Kamis, 25 May 2017
PEMENANG READERS CHOICE
Bisnis

Seluk-Beluk Bisnis Kaos Celetukan Yajugaya Milik Randhy Prasetya

Senin, 07 Nov 2016 12:33 | editor : fimjepe

KREATIF: Randhy Prasetya memamerkan kaos hasil produksinya.

KREATIF: Randhy Prasetya memamerkan kaos hasil produksinya. (Imam Husein/Jawa Pos)

JawaPos.com- Celetukan di media sosial ternyata bisa menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Mengusung brand Yajugaya, Randhy Prasetya mengubah penggalan kata menjadi modal bisnis kaus kreatif.

Keengganan berlama-lama membaca buku yang hanya berisikan tulisan membuat Randhy lebih suka memperhatikan lingkungan di sekitarnya. Pria 31 tahun itu pun kerap mendapatkan inspirasi ungkapan yang unik dari pergaulannya yang intensif.

Inspirasi itu dituangkan ke akun media sosial. Seperti pegiat Facebook lainnya, niat Randy untuk guyon di media sosial hanya bermotif mengumpulkan like dan tanda jempol dari lingkaran pertemanannya. Hobi yang berlangsung sejak 2010 itu menuai apresiasi dari followers-nya.

Randy dan sejumlah temannya memutuskan menuangkan celetukan itu bukan hanya di media sosial. Mereka merencanakan membuat bisnis dengan modal penggalan yang asosiasinya menjadi lucu. Namun, akhirnya hanya Randy yang mantap menjalankan bisnis kaus kreatif bermerek Yajugaya.

Kaus menjadi kanvas karya seni karena dianggap lebih mudah ”berbicara” untuk mewakili suasana hati pemakainya. Apalagi, Randy mengaku sebagai orang kaus sejati. ”Kemana-mana lebih suka pakai kaus,’’ ujar Juventus tersebut.

Randy tak kesulitan mencari modal material. Dia hanya mengandalkan kreativitas dan passion untuk membuka usaha. Sebagian tabungan sebagai dosen seni peran di sebuah kampus perfilman digunakan investasi awal.

Lambat laun, ketika bisnisnya mendapatkan respons positif dari pasar, alumnus Sastra Belanda Universitas Indonesia itu memberanikan diri untuk melepas pekerjaan sebagai dosen seni peran dan total menjadi seorang entrepreneur.

Bagi dia, Yajugaya adalah panggung untuk mementaskan kreativitas dan semangat berkesenian. ”Tepuk tangan” dari penikmat seni tetap didapatkan lewat penjualan Yajugaya.

”Bohong kalau orang panggung tidak mencari tepuk tangan. Bagiku, apresiasi dari masyarakat adalah tepuk tangan yang memang tidak aku dengar, tetapi tetap sampai padaku,’’ tuturnya. (dee/c21/noe)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia