publik bahwa Dimas Kanjeng ini memang penipu," tegas Argo.



Ketujuh mahaguru yang diamankan itu bernama Marno Sumarnno, 58, alias Abah Holil; Murjang, 51, alias Abah Nogososro; Abdul Karim, 77, alias Abah Sulaiman Agung; Ratim, 65, alias Abah Abdul Rohman; Sadeli, 63, alias Abah Entong; Biea Sutarno, 51, alias Abah Sukarno; dan Atjep, 51, alias Abah Kalijogo. 



Abdul Karim, 77, alias Abah Sulaiman Agung menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi mahaguru Dimas Kanjeng. Dia mengatakan awalnya mendapat tawaran dari Karmawi (orang yang dipercaya event organizer Dimas Kanjeng untuk menyiapkan mahaguru). Tawaran itu adalah untuk bergabung ke Padepokan Dimas Kanjeng. Karim pun menyanggupi, tapi dia mengaku tak menyadari jika akan dijadikan sebagai mahaguru. 



Pria yang dulunya bekerja sebagai kuli bangunan ini, lalu diberi baju lengkap dan diminta untuk bersandiwara mendampingi Dimas Kanjeng saat perkumpulan maupun istighotsah. 



Selama lima tahun tidak bekerja, membuat dia menerima tawaran dari Karmawi. ”Setiap kali dipanggil saya diberi uang sebesar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta,” kata Abdul Karim. 



Dia mengaku sudah dua tahun bergabung di Padepokan Dimas Kanjeng. Lalu, kakek 30 cucu ini didandani dengan menggunakan jubah dan surban dan diminta untuk duduk di kursi panggung bersama Dimas Kanjeng. 



”Setelah itu saya diberi uang dan diantar pulang. Di rumah saya diminta untuk berdoa dan mendalami ilmu agama,” ungkapnya. 



Karim menambahkan sudah dua kali menghadiri pertemuan di Padepokan Dimas Kanjeng di Kabupaten Probolinggo. Selain itu, kakek ber- jenggot putih ini pada 2016, juga ikut ke pertmuan yang diadakan di Ma- kassar dan di Jakarta.”Sudah empat kali saya ikut. Ditotal sudah dapat uang Rp 20 juta,” ungkapnya. 



Seperti diberitakan sebelumnya, Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim mengamankan orang-orang yang diduga terlibat penipuan bermodus penggandaan uang di Padepokan Dimas Kanjeng. Mereka ditangkap di kawasan Tomang, Jakarta Barat, Sabtu, (5/11). (don/no) 



 

Editor: Thomas Kukuh
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore